Diskusi Virtual DANA Connect Dorong Perajin Batik Go Digital

Jakarta, Gizmologi – Sejak masa awal pandemi hadir di Indonesia awal tahun lalu, beragam jenis industri usaha merasakan dampaknya secara langsung. Beberapa jenis yang bisa beradaptasi secara digital mampu terus bertahan, sementara lainnya terpaksa harus gulung tikar atau setidaknya mengalami penurunan baik penjualan dan pendapatan.

Salah satu yang terdampak adalah industri pakaian, atau lebih spesifik yaitu industri batik yang kini sudah menjadi warisan budaya oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009 silam. Adanya arus globalisasi tak jadikan batik semakin tenggelam, malah justru semakin erat dengan gaya hidup sehari-hari masyarakat modern.

Ketika banyaknya sentra batik bermunculan dan berikan kontribusi cukup besar untuk perekonomian, adanya pandemi langsung hadir menjadi tantangan tersendiri. Dalam sebuah sesi diskusi virtual DANA Connect (8/10), DANA mengundang beberapa narasumber untuk berdiskusi terkait bagaimana akselerasi digital dapat menunjang kemajuan batik dan industri budaya Tanah Air. Menjadi metode DANA untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya Nusantara.

Baca juga: Survei YouGov: Jumlah Pengguna DANA Tumbuh Hingga 40%

Perlu Kemampuan Adaptasi Agar Bertahan Selama Pandemi

Acara virtual DANA Connect

Menurut pengakuan dari asosiasi perajin batik, memang tidak ada data empiris terkait penurunan penjualan. Namun dampak pandemi sangat dirasakan oleh perajin batik yang tidak didukung oleh permodalan yang kuat. Serta kurangnya inovasi dan bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan dinamika yang terjadi. Pemerintah pun tetap anggap industri kerajinan dan batik berpotensi besar.

Data dari Kementerian Perindustrian mengatakan bila batik punya kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, telah menyerap lebih dari 200 ribu tenaga kerja. Vince Iswara, CEO & co-founder DANA mengatakan, “hadirnya ekosistem digital diharapkan dapat memberikan dukungan bagi perajin batik dan usaha berbasis budaya lainnya, agar mampu bertahan dan menjadi bagian dari pelestarian budaya Indonesia.”

Dalam sesi diskusi virtual tersebut, Vince mengatakan bila saat ini DANA Bisnis telah dimanfaatkan oleh lebih dari 330 ribu UMKM, di mana jumlah tersebut termasuk mereka yang bergerak dalam industry kriya dan tekstil. Pihaknya juga berupaya untuk tingkatkan kompetensi pelaku industri berbasis budaya, salah satunya dengan berikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.

Berikan Produk Relevan Seiring dengan Perubahan Gaya Hidup

DANA Biller Subscription

Acara DANA Connect sendiri bermaksud untuk hubungkan para pemangku kepentingan termasuk pemerintah dalam sebuah forum diskusi. Turut dihadirkan Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Perekonomian, Pembangunan & Investasi yaitu dr. Letizia M.Kes serta Presiden Direktur PT Mustika Ratu, IR. Bingar Egidius Situmorang dalam wadah diskusi.

Menurut Bingar, tantangan yang dihadapi industri berbasis budaya adalah perubahan gaya hidup, khususnya dengan kalangan milenial sehingga perusahaan harus agile. “Kita harus bisa menyesuaikan agar produk atau brand kita tetap relevan sebagai brand yang distinct, yang unik dan menjadi solusi bagi kehidupan mereka.”

Sebagai salah satu industri yang juga memiliki banyak toko luring, Mustika Ratu sendiri juga turut berkolaborasi dengan beragam pihak, manfaatkan kanal distribusi seperti e-commerce dan metode pembayaran digital seperti DANA. Dorongan untuk apresiasi budaya lokal juga disampaikan langsung oleh Puteri Ayu Saraswati, Puteri Indonesia Lingkungan 2020 dalam sesi virtual DANA Connect.

Tinggalkan komen