Jakarta, Gizmologi – Kaspersky menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mempercepat kemampuan perusahaan, tetapi juga membuat ancaman siber semakin sulit dipantau. Dalam pembahasan terbarunya mengenai keamanan siber di kawasan Asia Pasifik (APAC), perusahaan menyebut penyerang kini memanfaatkan AI untuk bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi dalam melihat, memahami, dan merespons serangan.
Menurut Kaspersky, tantangan tersebut semakin besar karena batas antara sistem digital dan infrastruktur fisik mulai semakin tipis. Perusahaan mencatat telah mendeteksi dan memblokir sekitar 500 ribu file berbahaya unik setiap hari pada tahun lalu, meningkat 7% dibandingkan 2024. Kaspersky juga menyoroti meningkatnya serangan terhadap sistem teknologi informasi (TI) dan teknologi operasional (OT), termasuk ransomware yang menyasar sektor manufaktur.
Masalahnya bukan hanya jumlah serangan, tetapi juga seberapa lama aktivitas berbahaya dapat bertahan tanpa terdeteksi. Berdasarkan laporan Kaspersky Compromise Assessment, 31% insiden yang dianalisis menunjukkan aktivitas berbahaya telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Bahkan, 52% pelanggaran dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah lebih dari 90 hari.
AI Membantu Penyerang, tetapi Juga Dipakai untuk Bertahan

Kaspersky juga melihat munculnya risiko baru dari penggunaan AI agent. Perusahaan mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agent sepanjang tahun ini. Ketergantungan agent terhadap framework, API, dan plugin pihak ketiga dinilai dapat memperluas permukaan serangan jika salah satu komponen tersebut berhasil dikompromikan.
Di sisi lain, mereka menilai penggunaan AI oleh tim keamanan dapat membantu mempersempit waktu deteksi dan respons. Perusahaan telah mengembangkan teknologi machine learning sejak 2004 menggunakan telemetri global anonim. Pendekatan yang mereka dorong disebut “HuMachine Intelligence”, yaitu menggabungkan kemampuan AI dengan pengalaman dan pengambilan keputusan manusia.
Teknologi Saja Tidak Cukup
Kaspersky menilai organisasi yang sudah memiliki berbagai perangkat keamanan belum tentu memiliki visibilitas yang memadai terhadap seluruh infrastrukturnya. Karena itu, perusahaan menekankan pentingnya Security Operations Center (SOC) yang mampu melakukan pemantauan berkelanjutan, investigasi, serta respons terhadap insiden.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, kabarnya perusahaan asal Rusia tersebut juga menawarkan berbagai solusi seperti KasperskyNext, Kaspersky MDR, Incident Response, dan Compromise Assessment. Platform tersebut mengandalkan AI untuk mengolah data keamanan menjadi informasi yang lebih terstruktur, sementara keputusan dan investigasi tetap melibatkan tenaga ahli.
Namun, sebagian besar angka mengenai ancaman, kemampuan teknologi, dan efektivitas solusi dalam materi ini berasal dari Kaspersky sendiri. Artinya, angka tersebut sebaiknya dilihat sebagai gambaran berdasarkan data dan perspektif perusahaan, bukan sebagai ukuran independen mengenai kondisi keamanan siber seluruh organisasi di APAC. Pada akhirnya, penggunaan AI dalam keamanan siber tetap membutuhkan kombinasi antara teknologi, kesiapan infrastruktur, dan keahlian manusia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

