Jakarta, Gizmologi โย Survei terbaru Kaspersky mengungkapkan bahwa banyak pengguna mulai memanfaatkan AI sebagai โteman bicaraโ ketika berada dalam kondisi emosional tertentu, khususnya saat merasa sedih. Fenomena ini paling kuat terlihat pada generasi muda.
Di Indonesia sendiri, lebih dari 30 persen responden mengaku memilih berinteraksi dengan AI saat sedang tidak bahagia, angka yang bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global Data ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku, di mana teknologi mulai mengambil peran yang sebelumnya hanya dimiliki oleh manusia.
Di satu sisi, kemudahan akses dan sifat AI yang tidak menghakimi membuat chatbot terasa nyaman dijadikan tempat curhat. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran soal batas antara dukungan emosional dan ketergantungan teknologi yang bisa berdampak pada kesehatan mental maupun keamanan data.
Baca Juga: Rekomendasi Tayangan Prime Video Edisi Januari 2026, Ada Drama Romcom Terbaru
AI sebagai Pendamping Emosional Baru

Kaspersky mengatakan lewat survei mereka bahwa secara global, sekitar 29% pengguna AI mempertimbangkan untuk berbicara dengan chatbot ketika mereka merasa tidak bahagia, dengan Indonesia berada di atas rata-rata tersebut adalah Generasi Z dan milenial menjadi kelompok paling aktif, sementara pengguna usia di atas 55 tahun jauh lebih enggan menggunakan AI sebagai teman curhat.
Kemampuan AI dalam merespons dengan bahasa yang empatik membuatnya terasa personal. Bagi sebagian orang, ini menjadi solusi instan ketika tidak ada teman atau keluarga yang bisa diajak bicara. Namun, para pakar mengingatkan bahwa AI belajar dari data internet, yang artinya respons yang diberikan bisa saja bias atau tidak selalu tepat secara psikologis.
Risiko Privasi di Balik Kenyamanan
Kaspersky juga menyoroti bahwa sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan data sendiri. Percakapan emosional pengguna berpotensi dimanfaatkan untuk pelatihan model, iklan bertarget, bahkan dijual ke pihak ketiga jika tidak diatur dengan baik.
Di sinilah letak persoalannya. Pengguna mungkin merasa aman karena berbicara dengan โmesinโ, padahal data yang dibagikan tetap disimpan dan diproses oleh sistem. Kaspersky menyarankan agar pengguna tidak membagikan informasi sensitif serta selalu meninjau kebijakan privasi sebelum menggunakan layanan AI.
Memang AI sendiri menawarkan kenyamanan dan akses cepat untuk dukungan emosional, tetapi tanpa literasi digital yang memadai, teknologi ini justru bisa membuka risiko baru yang tidak disadari pengguna,
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



