alexa

BSSN Selidiki Dugaan Penyusupan Hacker di Sistem Jaringan BIN dan Kementerian Indonesia

Jakarta, Gizmologi – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) telah bergerak untuk memantau serangan siber yang terjadi di Indonesia. Khususnya dugaan penyusupan hacker China di sistem jaringan internal milik 10 kementerian dan lembaga negara.

Juru Bicara BSSN Anton Setiawan mengatakan, pihaknya telah melakukan pemantauan. Termasuk juga berkomunikasi dengan seluruh kementerian dan lembaga pemerintah terkait keamanan siber.

“Langkah utama yang kami lakukan adalah memberikan peringatan dan imbauan keamanan kepada kementerian dan instansi pemerintah lainnya,” kata Anton dalam pesan singkatnya, pada Senin (13/9).

Tak hanya BSSN, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga ikut memantau dugaan peretasan hacker China. “Sedang kami cek,” kata Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi.

Baca Juga: 10 Lembaga Setingkat Kementerian Disusupi Hacker, Pengamat Siber: Segera Lakukan Security Assessment

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan laporan dari Insikt Group, sebuah divisi riset ancaman dari Record Future, menyebutkan adanya dugaan penyusupan hacker pada sistem jaringan internal 10 kementerian dan lembaga negara di Indonesia. Pelakunya dikatakan merupakan kelompok hacker bernama Mustang Panda.

Gilanya, salah satu sistem jaringan internal lembaga negara yang disebut-sebut telah disusupi adalah milik Badan Intelijen Negara (BIN). Selain BIN, para peneliti tidak mengungkap kementerian atau lembaga lain yang menjadi target aktivitas ini.

Dikutip dari situs The Record, Minggu (12/9), aksi penyusupan ini diperkirakan dilakukan oleh Mustang Panda. Untuk diketahui, Mustang Panda merupakan kelompok peretas asal Tiongkok yang dikenal kerap melakukan aksi mata-mata siber dan memiliki target operasi di wilayah Asia Tenggara.

The Record mengaitkan spionase siber ini dengan kebijakan luar negeri China yaitu Belt and Road Initiative. Ini adalah langkah kerja sama ekonomi global China yang banyak dicurigai sebagai taktik Kuda Troya. Negara yang diajak dalam kerja sama Belt and Road Initiative ini menurut The Record menjadi target untuk spionase siber.

Tinggalkan komen