Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Diproduksi Sony Pictures, Pemutaran Film ‘Spider-Man: Homecoming’ Justru Dimanfaatkan OPPO

Tentu hal ini cukup disayangkan mengingat produk Sony Xperia terbilang punya taji tersendiri dibandingkan smartphone lainnya.

0 2.175

Ini mungkin yang namanya ironis. Meskipun Sony punya produk mobile, nyatanya tidak berdaya begitu film Spider-Man: Homecoming yang diproduksi divisi picture-nya diputar di Indonesia.

Inilah yang terjadi di tengah kehebohan Spider-Man: Homecoming yang pemutarannya secara nasional mulai digelar hari ini, Rabu (5/7/2017). Alih-alih Sony Mobile yang memanfaatkan momentum ini, justru OPPO menggunakan film tersebut sebagai promosi perangkat F3.

Harus diakui, dibandingkan dengan OPPO, nama Sony di pasar smartphone Indonesia terbilang nyaris tak bersuara. Ketika saya mulai menulis di Gizmologi sejak Februari lalu, tidak ada satupun informasi brand activation terkait produk terbaru brand Jepang tersebut. Sementara OPPO dalam satu bulan saja setidaknya ada sekitar 3-4 brand activation mulai dari sekedar pengiriman materi press release, peluncuran produk terbaru, hingga acara nonton bareng Spider-Man: Homecoming yang digelar kemarin malam, Selasa (6/7/2017).

Padahal, jika dilihat dari portofolio globalnya, Sony Mobile telah meluncurkan berbagai produk terbaru dari seri Xperia X yang meliputi X Compact, XZ, XZS, hingga XZ Premium. Namun, hingga informasi ini saya tulis, saya belum pernah sama sekali mendapatkan materi lokal apapun terkait produk tersebut. Yang saya ingat, terakhir kali saya melihat eksistensi brand ini ketika mencoba Xperia Z5 pada tahun lalu. Setelah itu, brand ini seolah hilang ditelan bumi.

Ketika saya menelusuri eksistensi Sony Mobile di Indonesia melalui Facebook fanpage-nya, ternyata masih ada postingan tentang produk Xperia X5. Sekedar info saja, berbeda dengan fanpage produk mobile lainnya, fanpage ini memang terbilang paling “horor”. Bagaimana tidak, jika hampir semua postingan diwarnai caci-maki dan komplain terkait pelayanan dari service center vendor ini.

Apakah Sony Mobile sejelek itu? Ini memang subjektif. Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman pengguna smartphone Xperia, saya dibuat melongo mengenai buruknya pelayanan after sales dari Sony. Misalnya saja, seorang teman harus menunggu sekitar 2 bulan lebih hanya untuk mengganti tombol power Xperia Z2 yang sebelumnya dia banggakan. Jika dilihat dari komentar yang ada pada fanpage tersebut, keluhannya hampir senada dengan pengalaman buruk teman saya tadi.

Penjualan Terpuruk

Dari kacamata bisnis, harus diakui Sony mengalami kemerosotan pendapatan beberapa tahun terakhir–jika tidak mau dibilang merugi. Bahkan, dalam laporan kinerja perusahaan kuartal IV 206 yang dirilisnya, dikabarkan bahwa penjualan smartphone Xperia mengalami penurunan, di mana pada periode ini hanya mampu menjual sebanyak 5,1 juta unit. Angka ini merupakan penurunan yang tajam sebanyak 2,5 juta unit (35,3%) dibandingkan periode yang pada di tahun 2015.

Dengan angka penjualan total sebanyak 15 juta unit di tahun 2016, Sony membukukan penjualan terendah sejak 2012. Penurunan ini dipicu lesunya penjualan handset di beberapa negara Eropa dan tidak profit di beberapa negara.

Tentu hal ini cukup disayangkan mengingat produk Sony Xperia terbilang punya taji tersendiri dibandingkan smartphone lainnya. Sebelum banyak vendor menghasilkan smartphone tahan air seperti sekarang ini, Sony lebih dulu merilisnya lewat lini perdana seri Xperia Z yang langsung booming di tahun 2013–meskipun sebenarnya ada nama Motorola Defy yang lebih dulu memperkenalkan fitur ini di perangkat berbasis Android.

Di fitur kamera, Sony juga sempat disebut sebagai “jagonya camera phone”. Namun belakangan ini nama Xperia seperti dicoret dari daftar flagship dengan fitur kamera terbaik. Beberapa media gadget seperti GSMArena, PhoneArena, dan sebagainya tidak lagi menempatkan seri Xperia Z terbaru sebagai pembanding hasil tangkapan kamera yang saat ini sedang diramaikan brand Samsung Galaxy S8, Apple iPhone 7, Google Pixel, dan LG G6. Cukup ironis mengingat beberapa brand smartphone justru menggunakan modul kamera dari vendor tersebut.

Hal yang berbeda justru terjadi pada OPPO. Meskipun terbilang sebagai pendatang baru di industri smartphone, nama vendor ini cukup melejit di angka penjualan. Untuk kuartal tahun pertama 2017, IDC mengungkapkan bahwa vendor asal China ini telah berhasil mengapalkan sebanyak 25,6 juta unit smartphone dengan market share sebesar 7,4% yang menempatkannya di peringkat ke-4 smartphone terlaris di dunia, bersanding dengan Samsung, Apple, dan Huawei.

Di Indonesia, IDC mencatat OPPO berada di peringkat ke-2 penjual smartphone terlaris dengan persentase 16,7% berada persis di bawah posisi Samsung yang menjangkau 32,2% pangsa pasar. Bahkan di negerinya sendiri, OPPO berada di peringkat pertama setelah berhasil mengapalkan sebanyak 78,4 juta unit smartphone di tahun 2016.

Sebagai lini terbaru, F3 juga mencatat prestasi penjualan yang sangat menggembirakan bagi OPPO. Pasalnya, di penjualan perdananya, smartphone ini berhasil terjual sebanyak 30.000 unit hanya dalam sesi pre-order dan merupakan rekor penjualan perdana tertinggi yang pernah digelar OPPO.

OPPO F3 Spiderman Homecoming

Jadi, dalam meningkatkan penjualan smartphone F3, tentu sangat beralasan jika OPPO yang kini belanja iklannya terbilang tinggi langsung menggandeng Sony Pictures untuk memanfaatkan film Spider-Man: Homecoming sebagai ajang promosi. Dalam promosinya, OPPO menawarkan limited collection pack film yang dibintangi Tom Holland tersebut bagi pembeli F3 varian apapun dalam periode Mei-Juli 2017 yang bisa didapatkan dengan melakukan registrasi pada website spiderman.oppomobile.id hingga 16 Juli 2017.

“Limited collection pack ini hanya tersedia ekslusif 500 unit saja. Jadi, bagi pembeli OPPO F3 sebaiknya kunjungi website tersebut, mengisi nomer IMEI, dan kirim foto selfie-nya dengan perangkat F3,” ujar Aryo Meidianto, Media Engagement OPPO Indonesia.

Sebelum Spider-Man: Homecoming, OPPO memang terbilang sebagai vendor yang agresif menggunakan high-anticipated movie sebagai ajang promosi. Sebut saja film Interstellar dan Transformers: Age of Extinction pernah jadi mediumnya dalam berpromosi.  Sementara Sony Mobile yang seharusnya lebih mudah berpromosi karena Sony Pictures masih memproduksi film-film keren, justru tidak memanfaatkannya peluang yang ada seperti ini. Apakah ini sudah saatnya kita mengucapkan, “Sony, riwayatmu kini…”?

 

Tinggalkan komen