Tiga mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) memperkenalkan proyek riset segmentasi polip, komputasi paralel, dan deteksi hama dalam RTX AI PC Day di Karawaci, Tangerang, Rabu (14/10/2026). Melalui kegiatan ini, NVIDIA bersama UPH dan mitra perangkat mendorong mahasiswa mengembangkan solusi berbasis AI dengan dukungan komputasi pada laptop.
Proyek tersebut memperlihatkan penggunaan GPU di luar gaming, mulai dari melatih model AI hingga menjalankan perhitungan untuk riset. Dukungan perangkat diberikan melalui program GeForce Campus Leaders yang melibatkan NVIDIA dan Acer.
Baca Juga: Integrasi Jaringan XLSMART Capai 96 Persen, Apa yang Tersisa?
“Transformasi dari AI user menjadi AI builder perlu dimulai dari kampus,” ujar Adrian Lesmono, Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, dalam acara Nvidia RTX AI PC Day di Universitas Pelita Harapan.
Adrian menyebut kolaborasi dengan UPH bertujuan mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu agar mampu membangun solusi.
“Dengan dukungan teknologi NVIDIA RTX AI PC, mahasiswa dapat mengeksplorasi ide, memperkuat riset, dan mengembangkan solusi yang relevan bagi kebutuhan industri dan masyarakat.”
Riset Polip hingga Deteksi Hama Pakai Laptop NVIDIA
Mahasiswa pertama yang memaparkan hasil risetnya adalah Richie Cedrick Adrian. Memanfaatkan Predator Helios 18 AI GeForce RTX 5090, Richie mengandalkan GPU di laptop ini untuk riset segmentasi polip. “Dalam riset ini, kami bukan menciptakan model AI baru, tetapi mencari cara untuk meningkatkan performa model AI yang sudah ada,” ujar Ritchie.

Ia memaparkan, “data publik tentang pendeteksian polip sangat terbatas. Model AI terbaru juga membutuhkan komputasi yang berat, sehingga memerlukan komputer dengan kemampuan yang cukup tinggi.”
Berbekal laptop ini, Ritchie merasa proses pelatihan dan pengujian model sangat terbantu, sehingga dirinya dapat menjalankan eksperimen serta mengevaluasi metode yang dikembangkan.
Modul kami bertugas mengekstraksi bayangan, kemudian mengubah bayangan itu menjadi informasi yang bisa digunakan model untuk meningkatkan keputusan. Jadi, model yang sudah ada bisa lebih akurat ketika menandai lokasi polip pada gambar,” jelas Ritchie.
Sementara itu, Annabel Kineta Jovinne Caron, mahasiswi Informatika, menggunakan Predator Helios Neo 16 AI dengan GeForce RTX 5070 Laptop GPU. Proyek Annabel mencakup komputasi paralel dan algoritma graf berbasis CUDA, termasuk pengujian komputasi paralel serta perhitungan matriks berskala besar.
Bryan Daniel Angelino dari program studi Sistem Informasi mengembangkan SIPETIK, sistem deteksi hama berbasis YOLOv8. Ia menggunakan Predator Triton 14 AI dengan GeForce RTX 5070 Laptop GPU untuk mendukung pelatihan model dan proses inference, yakni saat model mengolah masukan untuk menghasilkan deteksi.
Menurut keterangan penyelenggara, proyek SIPETIK diarahkan untuk mendukung deteksi hama secara real-time. Namun, bahan tersebut belum memuat hasil uji lapangan, tingkat akurasi, maupun kecepatan deteksi terukur.
Ketiga proyek menunjukkan kebutuhan komputasi yang berbeda. GPU digunakan untuk mendukung eksperimen model AI, pemrosesan paralel, dan pengembangan sistem deteksi, dengan hasil yang tetap perlu diuji sesuai bidang masing-masing.
AI Tetap Butuhkan Pemahaman dan Metode Riset
UPH menempatkan penguasaan materi sebagai bagian penting dalam penggunaan AI. Perangkat komputasi dapat membantu mempercepat eksperimen, tetapi kualitas penelitian tetap bergantung pada pemahaman mahasiswa terhadap teori dan metode yang digunakan.

“Bagi kami, AI bukanlah jalan pintas, melainkan teknologi yang dapat memperkuat kompetensi, pemahaman teori, dan keahlian yang telah dimiliki seseorang,” ujar Rizaldi Sistiabudi, Executive Dean of College of Emerging Science UPH, dalam acara sama.
Rizaldi mengatakan dukungan teknologi dapat membantu mahasiswa mempercepat riset dan mengembangkan ide menuju kualitas yang mendekati standar industri. Kolaborasi kampus dan industri juga diarahkan agar mahasiswa memahami penerapan AI lintas disiplin.
Pesan tersebut memberi konteks pada target NVIDIA untuk mendorong mahasiswa menjadi AI builder. Dalam materi kegiatan, Adrian menekankan bahwa pengembangan solusi perlu dimulai dengan mengenali masalah yang hendak diselesaikan, kemudian memilih model, pendekatan, dan perangkat yang sesuai.
Dukungan Laptop untuk Pengembangan Proyek

Melalui GeForce Campus Leaders di UPH, mahasiswa terpilih menerima dukungan satu unit laptop Acer dengan GeForce RTX 50 Series Laptop GPU untuk melanjutkan pengembangan proyek.
“Acer percaya bahwa penguasaan AI perlu dibangun melalui pengalaman langsung dalam bereksperimen, mencipta, dan memecahkan masalah,” ujar Fransisca Maya, Head of Marketing Acer Indonesia.
NVIDIA menyebut Tensor Cores pada GPU GeForce RTX dapat mempercepat beban kerja AI. Pemrosesan secara lokal memungkinkan pekerjaan AI tertentu berjalan langsung di perangkat, meski kapasitas model dan jenis pekerjaan tetap bergantung pada kemampuan perangkat keras.
Untuk ketiga proyek mahasiswa, informasi lanjutan yang akan memperjelas manfaat teknologi ini adalah hasil pengujian: akurasi segmentasi polip, hasil benchmark komputasi paralel, serta kemampuan SIPETIK mengenali hama di kondisi lapangan. Data tersebut belum dicantumkan dalam bahan resmi kegiatan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

