Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Sempat Penuh, Kominfo: Mesin CEIR Bisa Daftarkan IMEI Kembali

0 1.223

Pekan depan adalah genap satu bulan sejak pihak kementerian Indonesia meresmikan peraturan blokir IMEI untuk smartphone non-resmi. Meski sudah mundur berbulan-bulan lamanya, sayangnya pelaksanaan peraturan tersebut tak luput dari beberapa masalah terutama perihal mesin CEIR (Centralized Equipment Identity Register). Salah satunya berdampak kepada produsen smartphone resmi Tanah Air, di mana produk mereka menjadi tidak terdaftar.

Padahal, tujuan diadakannya program pemblokiran IMEI ini supaya masyarakat membeli smartphone bergaransi resmi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, seperti kasus yang melanda para pembeli flagship gaming ASUS ROG Phone 3. Diduga belum terinput di mesin CEIR, slot SIM 2 di smartphone tersebut tak bisa digunakan untuk semua operator, dan dialami banyak pembelinya.

Baca juga: Sinyal ROG Phone 3 Hilang, Ini Klarifikasi ASUS Indonesia

Kapasitas Mesin CEIR Dikabarkan Telah Mencapai 95%

Ilustrasi IMEI terdaftar mesin CEIR

Sebelumnya, perlu diketahui jika mesin Centralized Equipment Identity Register (CEIR) telah disiapkan untuk menampung 1,2 miliar IMEI smartphone resmi. Sejak beberapa minggu lalu, muncul kabar bila kapasitasnya telah mencapai 95%, alias sudah hampir penuh. Otomatis, proses penginputan nomor IMEI dihentikan lebih dulu, agar mesin CEIR tidak bermasalah.

Namun keputusan tersebut menyebabkan sejumlah masalah. Salah satunya menyerang pengguna ASUS ROG Phone 3, di mana pihak ASUS terpaksa menambahkan masa waktu garansi hingga total 18 bulan. Penambahan durasi tersebut diharap dapat ‘mengganti’ waktu smartphone tersebut belum bisa digunakan sinyal SIM 2-nya.

Tak hanya IMEI smartphone terbaru ASUS saja, kapasitas mesin CEIR yang penuh juga membuat beberapa brand lain terancam tidak bisa melakukan penjualan produk terbarunya. Namun pada hari Sabtu (10/10) kemarin, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bila permasalahan tersebut bakal diatasi segera dalam waktu maksimal dua hari. Dengan begitu, setidaknya masalah ini akan selesai awal minggu ini.

Dikutip dari DetikINET, bukan dengan menambah kapasitas, pemerintah saat ini sedang melakukan proses cleansing atau pembersihan di mesin CEIR. Informasi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufik Bawazier. Cleansing yang dimaksud adalah membersihkan IMEI perangkat HKT (handphone & komputer tablet) yang tidak lagi aktif.

Pihak resminya tak menjelaskan secara detil, acuan dari perangkat yang tidak aktif seperti apa. Kemudian, muncul informasi yang cukup melegakan pada 11 Oktober kemarin. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bila sistem mesin CEIR sudah dapat diisi kembali oleh IMEI smartphone baru, sembari menunggu daftar dari Kemenperin.

Melalui sebuah pesan singkat yang diterima Antara, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo, Ismail mengatakan, “sistem CEIR sudah bisa memasukkan IMEI baru. Kami menunggu daftarnya dari Kemenperin yang sekarang sudah meneliti jumlah IMEI yang benar-benar akan direalisasikan di pasar.”

Produsen Smartphone Resmi Mengkhawatirkan Situasi Saat Ini

Belum jelas apakah pada akhirnya kapasitas mesin CEIR juga sudah ditambah atau hanya sekadar pembersihan. Diharapkan kembali berfungsinya mesin CEIR untuk menginput nomor IMEI dapat menjadi angin segar bagi beberapa produsen smartphone yang sempat khawatir terkena dampak, termasuk OPPO, Mito dan Advan.

“Saya kira kejadian tersebut tidak hanya dialami oleh MITO, saya dengan kawan-kawan brand nasional lainnya mengalami problem yang sama,” kata Hansen, CEO Mito Mobile yang kami kutip dari Republika. “Jangan biarkan kami masuk ke jurang resesi lebih cepat. Jadi kami sangat berharap sekali pihak terkait untuk secepatnya mengatasi persoalan ini.”

PR Manager OPPO Indonesia, Aryo Meidianto juga mengkhawatirkan hal yang serupa. Mengutip dari DetikINET, ia menyampaikan, “Jika ponsel tidak dapat sinyal, pemilik atau pegawai toko otomatis tidak bisa menjual barang. Kalau barang tidak terjual, otomatis pabrik pun tidak bisa memproduksi. Kalau toko tidak bisa menjual ponsel dan pabrik tidak memproduksi, tentu akan besar dampak pada kelangsungan bisnis, apa lagi di masa pandemi seperti ini.”