Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Riset Qualcomm & Axiata: Teknologi 5G Dapat Tingkatkan PDB Indonesia

0 203

Dimulai pada tahun 2020 ini, sudah mulai banyak smartphone yang dirilis, bahkan dalam segmen harga menengah, telah mendukung jaringan 5G. Sementara di Indonesia sendiri, beragam flagship atau smartphone kelas atas juga mendukung jaringan masa depan tersebut. Meskipun, kita masih belum bisa menikmatinya karena implementasi belum tersedia di Tanah Air.

Sementara diperkirakan bila teknologi 5G bakal menjadi salah satu kunci untuk tingkatkan PDB Indonesia, dapat membuka lapangan kerja serta meningkatkan produktivitas pada tahun 2030 mendatang. Perkiraan ini didapat dari sebuah studi baru yang disponsori oleh Qualcomm International, Axiata Group Berhand dan dilaksanakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Untuk menjelaskan studi yang dinamakan “Unlocking 5G Benefits for the Digital Economy in Indonesia” tersebut, diadakan sebuah webinat yang diselenggarakan oleh Qualcomm dan Axiata, bekerja sama dengan Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) pada hari ini (24/9). Dalam webinar tersebut, juga dihadiri oleh sejumlah pembicara regional dan nasional ternama.

Di antaranya adalah ST Liew, VP, Qualcomm CDMA Technologies Asia Pacific Pte. Ltd. Serta President, Qualcomm Taiwan, lalu Asri Hasan Sabri selaku Group Chief Corporate Officer Axiata, Ivan Samuels dari PT. LAPI ITB, dan Dr. Denny Setiawan dari Kemenkominfo. Dimoderasi oleh perwakilan dari Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), seluruhnya hadir untuk membahas perkembangan terkini dan prospek masa depan implementasi 5G di Indonesia.

Baca juga: Huawei: 5G dan TIK Penting untuk Pulihkan Ekonomi di Masa Pandemi

5G Mampu Tingkatkan Perekonomian Negara Secara Signifikan

Panel Diskusi Webinar 5G Qualcomm Axiata

Pemanfaatan 5G di Indonesia sendiri telah termasuk dalam 5 prioritas kerja dari Presiden dan Wakil Presiden, untuk mewujudkan Roadmap Making Indonesia 4.0. Untuk mencapai tujuan, perlu disiapkan beberapa layer seperti kebijakan strategis, infrastruktur 5G termasuk persiapan ketersediaan jaringan dan ketersediaan infrastruktur pasif.

Menurut studi yang telah dilaksanakan oleh ITB tersebut, diprediksi bahwa implementasi 5G secara agresif di Indonesia dapat menambah 2.874 Triliun bagi perekonomian negara secara kumulatif, dari tahun 2021 hingga 2030, atau sekitar 9,5% PDB. Penerapan 5G juga dapat ciptakan 4,6 hingga 5,11 juta peluang kerja terkait, serta dapat tingkatkan produktivitas per kapita sebesar Rp9 – Rp11 juta, dalam periode sama.

Ivan Samuels menjelaskan, “Analisis penilaian dampak kami berdasarkan dua skenario; skenario dasar berdasarkan asumsi bahwa spektrum 5G kunci dapat dirilis dari 2021 – 2023, atau skenario agrefis yang mengasumsikan bahwa seluruh spektrum 5G dapat tersedia di akhir tahun 2021.”

Dengan skenario agresif, diestimasikan bahwa implementasi 5G bisa tingkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 3,1% di luar proyeksi pemerintah. Dan dari pengamatan studi, baik industri maupun konsumen sama-sama menyambut positif akan peluang dari 5G.

Dibentuk Tim Khusus Untuk Implementasi 5G di Indonesia

5G
Ilustrasi 5G di Indonesia (Foto: 123rf/ximagination)

Dan untuk percepat implementasi 5G di Indonesia, juga telah dibentuk organisasi khusus yaitu 5G Task Force Indonesia, yang dikepalai oleh Denny Setiawan. Terdiri dari beberapa working group, organisasi tersebut juga mengundang pakar untuk beri masukan terkait 5G. Target dokumen resmi adalah pada akhir 2021.

“Kami berencana awal Oktober akan melakukan diskusi dengan FCC untuk percepatan 5G, InsyaAllah awal Oktober kita akan lakukan coexisting trial untuk 3.5GHz band. Kami sudah menerapkan kebijakan teknologi netral, jadi operator dapat menggelar 5G pada band existing, bilamana nanti sudah ada ekosistemnya,” jelas Denny.

Dalam kesempatan yang sama, Asri Hassan Sabri menyampaikan bagaimana 5G telah berkembang pesat di beberapa negara ASEAN. Berdasarkan pembelajaran dari negara-negara tersebut, ia menegaskan bahwa beberapa reformasi kebijakan harus dilakukan untuk memastikan struktur pasar yang berkelanjutan, untuk ekosistem 5G Indonesia.

Asri menyebutkan, perusahaan-perusahaan telekomunikasi utama di Indonesia telah menunjukkan komitmen yang teguh dalam mendukung agenda inklusivitas pemerintah, melalui investasi yang konsisten untuk meningkatkan kapasitas serta perluasan jaringan.” Menurutnya, saat ini industri telah capai saturasi dan membutuhkan tambahan spektrum 580Mhz, demi layani pertumbuhan data dan kecepatan yang pesat, serta persyaratan latensi yang cukup.