OpenAI mengungkap insiden baru melibatkan agen AI di lingkungan riset internal perusahaan, di mana 53 gambar milik pengguna ChatGPT sempat terkirim ke layanan hosting gambar pihak ketiga tanpa sepengetahuan tim OpenAI.
Kasus ini terungkap saat raksasa kecerdasan buatan (AI) tersebut melakukan investigasi lanjutan pasca kasus serupa yang melibatkan Hugging Face pada Juli 2026.
Perusahaan mengungkap telah mengidentifikasi 53 kasus melibatkan gambar pengguna ChatGTP tersebut, dan hingga kini masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk memahami penyebab serta dampaknya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Sabtu (26/9/2026).
Raksasa itu juga menyebut AI agent di lingkungan riset mengirim data training dan evaluasi ke layanan pihak ketiga, padahal seharusnya data tersebut tidak dibagikan ke luar sistem.
Gambar-gambar terdampak berasal dari akun pengguna sebelumnya mengizinkan datanya dipakai untuk peningkatan model, di mana data tersebut sudah dilepaskan dari identitas akun dan melewati filter privasi sebelum dikirim, namun tetap berakhir di situs hosting publik sebagai tautan yang tidak terdaftar secara publik.
Meski tidak terdaftar, tautan tersebut tetap bisa ditemukan siapa pun yang mengaksesnya. Perusahaan menyebut praktik ini sebagai penggunaan data tidak pantas, dan menyatakan insiden terjadi sebelum perusahaan menerapkan sejumlah pengamanan tambahan.
Temuan OpenAI yang Diungkap?

Selain kebocoran gambar, investigasi lanjutan perusahaan juga menemukan sejumlah kasus lain, termasuk kredensial yang terekspos publik, pelanggaran kontrol akses, upaya berinteraksi dengan sistem internal, dan agent yang memposting materi ke situs pihak ketiga.
Salah satu temuan yang jadi sorotan adalah akses AI agent ke sejumlah situs pemerintah Amerika Serikat, termasuk situs Securities and Exchange Commission (SEC) dan Departemen Perdagangan AS — termasuk data sensus.
OpenAI juga telah memberi tahu puluhan organisasi pihak ketiga yang situs atau layanannya berpotensi terdampak, dan berjanji akan terus membagikan temuan setiap kali sebuah kasus terverifikasi.
Bagaimana Respons OpenAI?

Pada 16 September 2026, sekitar sepuluh hari sebelum pengungkapan ini, OpenAI baru saja meluncurkan kerangka kerja transparansi baru untuk insiden semacam ini, dan berjanji mengutamakan keterbukaan meski signifikansi sebuah kasus belum sepenuhnya jelas.
Namun sejumlah laporan mencatat bahwa detail investigasi masih banyak dikontrol tim hukum perusahaan, dan beberapa insiden justru pertama kali terungkap oleh peneliti eksternal, bukan dari OpenAI sendiri.
Investigasi soal 53 gambar ini disebut masih berlangsung dan berpotensi membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum keseluruhan rangkaian kejadian dapat dipahami secara menyeluruh.
OpenAI Dorong AS Pimpin Standar AI Global

Lebih lanjut, menyerukan agar Amerika Serikat (AS) untuk memimpin upaya internasional dalam menyusun standar AI global, termasuk skenario recursive self-improvement (RSI).
RSI sendiri adalah kondisi saat model AI mampu mengembangkan dirinya sendiri secara otomatis. Usulan standar AI global ini disampaikan lewat blog post resmi perusahaan pada Senin, 21 September 2026, tepat menjelang sesi tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Rencananya, CEO OpenAI Sam Altman akan memberi pengarahan kepada 15 negara anggota Dewa Keamanan PBB minggu ini, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (22/9/2026).
Perusahaan menilai, standar bersama diperlukan untuk mengukur kemampuan model, menilai risiko, dan menetapkan protokol pelaporan insiden AI secara konsisten lintas negara.
Namun OpenAI menegaskan, standar tersebut tidak dimaksudkan sebagai mekanisme lisensi atau persetujuan wajib sebelum model AI dirilis ke publik.
Standar AI Global Bukan Sekadar Soal Teknologi

Perdebatan mengenai standar AI global sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Di baliknya terdapat pertanyaan lebih besar: siapa yang akan menentukan aturan dasar bagi teknologi semakin memengaruhi ekonomi, pendidikan, industri, hingga keamanan nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat dan China sama-sama berupaya memperluas pengaruh mereka dalam pengembangan dan tata kelola AI. Karena itu, usulan OpenAI agar AS memimpin pengembangan standar AI dunia global berpotensi menjadi bagian dari kompetisi lebih luas di bidang teknologi.
Jika standar tertentu diadopsi secara luas oleh banyak negara, maka perusahaan dan pengembang AI di berbagai wilayah kemungkinan perlu menyesuaikan produk mereka dengan kerangka tersebut.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

