Jakarta, Gizmologi – Pasar smartphone Eropa menutup kuartal terakhir 2025 dengan catatan positif. Laporan terbaru dari Counterpoint Research menunjukkan pengiriman perangkat naik sekitar 2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini memang tidak besar, tetapi cukup menarik mengingat kondisi ekonomi global yang masih penuh tekanan.
Di tengah pertumbuhan tipis tersebut, Apple berhasil mempertahankan posisi teratas dengan pangsa pasar sekitar 33%. Permintaan tinggi terhadap lini iPhone 17 disebut menjadi faktor utama, terutama di wilayah Eropa Timur yang menunjukkan peningkatan minat signifikan terhadap perangkat premium.
Meski demikian, laporan yang sama juga memberi sinyal bahwa kondisi pasar bisa berubah pada 2026. Krisis komponen memori yang masih berlangsung diprediksi akan menekan permintaan, terutama di segmen entry-level yang sensitif terhadap harga.
Baca Juga: Smartphone Lipat motorola razr 60 Hadir Resmi 25 Februari, Harga Rp11 Juta!
Persaingan Ketat, Samsung dan Xiaomi Tetap Jadi Penantang

Di posisi kedua, Samsung mencatat pangsa pasar 29% dengan pertumbuhan pengiriman sekitar 4% secara tahunan. Performa ini menunjukkan bahwa strategi portofolio yang luas, mulai dari entry-level hingga flagship, masih efektif menjaga posisi perusahaan di kawasan tersebut.
Sementara itu, Xiaomi berada di peringkat ketiga dengan pangsa pasar sekitar 16%. Namun berbeda dari Apple dan Samsung, perusahaan asal China ini justru mengalami penurunan pengiriman sekitar 6%. Permintaan yang kurang kuat terhadap lini Xiaomi 15T disebut menjadi salah satu penyebab utama penurunan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persaingan di Eropa semakin kompleks. Produk dengan harga agresif saja tidak lagi cukup tanpa diferensiasi fitur yang jelas, terutama ketika konsumen mulai menahan pengeluaran.
Honor Tumbuh Pesat, Realme Justru Tertekan

Di luar tiga besar, Honor mencatat pertumbuhan paling impresif dengan kenaikan pengiriman sekitar 18% dan pangsa pasar 4%. Momentum kuat di Eropa Barat menjadi kunci, menunjukkan bahwa brand tersebut mulai menemukan posisi yang lebih stabil setelah beberapa tahun ekspansi.
Sebaliknya, Realme mengalami penurunan tajam hingga 21% dengan pangsa sekitar 3%. Tekanan di segmen harga terjangkau, ditambah persaingan dari banyak merek lain, membuat performanya kurang optimal sepanjang periode tersebut.
Ke depan, tantangan terbesar industri kemungkinan datang dari faktor eksternal seperti biaya komponen dan daya beli konsumen. Jika proyeksi kontraksi pasar 2026 benar terjadi, merek dengan ketergantungan tinggi pada segmen murah berpotensi menghadapi tekanan paling besar.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



