alexa

Mengenal Ethereum, Uang Kripto Terbesar Setelah Bitcoin yang Tumbuh Pesat

Jika membahas mata uang kripto, maka tak lepas dari Bitcoin. Karena memang inilah aset kripto terbesar di dunia. Namun sejatinya sangat banyak aset kripto. Kementerian Perdagangan sendiri melalui Bappebti merilis 229 aset kripto yang boleh diperdagangkan di Indonesia. Selain Bitcoin, mata uang kripto terbesar lainnya adalah Ethereum.

Jika penemu Bitcoin sampai sekarang tidak diketahui sosoknya karena Satoshi Nakamoto hanya nama pseudonym belaka, maka Ethereum diketahui sosoknya. Dia adalah Vitalik Buterin, programmer berkebangsaan Rusia-Kanada yang saat mengumumkannya pada 2013 saat masih berusia 19 tahun.

Pengembangan dilakukan melalui crowdfunding pada tahun 2014. Jaringannya mulai beroperasi pada tanggal 30 Juli 2015, dengan 72 juta koin telah disiapkan sebelumnya. Saat ini, Ethereum merupakan perusahaan blockchain paling berkembang dengan fitur kontrak pintar yang memungkinkan developer membangun aplikasi di atasnya.
Baca juga: 9 Tips untuk Pemula Saat Trading Aset Mata Uang Kripto Bitcoin dll

Pertumbuhan Ethereum mencapai 10 kali lipat dalam setahun

blockchain crypto ethereum 123rf Bjorn Beheydt
Ilustrasi aset kripto (Foto: 123rf/Bjorn Beheydt)

Aset kripto dengan kode ETH ini terus mengalami kenaikan harga yang signifikan di awal tahun 2021. Kemarin, (19/1), harganya menembus level tertinggi yaitu Rp20 juta per koin ETH. Meski sekarang turun lagi ke level Rp18,4 juta. Karena memang pergerakan naik turunnya sangat cepat meski kecenderungan tiap saat selalu meningkat.

Pada awal peluncurannya tahun 2015, ETH diperdagangkan di harga kurang dari Rp40 ribu per koin. Mata uang kripto ini terus bergerak dengan pesat. Di awal tahun 2020, dijual dengan harga hanya Rp1,8 juta. Artinya, kenaikan harga melebihi 10 kali lipat dalam satu tahun. Kapitalisasi pasarnya mencapai yang terbesar di dunia setelah Bitcoin, yakni senilai UD$147.901.994.267 atau sekitar Rp2.075 triliun.

Ethereum sendiri banyak diramalkan banyak pihak sejak awal peluncurannya akan menggantikan Bitcoin dan dikenal sebagai Bitcoin 2.0 karena adanya fitur kontrak pintar yang tidak dimiliki blockchain Bitcoin dan fitur ini terus di-upgrade.

Mata uang kripto yang satu ini juga menjadi tempat landasan untuk hampir seluruh aset kripto yang bergerak di decentralized finance (DeFi). Bahkan, versi barunya dipercaya akan menghasilkan lebih banyak pemain DeFi. Karena jaringan Ethereum 2.0 mampu menampung lebih banyak dan efisien. Inilah mengapa ETH 2.0 akan menjadi sejarah penting bagi dunia cryptocurrency, blockchain, dan keuangan digital.

Upgrade Ethereum 2.0 Menjadi Faktor Kunci

Oscar Darmawan, CEO Indodax mengungkapkan kenaikan harga yang signifikan terjadi karena aset kripto tersebut sedang di-upgrade untuk menjadi Ethereum 2.0. Dase evolusi menjadi Ethereum 2.0 sudah dimulai pada akhir Desember 2020 lalu.

“Harga Ethereum meningkat drastis sepuluh kali lipat bersamaan dengan upgrade jaringan blockchain. Ethereum sendiri banyak diramalkan sebagai pengganti Bitcoin pada awal mula peluncurannya karena melengkapi kelemahan jaringan blockchain Bitcoin yang hanya berfungsi sebagai store of value” kata Oscar Darmawan, dalam siaran pers yang diterima Gizmologi (20/1).

Ethereum sendiri memiliki lini bisnis penggunaan platform jaringan yang melahirkan banyak aset kripto. Dalam fase upgrade ini, ETH merombak jaringannya menjadi lebih efisien, murah, dan cepat.

“Kekurangan Ethereum dibandingkan Bitcoin adalah supply atau pasokannya yang tidak terbatas. Bitcoin hanya memiliki pasokan 21 juta saja. Sedangkan ETH tidak terbatas. Namun, dengan evolusi ini ada sejumlah limit yang dikunci karena digunakan untuk penciptaan Ethereum. Jika pasokan berkurang dan permintaannya terus bertambah, maka harga meningkat,” imbuhnya.

Perubahan skema tidak lagi mining tapi staking yang lebih eco-friendly

aset kripto bitcoin ethereumSelain itu, Ethereum juga akan mengubah skemanya. Saat ini, untuk mendapatkan ETH yaitu cara ditambang (mining) atau sama seperti Bitcoin. Nantinya, setelah upgrade menjadi Ethereum 2.0 selesai, didapat tidak lagi dengan cara ditambang tetapi melalui staking atau penjaminan.

Dalam staking hanya membutuhkan laptop biasa dan jaringan internet. Sehingga, untuk mendapatkannya tidak perlu lagi dengan unit komputer yang mahal dan mengeluarkan banyak biaya listrik.  Hal ini membuat ETH ke depannya lebih “green” dan lebih “Ecofriendly” dibandingkan Bitcoin.

Evolusi Ethereum 2.0 sendiri dilakukan secara bertahap. Dalam launching Ethereum 2.0 phase 0 akhir tahun 2020 lalu, sekitar ratusan juta Dollar pasokan telah dikunci. Cara ini dilakukan untuk mengurangi pasokan Ethereum sebagai langkah menstabilkan harganya.

Oscar memprediksi, besar kemungkinan harga ETH bisa terus melambung. Karena proses upgrade ini masih terus dilakukan. Menurutnya, launching Ethereum 2.0 phase 1 juga akan mengurangi limit Ethereum. Ini sesuai yang diramalkan oleh para analis ekonomi dari Amerika Serikat.

Tinggalkan komen