Bagi sebagian pelanggan, Wi-Fi di kafe mungkin awalnya hanya dianggap sebagai fasilitas tambahan. Namun, perubahan perilaku konsumen membuat konektivitas semakin dekat dengan pengalaman utama ketika seseorang memilih tempat untuk nongkrong, bekerja, atau sekadar menikmati kopi.
Perubahan tersebut mulai menjadi perhatian pelaku bisnis di Sumatera Utara. Di tengah pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut yang mencapai 4,98% secara tahunan pada kuartal I 2026, Telkom melihat pelaku usaha, khususnya sektor coffee shop dan kuliner, membutuhkan fondasi digital yang lebih kuat untuk menjaga daya saing.
Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah WiFi Managed Service (WMS) dari Indibiz. Layanan ini tidak hanya ditujukan untuk menyediakan koneksi internet, tetapi juga dapat dimanfaatkan bisnis untuk membangun branding dan berinteraksi dengan pelanggan ketika mereka terhubung ke jaringan Wi-Fi.
Wi-Fi Mulai Bergeser dari Fasilitas Menjadi Pengalaman

Perubahan cara pelanggan menggunakan kafe membuat kebutuhan konektivitas ikut berubah. Kafe kini menjadi tempat untuk bekerja, melakukan pertemuan, mengakses media sosial, membuat konten, hingga menghabiskan waktu bersama teman.
Karena itu, koneksi internet yang stabil dapat menjadi bagian dari alasan pelanggan merasa nyaman berada di sebuah tempat. Erika Yolanda, SM Digital Connectivity Wireless Product PT Telkom Indonesia, mengatakan perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan konsumen yang datang ke kafe bukan semata-mata untuk membeli kopi.
“Sekarang tren sudah berubah, orang ke kafe itu bukan cuma beli kopi, tapi juga membeli kenyamanan, konektivitas, suasana, trennya begitu. Jadi bagi mereka yang belum menggunakan, dengan perubahan tren seperti itu, kebutuhan internet itu bukan cuma jadi fasilitas pendukung, justru jadi fasilitas utama,” jelas Erika dalam acara Telkom Business Circle di Telkom Regional 1 Medan (31/7/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan digital bisnis kafe tidak berhenti pada pertanyaan seberapa cepat koneksi internet yang tersedia. Pengelola juga perlu mempertimbangkan bagaimana konektivitas tersebut dapat mendukung pengalaman pelanggan sekaligus kebutuhan bisnis.
WiFi Bisa Jadi Kanal Branding Saat Pelanggan Login

Di sinilah pendekatan WiFi Managed Service menjadi lebih menarik dibanding sekadar menyediakan akses internet. Menurut Erika, WMS dari Indibiz dapat digunakan untuk menampilkan logo dan informasi promosi bisnis melalui landing page ketika pelanggan melakukan login ke jaringan Wi-Fi. Dengan begitu, proses mengakses internet sekaligus menjadi titik interaksi antara bisnis dan pelanggan.
Bagi pemilik kafe atau restoran, fungsi tersebut dapat digunakan untuk memperkenalkan promosi, menu, maupun informasi lain kepada pelanggan tanpa harus mengandalkan kanal komunikasi terpisah. WMS juga menyediakan dashboard yang mencatat data pelanggan yang terhubung. Menurut Telkom, informasi tersebut dapat membantu pemilik usaha memberikan penawaran yang lebih tepat sasaran.
Dengan pendekatan tersebut, Wi-Fi tidak lagi hanya diposisikan sebagai infrastruktur jaringan. Konektivitas menjadi salah satu kanal digital yang berada langsung di titik interaksi dengan konsumen. Namun, manfaat tersebut juga bergantung pada bagaimana pemilik usaha mengelola data dan komunikasi kepada pelanggan. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin penting pula bagi bisnis untuk memastikan pengguna memahami informasi apa yang diberikan dan bagaimana data tersebut digunakan.
Telkom Business Circle Jadi Forum Pelaku Usaha Daerah

Pembahasan mengenai kebutuhan digital bisnis lokal tersebut berlangsung dalam Telkom Business Circle, forum yang dirancang Telkom sebagai ruang diskusi dan kolaborasi bagi pelaku usaha lintas industri di daerah. Acara di Medan tersebut menjadi wadah bagi pelaku bisnis untuk berbagi pengalaman mengenai tantangan transformasi digital sekaligus mengenal berbagai solusi digital business-to-business (B2B) dari Telkom.
General Manager Witel Sumut Agung Tri Cahyono menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari komitmen Telkom Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui pendekatan teknologi yang adaptif. Sementara itu, EVP Telkom Regional I Dwi Pratomo Juniarto atau Tomy menekankan bahwa Telkom Business Circle dirancang untuk membangun kolaborasi yang lebih erat dengan pelaku usaha daerah.
“Telkom senantiasa berkomitmen untuk memberikan kemudahan bagi pelaku bisnis dengan menghadirkan solusi digital yang relevan dengan berbagai kebutuhan bisnis. Harapannya dengan adaptasi digital bagi pelaku bisnis, geliat ekonomi di daerah semakin maju untuk menopang ekonomi nasional,” jelas Tomy.
Pertumbuhan Ekonomi Sumut Jadi Konteks Digitalisasi Bisnis
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara yang dikutip Telkom, ekonomi Sumatera Utara tumbuh 4,98% YoY pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi konteks bagi Telkom untuk mendorong adopsi teknologi di kalangan pelaku usaha daerah.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh pelaku usaha telah memiliki kesiapan digital yang sama. Kebutuhan setiap bisnis juga berbeda, mulai dari konektivitas dasar hingga pemanfaatan data dan layanan digital untuk meningkatkan efisiensi maupun pengalaman pelanggan.
Bagi bisnis kafe dan kuliner, contoh WMS menunjukkan bagaimana infrastruktur yang sebelumnya dianggap sebagai fasilitas pendukung dapat memiliki fungsi yang lebih luas. Koneksi Wi-Fi dapat menjadi bagian dari customer experience. Landing page dapat menjadi kanal branding. Sementara dashboard pelanggan dapat digunakan sebagai dasar untuk membangun komunikasi dan penawaran yang lebih relevan.
Dengan demikian, digitalisasi bisnis daerah tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Pada bisnis yang berhadapan langsung dengan konsumen, infrastruktur sederhana seperti Wi-Fi pun dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi digital ketika terhubung dengan kebutuhan operasional, branding, dan pengalaman pelanggan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

