Hati-Hati Tertipu, Ini Modus Fintech Bodong Jerat Investor Pemula

Jasa pinjaman online (pinjol) atau fintech bodong tak ada matinya. Meski sering diberantas, masih saja ada yang muncul kembali. Bahkan Menurut Satgas Waspada Investasi (SWI), sejak tahun 2018 sampai dengan Juli 2021 ini sudah menutup 3.365 Fintech Lending Ilegal.

Kebanyakan fintech ilegal ini beredar secara digital melalui penawaran lewat SMS maupun grup-grup messenger, seperti Telegram dan WhatsApp. Menurut Wakil Ketua Umum I Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Karaniya Dharmasaputra modus penipuan ini telah banyak merugikan masyarakat.

“Pasalnya yang diicar melalui grup-grup chat messenger seperti telegram ini bukan pengusaha atau konglomerat, tapi masyarakat biasa yang terbuai dengan penawaran investasi menguntungkan,” kata Karaniya dalam diskusi daring “Waspada Pencatutan Nama dan Logo Penyelenggara Fintech Resmi di Aplikasi Pesan Instan dan Media Sosial,” Kamis, (15/7/2021).

Baca juga: Awas Pinjol Ilegal, Ini 124 Fintech Lending Resmi yang Berizin OJK

Dijelaskan Karaniya, modus yang dilakukan fintech bodong melalui grup-grup messenger dengan mencatut dan memalsukan logo dari perusahaan asli berdasarkan brand fintech yang telah dikenal masyarakat. Hal tersebut dilakukan guna menambah kepercayaan seolah-olah akun resmi yang telah disediakan pada platform messenger.

“Agar lebih meyakinkan grup-grup itu memiliki jumlah member yang sebagian besarnya diisi oleh bot. Untuk menambah kepercayaan, para pelaku juga memuat dokumen izin yang enggak tahu dapat dari mana atau bikin sendiri ada logo OJK dan regulator, membuat kesan akun resmi,” imbuhnya.

Sementara itu juga sering terjadi permintaan transfer kepada akun rekening yang mengatasnamakan perusahaan namun menggunakannya nama perseorangan. Jika masyarakat menemui hal itu, baiknya juga patut berhati-hati.

Cara Membedakan Fintech Bodong dan Resmi

aftech

Karaniya juga mengatakan tidak mungkin fintech resmi meminta nasabah melakukan transfer ke rekening pribadi. Dia meminta untuk tidak terjebak dalam iming-iming dan mengirimkan uang ke rekening tersebut.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum IV Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Marshall Pribadi di mana fintech resmi tidak akan melakukan penawaran melalui media sosial dan platform pesan singkat (SMS). Lebih sempit lagi dalam konteks grup chat.

“Kalau ada penawaran dari grup chat dari Telegram atau Whatsapp sudah kemungkinan besar fraud, sehingga dimohon ada penawaran dari grup chat cek dulu ke website cekfintech.id,” ungkapnya.

Marshall menambahkan ada juga penawaran investasi yang bisa memasukkan DP terlebih dulu. Namun uang muka ini tidak dikenal untuk perusahaan resmi dan bila ada modus itu kemungkinan besar adalah penipuan.

“Fintech resmi tidak mengenal istilah DP (uang muka). Kalau sudah ada DP untuk investasi itu juga harus patut sangat waspada dan dicek dulu karena kemungkinan besar penipuan,” jelas Marshall.

Tinggalkan komen