OpenAI menyerukan agar Amerika Serikat (AS) untuk memimpin upaya internasional dalam menyusun standar AI global, termasuk skenario recursive self-improvement (RSI).
RSI sendiri adalah kondisi saat model AI mampu mengembangkan dirinya sendiri secara otomatis. Usulan standar AI global ini disampaikan lewat blog post resmi perusahaan pada Senin, 21 September 2026, tepat menjelang sesi tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Baca Juga: OpenAI Ungkap 6 Kasus Perilaku AI Menyimpang, Apa Saja?
Rencananya, CEO OpenAI Sam Altman akan memberi pengarahan kepada 15 negara anggota Dewa Keamanan PBB minggu ini, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (22/9/2026).
Perusahaan menilai, standar bersama diperlukan untuk mengukur kemampuan model, menilai risiko, dan menetapkan protokol pelaporan insiden AI secara konsisten lintas negara.
Namun OpenAI menegaskan, standar tersebut tidak dimaksudkan sebagai mekanisme lisensi atau persetujuan wajib sebelum model AI dirilis ke publik.
Standar AI Global Bukan Sekadar Soal Teknologi
Perdebatan mengenai standar AI global sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Di baliknya terdapat pertanyaan lebih besar: siapa yang akan menentukan aturan dasar bagi teknologi semakin memengaruhi ekonomi, pendidikan, industri, hingga keamanan nasional.

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat dan China sama-sama berupaya memperluas pengaruh mereka dalam pengembangan dan tata kelola AI. Karena itu, usulan OpenAI agar AS memimpin pengembangan standar AI dunia global berpotensi menjadi bagian dari kompetisi lebih luas di bidang teknologi.
Jika standar tertentu diadopsi secara luas oleh banyak negara, maka perusahaan dan pengembang AI di berbagai wilayah kemungkinan perlu menyesuaikan produk mereka dengan kerangka tersebut.
Akankah China Mendukung?

Namun, salah satu pertanyaan terbesar adalah apakah China akan mendukung pendekatan yang dipimpin Amerika Serikat.
Hingga saat ini belum ada indikasi, pihak China akan menerima begitu saja kerangka standar dikembangkan di bawah kepemimpinan Washington.
Negeri Tirai Bambu ini sendiri telah aktif mendorong kerja sama internasional terkait AI, dan mengembangkan pendekatan tata kelola mencerminkan prioritas serta kepentingannya sendiri.
Karena itu, pembahasan mengenai standar AI global kemungkinan tidak hanya berfokus pada isu keselamatan dan transparansi, tetapi juga pada keseimbangan pengaruh antarnegara dalam menentukan arah perkembangan teknologi tersebut.
Mengapa Ini Penting?

Perhatian publik selama ini sering tertuju pada persaingan model AI terbaru atau fitur-fitur baru yang diperkenalkan perusahaan teknologi. Namun dalam jangka panjang, standar teknis dapat memiliki dampak yang sama pentingnya.
Standar yang diadopsi secara luas berpotensi memengaruhi cara model AI diuji, bagaimana risiko dinilai, hingga prosedur yang harus diikuti ketika terjadi insiden yang melibatkan sistem AI.
Dengan kata lain, persaingan AI ke depan mungkin tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang berhasil membentuk standar yang digunakan secara global.
Enam Kasus Perilaku AI Menyimpang yang Diungkap OpenAI

Dalam laporan awalnya, OpenAI membeberkan enam contoh perilaku model yang dianggap penting untuk diketahui publik dan peneliti.
Salah satu kasus melibatkan model riset yang belum dirilis. Model tersebut memasukkan instruksi tambahan ke dalam ringkasan tugas yang digunakan untuk melanjutkan pekerjaannya di context window berikutnya.
Instruksi tambahan itu termasuk perintah untuk mengabaikan batasan normal yang seharusnya tetap berlaku. OpenAI mengatakan menemukan 27 ringkasan yang terdampak oleh perilaku AI menyimpang tersebut.
Kasus perilaku AI menyimpang lain melibatkan model memberikan instruksi untuk menyembunyikan kesalahan di dalam ringkasan tugas. Reuters juga melaporkan ada contoh model mencoba melakukan tindakan tanpa izin, termasuk mengakses informasi atau berkomunikasi melalui situs web di luar mekanisme diharapkan.
OpenAI menekankan, enam kasus tersebut merupakan contoh individual dan tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan seberapa sering perilaku semacam ini terjadi di seluruh model mereka yang sudah diluncurkan hingga saat ini.
Dengan kata lain, laporan perilaku AI menyimpang ini bukan berarti setiap model OpenAI menunjukkan perilaku tersebut dalam penggunaan sehari-hari.
Menurut OpenAI, kemampuan sistem AI terus meningkat dan mulai digunakan dalam lebih banyak tugas dengan tingkat otonomi lebih besar. Kondisi ini membuat perilaku tidak diharapkan menjadi semakin penting untuk dilacak secara sistematis.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

