Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Selamat Tinggal Pesawat Luar Angkasa Tiangong-1

0 437

Mari tidur lelap malam ini. Pasalnya, kekhawatiran akan kemungkinan bumi Indonesia dihantam oleh pesawat luar angkasa Tiangong-1 tidak terjadi. Ambisi luar angkasa Tiongkok tersebut resmi gagal setelah pecah dan terbakar saat memasuki atmosfer bumi di atas Samudra Pasifik.

Tim Gabungan Komando Komponen Luar Angkasa Strategis AS mengkonfirmasikan bahwa pesawat luar angkasa Tiangong-1 terlebih dahulu kandas ketika melewati atmosfir bumi di atas lautan itu pada Minggu malam waktu setempat atau Senin WIB.

Kemungkinan serpihan pesawat luar angkasa Tiangong-1 jatuh ke wilayah berpenduduk kecil adanya tetapi patut ditunggu sampai ada konfirmasi kemana serpihan pesawat tersebut bertebaran sebab di Samudra Pasifik juga terdapat banyak pulau kecil.

Baca juga: Teknologi Surveilans Kian Dibutuhkan, Dahua Bidik Pasar Indonesia

Tim tersebut menggunakan sensor Jaringan Surveilans Luar Angkasa dan sistem analis orbit untuk meyakinkan arah pesawat luar angkasa Tiangong-1. Sebagai tambahan, mereka mengolah data dari tim berasal dari Australia, Jepang, Korea Selatan, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Inggris.

Diperkirakan pesawat luar angkasa Tiangong-1 jatuh sekitar 2.500 mil selatan Hawaii dan kira-kira 2.800 mil timur laut Auckland, Selandia Baru, tulis digitaltrends.com. Jonathan McDowell, seorang astronom pada Pusat Harvard-Smithsonian, mengunggah foto yang diperkirakan menjadi tempat bagian utama pesawat luar angkasa Tiangong-1 jatuh.

tiangong 1 2
Sempat didapuk jadi pemula ambisi luar angkasa Tiongkok, Tiangong-1 hanya berumur pendek. Foto oleh tecake.in

Pesawat luar angkasa Tiangong-1 mempunyai panjang lebih dari 10 meter dan berat 8,75 ton. Ia diluncurkan oleh pemerintah Tiongkok pada 2011 dan diharapkan mengawali ambisi Negeri Tirai Bambu menguasai jagad surya. Tiangong-1 berada di atas ketinggian sekitar 350 km dari permukaan bumi saat pertama kali mengudara. Ia sempat dikunjungi beberapa pesawat antariksa Shenzhou selama dua tahun berada di masa orbitnya pada 2012 dan 2013. Termasuk yang mengunjungi Tiangong-1 adalah astronot pertama Tiongkok, yakni Liu Yang dan Wang Yaping.

Sayang sejak 2016, pesawat luar angkasa Tiangong-1 mulai hilang kontrol dan menjauh dari orbitnya. Ia bahkan sempat dikabarkan berpotensi jatuh ke bumi pada rentang 43 derajat LU hingga 43 LS, yang mencakup wilayah Indonesia.

Tadinya Tiangong-1 akan direncanakan menjadi permulaan bagi terciptanya modul yang lebih besar lagi bernama Tiangong. Walau pesawat luar angkasa Tiangong-1 resmi gagal, pemerintah Tiongkok tetap ingin melanjutkan ambisinya. Pada 15 September 2016, Tiongkok sudah meluncurkan Tiangong-2 sedangkan misi Tiangong-3 sudah terlebih dahulu dibatalkan.

Tiongkok sendiri tengah mengembangkan proyek jangka panjang, yakni menghadirkan stasiun luar angkasa berawak pada 2022.

Negara tersebut berencana membuat stasiun luar angkasa yang lebih permanen dalam beberapa dekade mendatang.

Untuk saat ini, Tiongkok telah mengembangkan roket luncur bertenaga berat, bernama Long March 5, sebagai bagian mendukung misi membangun stasiun luar angkasa tersebut, seperti yang telah dilakukan oleh AS, tulis BBC.com pada hari ini.