Jakarta, Gizmologi – Indosat Ooredoo Hutchison memamerkan uji coba 5G berbasis AI di ajang Mobile World Congress 2026 di Barcelona. Perusahaan mengklaim ini sebagai panggilan 5G berbasis kecerdasan artifisial pertama di Asia Tenggara, hasil kolaborasi dengan Nokia dan NVIDIA.
Dalam demonstrasi tersebut, AI dan network intelligence bekerja langsung di jaringan untuk mengirim instruksi suara, data, dan video lintas negara secara real-time. Indosat menyebut pendekatan ini sebagai AI-RAN, yakni integrasi AI langsung ke infrastruktur radio access network.
Secara narasi, ini bukan sekadar demo teknologi. Indosat ingin menempatkan Indonesia sebagai bagian dari peta inovasi jaringan AI global. Namun seperti biasa, tantangan sesungguhnya baru dimulai ketika teknologi ini keluar dari panggung pameran dan masuk ke implementasi komersial.
Baca Juga: Selangkah Lagi Paramount Akuisisi Warner Bros., Netflix Mundur Karena Ogah Naikan Tawaran
AI-RAN: Lebih Cerdas, Tapi Seberapa Siap?

AI-RAN diklaim mampu menekan latensi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengoptimalkan spektrum. Artinya, jaringan bisa lebih responsif untuk kebutuhan seperti diagnostik kesehatan berbasis AI, pertanian cerdas, hingga pembelajaran jarak jauh yang dipersonalisasi.
Di atas kertas, pendekatan ini menarik. Indosat juga memiliki posisi unik karena berperan sebagai operator, pengelola pusat data, hingga penyedia GPU-as-a-Service. Integrasi jaringan, cloud, dan komputasi AI dalam satu ekosistem bisa mempercepat adopsi layanan digital.
Namun realitas di lapangan berbeda. Indonesia memiliki tantangan infrastruktur dan distribusi jaringan yang kompleks, terutama di wilayah terpencil. Implementasi AI-RAN dalam skala luas akan membutuhkan investasi besar serta kesiapan perangkat dan ekosistem aplikasi.
Talenta Lokal dan Rencana Ekspansi

Indosat berencana membangun empat klaster AI-RAN di Indonesia sebagai langkah menuju operasional nyata. Perusahaan juga mendirikan AI-RAN Research Center di Surabaya bersama Nokia dan NVIDIA untuk memperkuat kapabilitas engineer lokal.
Langkah ini patut diapresiasi, karena transformasi digital tak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan SDM. Program pembelajaran immersive dan kolaborasi global bisa membantu Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga kontributor inovasi.
Meski demikian, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan manfaat riil bagi masyarakat. Demo di Barcelona adalah awal yang menjanjikan. Kini publik menunggu apakah 5G berbasis AI benar-benar bisa terasa dampaknya dari kota besar hingga daerah terpencil.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



