Studi: Tantangan dan Hoax yang Beredar di TikTok Bisa Menganggu Kesehatan Mental Remaja

California, Gizmologi – Sebagai platform media sosial yang sedang naik daun, TikTok dihadapkan pada penyebaran hoax. Apakah penggunanya yang identik dengan remaja mudah dipengaruhi peredaran hoax yang ada?

Berdasarkan hasil studi yang disusun Dr Zoe Hilton, Direktur dan Pendiri Praesidio Safeguarding, yang diterima Gizmologi, Jumat (19/11/2021), terungkap bahwa remaja pengguna TikTok tidak semudah itu terpengaruh tantangan dan hoax yang beredar di platform ini. Studi ini sendiri melibatkan 12 pakar keselamatan remaja terkemuka untuk meninjau dan memberi saran serta laporan yang ada.

Selain itu, TikTok juga bekerja sama dengan Dr. Richard Graham, seorang Psikiater Klinis Anak yang fokus pada perkembangan remaja yang sehat dan Dr. Gretchen Biron-Meisels, seorang ilmuwan perilaku yang fokus dalam pencegahan risiko pada remaja. Keduanya dilibatkan untuk membimbing dan mmberikan masukan dalam studi yang dilakukan Dr. Zoe Hilton.

Jadi, lewat studi ini terungkap bagaimana remaja pengguna TikTok memandang tantangan dan hoax yang ada di platform ini, di mana sebanyak 54% responden di Indonesia menganggap tantangan baru-baru ini termasuk menyenangkan, 27% merasa tantangan itu berisiko tapi masih aman, 14% menganggap tantangan yang ada itu berbahaya, dan 3% berpikir sangat berisiko. Dari tantangan yang dianggap berisiko tersebut, hanya ada 2% dari responden remaja yang mengaku mengikutinya.

Tips Keamanan Remaja TikTok

Memang seberapa berbahayanya sih peredaran tantangan dan informasi hoax bagi remaja? Ternyata tantangan yang berisi informasi tidak benar atau hoax bisa membahayakan nyawa atau memengaruhi mental remaja hingga memilik tendensi bunuh diri.

Hal ini terungkap bahwa sebanyak 31% responden yang terpapar hoax ini mengalami dampak negatif, di mana 63% dari mereka merasa hal tersebut berdampak pada kesehatan mental.

Meninjau Kembali Kebijakan Keamanan TikTok

Para orangtua dan wali, termasuk guru yang ikut menjadi responden dalam studi Dr. Zoe Hilton  mengaku masih merasa kesulitan untuk membahas mengenai tantangan dan hoax yang berbahaya dengan remaja mereka.

Dari hasil studi, sebanyak 42% responden kalangan orang tua dan wali mengatakan bahwa mereka tidak akan menyebut soal hoax kecuali anak remajanya menyinggung lebih dulu dan 27% juga menunggu ketertarikan dari anak remajanya sebelum mulai membahas soal hoax.

Lalu bagaimana cara para remaja bisa “kebal” terhadap peredaran tantangan dan hoax yang berbahaya di TikTok? Ternyata kebanyakan dari responden melakukan pertimbangan dengan melihat video lainnya terlebih dahulu, membaca komentar-komentar, dan membahasnya dengan teman.

Panduan untuk remaja terkait bagaimana cara menilai potensi risiko dianggap menjadi hal yang penting bagi untuk menjaga mereka tetap aman. Sebanyak 50% dari responden remaja ingin mendapatkan informasi yang memadai mengenai risiko tantangan terlebih dahulu.

ID Infografis - Keamanan Remaja TikTok

Pada akhirnya, hasil laporan studi Dr. Zoe Hilton digunakan TikTok untuk meninjau kembali kebijakan keamanan yang ada. Untuk melindungi pengguna remaja dengan lebih baik, platform ini mulai menghapus peringatan tentang hoax yang membahayakan diri.

TikTok tetap memperbolehkan adanya pembicaraan mengenai hal ini karena dianggap bisa meredam kepanikan dan memberikan informasi yang akurat. Selain itu, pihaknya juga mengembangkan teknologi yang memberikan peringatan kepada tim keamanan jika tiba-tiba terjadi peningkatan koten yang melanggar panduan dan terhubung dengan tagar tertentu.

Teknologi ini dihadirkan untuk menangkap perilaku yang berpotensi berbahaya. Misalnya saja ketika ada hashtag #FoodChallange yang bisa digunakan untuk berbagi resep masakan tiba-tiba mengalami peningkatan konten yang melanggar panduan TikTok di hashtag tersebut, maka tim moderasi akan mencari penyebabnya untuk lebih siap mengambil langkah dalam menghadapi tren atau perilaku berbahaya yang ada.

Sekedar informasi, studi yang dilakukan Dr. Zoe Hilton melibatkan sebanyak 10.000 responden remaja, guru, dan orang tua di Argentina, Australia, Brasil, Jerman, Italia, Meksiko, Inggris, Amerika Serikat, Vietnam, dan Indonesia. Hasil temuan studi ini kemudian dikembangkan melalui diskusi panel bersama 12 pakar keselamatan remaja terkemuka untuk meninjau dan memberi saran serta masukan pada laporan tersebut.

Tinggalkan komen