Jakarta, Gizmologi โ Qualcomm kembali gelar Snapdragon Summit 2025 dan menggelar gathering di Jakarta, Indonesia. Pada gelaran ini Dominikus Susanto, Senior Manager, Business Development Qualcomm Indonesia mengatakan bahwa mereka akan menghadirkan banyak inovasi terbaru pada masa yang akan datang. Qualcomm melihat momentum tersebut dan memperkenalkan dua platform terbarunya: Snapdragon 8 Gen 5 untuk perangkat mobile dan Snapdragon X2 Elite untuk PC, sebagai bagian dari strategi mendorong adopsi on-device AI di Indonesia.
Kedua chipset ini dirancang untuk menjalankan pemrosesan AI secara lokal, tanpa ketergantungan penuh pada cloud. Konsep ini mulai menjadi sorotan seiring kekhawatiran privasi dan kebutuhan latensi rendah, terutama bagi pengguna yang ingin fitur AI berjalan cepat dan aman di perangkat pribadi. Namun, transisi menuju perangkat AI-first juga menghadirkan tantangan: dari kesiapan manufaktur perangkat (OEM), edukasi pasar, hingga kompatibilitas aplikasi.
Bagi pasar Indonesia, inovasi ini bukan hanya soal kecepatan chipset, tetapi perubahan cara perangkat digunakan. Smartphone dan laptop di masa depan diharapkan tidak hanya โkuat,โ tetapi โcerdas,โ mampu menghasilkan gambar, menerjemahkan bahasa, hingga meringkas dokumen secara real-time. Pertanyaannya, siapkah pengguna dan ekosistem lokal menerima perubahan ini?
Baca Juga: Qualcomm Resmi Akuisisi Arduino, Dorong Ekosistem Developer Menuju Era AI Terbuka
Snapdragon 8 Gen 5: AI di Genggaman dan Persaingan Flagship

Snapdragon 8 Gen 5 hadir sebagai chipset mobile generasi terbaru Qualcomm yang membawa NPU dengan peningkatan signifikan untuk pemrosesan AI. Qualcomm mengklaim chipset ini mampu menjalankan model AI generatif besar langsung di perangkat, termasuk pembuatan gambar, teks, hingga asisten personal tanpa koneksi internet. GPU dan CPU-nya juga ditingkatkan untuk menjaga performa gaming ekstrem tanpa overheating.
Teknologi ini membuka jalan bagi fitur-fitur baru, seperti pengeditan gambar AI instan, asisten cerdas untuk pesan dan email, hingga peningkatan keamanan biometrik berbasis machine learning. Namun, adopsi fitur tersebut tetap bergantung pada inisiatif OEM. Tanpa integrasi antarmuka dan aplikasi yang tepat, kemampuan AI hanya akan menjadi gimmick marketing di lembar spesifikasi.
Di sisi lain, Qualcomm harus bersaing di segmen premium yang semakin ketat. Apple dengan chip seri A dan MediaTek Dimensity mulai mengejar di sektor AI. Pengamat industri menilai bahwa edukasi pasar menjadi faktor kunci. Konsumen Indonesia masih cenderung melihat angka megapiksel dan refresh rate sebagai tolak ukur utama, bukan kemampuan AI. Qualcomm perlu memastikan bahwa pengalaman nyataโbukan sekadar angkaโyang berbicara.
Snapdragon X2 Elite: Ambisi Qualcomm Mengguncang Pasar PC

Di ranah PC, Qualcomm membawa Snapdragon X2 Elite sebagai senjata untuk menantang dominasi Intel dan AMD. Berbasis arsitektur ARM, chipset ini mengusung NPU bertenaga tinggi untuk mendukung AI generatif secara offline di laptop. Qualcomm menargetkan segmen kreator, profesional, dan pelajar yang membutuhkan perangkat tipis, senyap, tetapi tetap bertenaga.
Platform ini diklaim mampu menjalankan tugas seperti peringkasan dokumen, translasi real-time, hingga editing konten berbasis AI tanpa koneksi internet. Namun, tantangan utama terletak pada kompatibilitas aplikasi. Ekosistem Windows on ARM belum sepenuhnya matang, dan software legacy masih menjadi batu sandungan. Tanpa dukungan pengembang aplikasi besar, performa AI yang kuat belum tentu diterjemahkan menjadi pengalaman yang mulus.
Meski begitu, kehadiran X2 Elite membuka arah baru bagi pasar laptop di Indonesia. Produsen perangkat dapat menawarkan alternatif dengan efisiensi daya tinggi dan performa AI-first. Jika ekosistem berhasil dibangun, Qualcomm berpotensi menggoyang dominasi x86. Jika tidak, inovasi ini akan berisiko menjadi teknologi visioner yang sulit dipahami pasar.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



