Jakarta, Gizmologi – Perdebatan soal penggunaan AI generatif di industri game kembali memanas. Di satu sisi, raksasa seperti EA, Ubisoft, dan Xbox terlihat makin terbuka mengadopsi teknologi ini untuk mempercepat produksi dan menekan biaya. Namun di sisi lain, muncul gelombang penolakan dari studio yang ingin menjaga identitas artistik mereka.
Sejumlah pengembang kecil dan indie mulai angkat suara, menyebut AI generatif sebagai ancaman terhadap orisinalitas dan kohesi dunia game. Bagi mereka, proses kreatif bukan sekadar soal efisiensi, tapi juga konsistensi gaya dan sentuhan manusia.
Yang menarik, penolakan ini kini datang dari nama-nama besar, bukan hanya studio kecil. Keputusan ini menandai pergeseran narasi bahwa AI adalah solusi universal bagi masalah produksi game modern.
Baca Juga: Beast of Reincarnation, Game Baru Persembahan dari Game Freak Siap Rilis di 2026!
Larian dan Code Vein 2 Pilih Jalan Manual

Larian Studios, pengembang Baldur’s Gate, mengumumkan tidak akan menggunakan AI generatif untuk concept art maupun aset in-game di proyek Divinity berikutnya. Meski begitu, CEO Larian menegaskan bahwa AI masih punya potensi untuk mengoptimalkan workflow dan mempercepat proses eksperimen, asalkan tidak menggantikan peran kreatif inti.
Sikap serupa datang dari tim Bandai Namco yang mengerjakan Code Vein 2. Produser Keita Iizuka mengatakan mereka menghindari AI demi menjaga kohesi dunia game dan mempertahankan gaya visual yang orisinal. Bagi tim ini, konsistensi estetika lebih penting daripada sekadar mempercepat produksi.
Publisher Turut Mengambil Sikap Keras
Penolakan juga datang dari level publisher. Hooded Horse, yang menaungi judul seperti Manor Lords dan Endless Legend 2, secara resmi melarang penggunaan aset AI dalam kontrak mereka. CEO-nya, Tim Bender, bahkan menuliskan larangan eksplisit terkait AI generatif, menunjukkan betapa seriusnya sikap ini.
Bender juga memperingatkan bahaya penggunaan AI di fase awal pengembangan. Ia menyinggung kasus Clair Obscur: Expedition 33 yang kehilangan gelar Indie Game of the Year setelah terbukti memakai aset AI. Meski AI menjanjikan efisiensi, kasus ini memperlihatkan bahwa dampak reputasi bisa jauh lebih mahal dibanding waktu yang dihemat.
Perpecahan ini menunjukkan bahwa AI generatif bukan lagi isu teknis semata, melainkan persoalan identitas dan kepercayaan di industri game.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



