Jakarta, Gizmologi – Sejak pekan kemarin, film sci-fi keluarga Indonesia “Pelangi di Mars” telah meramaikan layar bioskop, membawa visual yang memberikan impresi futuristik. Menariknya, dalam proses produksi film yang disebut dimulai sejak 2020 tersebut, Upie Guava sebagai sutradara sebutkan bila ekosistem Apple berperan sangat penting, mulai dari sekadar menangkap ide hingga postproduction. Tidak hanya menyoal hardware, namun juga kolaborasi software.
Ya, dibalik tayangnya film tersebut, Upie Guava atau yang memiliki nama asli Luthie Abdullah ini sebutkan bila banyak fitur-fitur teknologi terkini dapat membantu workflow pembuatan film sci-fi tersebut, bersama rumah produksinya yakni Mahakarya Pictures. Ia juga memaparkan bila AI turut berperan, namun dalam batasan tertentu untuk fungsi sederhana saja—tidak sejauh fungsi seperti text-to-video.
Sebagai sutradara film Pelangi di Mars, Upie Guava memanfaatkan sejumlah produk Apple mulai dari iPhone, iPad, sampai Mac Studio. Menariknya, pria berusia 49 tahun ini sudah menggunakan produk Apple sejak lama. Yakni sebuah MacBook White yang sempat ia gunakan untuk menciptakan sebuah visual video musik almarhum Vidi Aldiano.
“Mac pertama saya itu MacBook White. Itu saya ingat banget pakai untuk edit video klip Vidi Aldiano berjudul Gadis Genit. Klipnya itu full CGI, maksudnya setiap shot itu ada tempelan-tempelan efek,” jelasnya dalam sebuah kesempatan yang berlangsung luring di Jakarta (14/3).
Baca juga: Apple Business Hadir Sebagai Solusi Manajemen Bisnis Praktis
Mempermudah Kolaborasi dan Mempercepat Proses Produksi

Bagi Upie Guava, sebuah tools harus mudah dipakai, terutama dalam mendukung proses kerjanya. Dan ia menilai Apple mampu memberikan poin tersebut, lewat kombinasi produk yang memiliki performa tinggi, serta software yang juga ia sebut mudah digunakan. Salah satunya tentu saja Final Cut Pro, yang memang sudah sangat dikenal sebagai editor video komplit nan powerful.
Menurutnya, fitur di dalam Final Cut Pro seperti Magnetic Mask mampu memangkas proses editing secara efektif, menjadi fitur yang paling ia puji. “Magnetic Mask tuh fitur Apple paling useful, paling inovatif, paling canggih di Final Cut Pro. Dia tuh sesimpel klik dan analyze. Cepet banget, udah, dia roto (rotoscoping), no more green screen,” tambahnya.
Bila Final Cut Pro terdengar kompleks, Upie Guava juga memanfaatkan software Apple lainnya yang diterapkan dalam kesehariannya dalam skenario lebih ringan. Sebut saja iCloud, Keynote dan Freeform, digunakan saat harus brainstorming atau menuliskan ide-ide baru selama pengembangan film. Bisa dilakukan di mana saja, baik lewat iPad maupun iPhone.

Kemampuan untuk mengunggah file Keynote ke iCloud dan diakses oleh tim, membuat Upie Guava merasa bila proses kerjanya terasa lebih seamless, terutama ketika semua materi yang ia perlukan dapat diakses antar-perangkat tanpa mengganggu ritme berpikir. Ketika Keynote dengan fitur seperti remove background bermanfaat ketika harus menyusun referensi visual, Freeform menjadi kanvas kosong baginya untuk mengembangkan ide-ide yang kemudian dibagikan ke tim.
Selain itu, aplikasi lain seperti GarageBand hingga Logic Pro juga turut dimanfaatkan oleh Upie Guava untuk menangkap sketsa musik kapan saja. “Saya tuh bikin konsep atau rekam suara di mobil, kadang juga di tempat-tempat umum berbekal iPad dan iPhone saja, tetapi selalu works. Saya percaya proses kreatif harus cepat dan fleksibel,” tambahnya.
Upie Guava: “Saya Tidak Menolak AI, Namun…”

Saat ini, Upie Guava tengah mengandalkan Mac Studio M3 Ultra yang tentunya powerful. Namun begitu, sebagai seseorang lulusan desain produk, Upie Guava menambahkan bila ia memandang alat kerja dari sisi yang lebih dalam. Tidak sekadar spesifikasi angka, namun aspek lain seperti desain produk juga dapat memberikan pengalaman yang berbeda saat digunakan sehari-hari.
“Banyak orang hanya melihat logis, spek, dan angka dalam sebuah perangkat. Tetapi justru menurut saya, product design yang baik sebenarnya bukan soal itu, (tetapi) soal apa yang nggak kelihatan, behavior kita,” jelasnya. Dengan begitu, Upie juga mengaku bila ia lebih cenderung memilih tools yang mudah dipakai, agar aliran ide bisa tetap terbuka.
Terkait pemanfaatan AI, Upie Guava sempat mengatakan bila ia tidak ingin teknologi tersebut mengambil alih seluruh ruang ekspresi manusia. Dalam workflow-nya, ia hanya menggunakan AI untuk fungsi tertentu saja. Termasuk Magnetic Mask hingga pencarian berbasis AI yang mempermudah dirinya dan tim untuk menemukan shot dari potongan dialog maupun nama karakter di dalam Final Cut Pro.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



