Oppo F3 Plus meramaikan pasar smartphone di Indonesia dengan menawarkan fitur selfie-nya yang mutakhir. Dengan semakin tingginya tingkat narsisme pengguna smartphone, tampaknya fitur yang dihadirkan ini bisa jadi nilai lebih yang menarik.
Jika dikait-kaitkan dengan ilmu psikologi, sebuah studi dari Ohio State University boleh saja mengklaim bahwa selfie adalah gejala dari gangguan jiwa, tapi justru banyak vendor smartphone yang berlomba-lomba menghadirkan smartphone dengan teknologi kamera yang mumpuni untuk selfie. Apakah ini berarti ada konspirasi penyebaran kegilaan secara global?
Harus diakui, salah satu vendor yang paling agresif dalam mendorong kegilaan ini adalah Oppo. Ya, sejak mengubah trademark dari “smartphone” menjadi “camera phone”, vendor asal China ini begitu agresif menghadirkan jajaran smartphone yang memiliki keunggulan di kamera depannya. “Selfie expert”, begitu vendor ini mengklaim jati dirinya.
Apakah Oppo sekedar sesumbar menggunakan embel-embel “selfie expert”? Nyatanya tidak. Seiring dengan tren selfie yang terus menggila, pamor Oppo sebagai brand smartphone yang oke untuk selfie kian menanjak. Selfie seolah-seolah jadi prosa yang identik dengan vendor ini.
Nah, seolah ingin mempertahankan gelarnya sebagai “selfie expert”, Oppo menghadirkan jagoan teranyarnya bertitel F3 Plus yang memiliki cita rasa premium dibandingkan F-series sebelumnya. Lalu, bagaimana performanya?
Desain
Ketika premium diartikan sebagai “mewah”, maka Oppo F3 Plus memiliki kesan itu yang sangat kuat. Dengan desainnya unibody yang materialnya 98% berbasis metal, tidak dapat ditepis bahwa smartphone ini terkesan begitu mewah. Bahkan kemewahan itu begitu terasa pada saat pertama kali melihatnya. Begitu digenggam sensasi kemewahan berbaur dengan kekuatan dari form factor-nya yang terasa kokoh.

Hanya saja, secara keseluruhan desain yang diusung Oppo memang tidak terlalu istimewa mengingat di pasaran saat ini banyak smartphone yang memiliki konsep desain yang sama sebagai efek populernya iPhone 6. Terlalu generik, begitu istilahnya. Namun, perbedaan desain Oppo F3 Plus dengan yang lain terletak pada garis antena “six string” yang terkesan tipis dan manis.
Bukan sekedar memperindah desain secara nyata, garis-garis tersebut ternyata juga membuat daya tangkap smartphone terhadap sinyal 4G dan Wi-Fi semakin kuat. Setidaknya, begitu saya mencoba melakukan video streaming dengan jaringan Wi-Fi di rumah, perangkat ini sanggup melakukannya dengan lancar dibandingkan perangkat lain di ruang yang sama.
Masih di sektor desain, Oppo F3 Plus tentunya masih menurunkan DNA dari F-series sehingga lekuk bodinya terkesan dejavu dari F1, di mana pada bagian depannya terdapat tombol home yang bisa berfungsi sebagai pemindai sidik jari untuk memberikan keamanan tingkat tinggi. Bukan sekedar aman, fitur ini juga berbeda dibandingkan fitur sejenis yang ada pada smartphone, di mana tingkat sensitivitasnya juga mengagumkan. Cukup menyentuh tombol tersebut tanpa harus menekannya, sensor langsung bisa membaca sidik jari pengguna. Di atas kertas, kecepatannya mencapai 0,2 detik lho, Gizmolovers!
Layar
Sesuai namanya, Oppo F3 Plus memang merupakan versi bongsor F3 yang akan diluncurkan di kemudian hari. Jadi tak mengherankan jika ukuran layarnya terbilang plus, yakni 6 inci dengan panel JDI In-cell 2.5 D yang memberikan efek lengkungan di bagian depan.

Dengan besaran layarnya, Oppo F3 Plus tentunya menjadi perangkat yang menyenangkan untuk untuk menonton video atau bermain game-game mobile. Apalagi, resolusinya juga Full HD membuat tampilan gambar begitu detil dan nyaman bagi mata, meskipun ada fitur terpisah bernama Eye Protect Mode untuk membuatnya lebih nyaman lagi.
Sebagai orang yang benci dengan screen protector yang cenderung membuat performa layar jadi kurang smooth, perlindungan Gorilla Glass 5 pada Oppo F3 Plus tentu membuat saya begitu tenang menggunakannya meskipun tanpa lapisan plastik yang mengganggu itu. Diklaim, material kaca ini 80% lebih kuat dibandingkan Gorilla Glass 4. Jadi, penggunaan screen protector sepertinya memang bukan sebuah keharusan di perangkat ini.
Performa
Jika Oppo F3 Plus memiliki kesan premium dari segi desain, apakah juga begitu dengan performanya? Secara jujur, saya berani mengatakan bahwa smartphone ini memang bukan untuk bertarung di segmen hi-end seperti Galaxy S7 dan iPhone 7. Tapi untuk di kelasnya memang jelas yang terbaik, lihat saja screen capture dari benchmark beberapa platform berikut ini:
Ya, smartphone ini menggunakan chipset octa-core Qualcomm Snapdragon 653 MSM8976 Pro dengan clocking speed 1,95 GHz, serta GPU Adreno 510, RAM 4 GB, dan berjalan di ColorOS 3.0 berbasis Android 6.0 Marshmallow. Ketika digunakan untuk bermain game Asphalt 8, saya tidak mendapati momen nge-lag yang membuat permainan jadi sebagai simulasi penguji kesabaran.
Nah, sebagai perangkat yang dipersiapkan untuk menampung foto selfie penggunanya, Oppo F3 Plus dibekali dengan memori internal sebesar 64 GB. Jadi, bisa kebayang kan berapa ribu foto selfie yang bisa tersimpan di dalamnya? Jika ini masih kurang, masih ada slot microSD yang bisa menambah kapasitas hingga 256 GB. Tapi apa iya selfie harus segila ini?
Kamera
Sepertinya kurang afdol rasanya jika saya mengupas fitur ini seadanya, megingat fitur kamera pada Oppo F3 Plus tidak ala kadarnya. Seolah ingin meningkatkan pengalaman penggunanya dalam ber-selfie, terdapat fitur dual-camera di bagian depannya.
Bagi yang bertanya-tanya kenapa fitur seperti ini harus ada di depan? Pertama, Oppo ingin memperkuat citranya sebagai selfie expert. Kedua, memangnya mau seumur hidup harus membawa tongsis atau selfie stick setiap ingin selfie beramai-ramai?
Dengan dual-camera, memungkinkan Oppo F3 Plus menyediakan fitur tambahan untuk selfie. Tidak main-main, fitur ini berupa kamera 8 MP dengan lensa yang sanggup menangkap sudut hingga 120 derajat. Jadi memang fitur ini didedikasikan bagi mereka yang ingin selfie berama-ramai alias wefie atau group selfie tanpa harus berebutan best position supaya tertangkap kamera.
Sayangnya, pada pengujian lensa wide-angle saya melakukannya sendirian, tidak beramai-ramai seperti ritual group selfie kekinian. Tapi lumayanlah “ditemani” objek yang tidak terpotong di ujung sana (berupa mobil), berbeda jika saya gunakan lensa satu lagi yang beresolusi 13 MP, di mana saya terlihat “kesepian”.
Uniknya, kamera depan wide-angle ini tidak cuma membuat pengguna terbebas dari belenggu tongsis, tapi juga bebas distorsi. Seperti diketahui, biasanya lensa wide-angle yang identik dengan lensa fish-eye membuat objek wajah jadi tidak proposional karena bentuk kepala dan badan menjadi jauh lebih besar sementara badan mengecil.
Merasa kurang cantik atau ganteng? Jangan khawatir! Oppo F3 Plus punya fitur Beautify 4.0 yang membuat kreativitas dalam ber-selfie semakin bertambah. Menghilangkan jerawat, bisa. Membuat kulit lebih putih, bisa. Membuat mata terlihat besar juga bisa. Tapi percayalah, saya tidak terlalu sering menggunakan fitur-fitur ini ketika selfie.
Sebagai orang yang tidak terlalu suka selfie, Oppo F3 Plus memang berhasil membuat saya sering melakukan selfie-selfie “nggak jelas” buat konsumsi pribadi. Tapi, untungnya kamera belakang tidak diabaikan dari sisi teknologi dan fungsi.
Ya, smartphone ini punya kamera 16 MP dengan sensor 1/2.8 inci IMX 398 yang merupakan modul sensor terbaru dari Sony. Jadi, setidaknya saya teralihkan dari selfie-selfie yang “nggak jelas” itu dengan bereksperimen pada kamera utamanya yang bisa diandalkan untuk menangkap berbagai momen dalam berbagai situasi dan kondisi.
Apalagi, kamera juga diperkuat dengan teknologi dual PDAF yang merupakan hasil kolaborasi Oppo dengan Sony di mana membuat kamera mampu menangkap fokus gambar 40% lebih cepat sekalipun dalam kondisi low-light. Bukaan lensa alias apperture F/1.7 juga membuat kamera ini mampu menangkap cahaya lebih banyak, sehingga foto yang diambil menjadi lebih tajam dan detil, sekalipun dalam kondisi low-light.
Secara umum, bisa dibilang fitur unggulan Oppo F3 Plus pada kamera depannya dipastikan bakal membuat penggunanya bakal keranjingan selfie. Tapi, apakah tidak takut dianggap punya kelainan jiwa karena sering selfie dengan perangkat ini? Jangan khawatir. Berbeda dengan hasil Ohio State University, para ilmuwan di University of Grapevine, Inggris menyebutkan bahwa orang yang sering selfie memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi lho, Gizmolovers!
Baterai
Mengimbangi desainnya yang bongsor, terdapat baterai berkapasitas 4.000 mAh yang membuat Oppo F3 Plus bisa digunakan seharian untuk penggunaan normal. Jadi rupanya tidak cuma ingin membuat penggunanya bebas dari ketergantungan tongsis, smartphone ini juga bisa membuat power bank bukan lagi perangkat yang penting untuk dibawa ke mana-mana.
Meskipun berkapasitas besar, untuk pengisian ulang baterai tidak perlu memakan waktu lama. Berdasarkan pengalaman pribadi, fitur unggulan VOOC Flash Charge sanggup mengisi lebih dari 50% kapasitas baterai hanya dengan melakukan pengisian kurang dari 30 menit. Jadi, asumsinya untuk mendapatkan 100% saya tidak perlu membuang waktu hingga 2 jam untuk sekedar mengisi ulang baterai.
Kesimpulan
Di tengah tren selfie yang terus menggila, tampaknya Oppo benar-benar sempurna memanfaatkan momentum ini dengan menghadirkan F3 Plus sebagai jagoan terbarunya. Bagaimana tidak, smartphone ini telah memiliki fitur dambaan bagi para penggila selfie terutama bagi mereka yang suka selfie beramai-ramai.
Untungnya, Oppo tidak melulu fokus pada citranya sebagai “selfie expert” karena terdapat banyak fitur yang membuat penggunaan smartphone jadi lebih menyenangkan. Bahkan bagi mereka yang tidak terlalu suka selfie, kamera belakangnya juga bisa diandalkan untuk mobile photography sebagai unjuk eksistensi di Instagram.
- Fitur selfie-nya keren (apalagi?)
- Kamera belakang bisa diandalkan selain kamera depan
- Material desainnya terkesan premium baik ketika dipandang maupun dipegang
- Respon pemindai sidik jari sangat cepat
- Baterai tahan lama dan pengisian juga cepat
- Layar terlalu besar sehingga menyulitkan penggunaan satu tangan
- Baterai tidak bisa dilepas
SPESIFIKASI OPPO F3 PLUS
General
| Device Type | Smartphone |
| Model / Series | OPPO F3 Plus CPH1613 |
| Released | 23 Maret, 2017 |
| Status | Available |
| Price | IDR6.499.000 |
Platform
| Chipset | Qualcomm Snapdragon 653 MSM 8976 Pro |
| CPU | Octa-core 1.95 GHz |
| GPU | Adreno 510 |
| RAM (Memory) | 4 GB |
| Storage | 64 GB (support microSD up to 256 GB) |
| Operating System | Android 6.0 Marshmallow |
| User Interface | ColorOS 3.0 |
Design
| Dimensions | 163.63 x 80.8 x 7.35 mm |
| Weight | 195 g |
| Design Features | Color: Gold, black |
| Battery | Non-removable Li-Po 4,000 mAh |
Display
| Screen Type | JDI Incell, 16M colors |
| Size and Resolution | 6,0 Inches, 1920 x 1080 px |
| Touch Screen | Capacitive touchscreen |
| Features |
Corning Gorilla Glass 5, 2,5D |
Network
| Network Frequency |
GSM: 900/1800MHz WCDMA: 900/2100MHz FDD-LTE: Bands 1/3/8 |
| SIM | Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by) |
| Data Speed | HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE Cat6 300/50 Mbps |
Camera
| Rear | 16 MP, Sony IMX 398, dual-PDAF, F/1.7 |
| Front | Dual 16 MP + 8 MP, f/2.0, 1/3" sensor size |
| Flash | Dual-LED Flash (rear) |
| Video | 2160p@30fps, 1080@30fps |
| Camera Features |
Rear: 1/2.8" sensor size, geo-tagging, touch focus, face detection, HDR, panorama. Front: Beautify 4.0 |
Connectivity
| Wi-fi | Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, WiFi Direct, hotspot |
| Bluetooth | v4.1, A2DP, LE |
| USB | microUSB v2.0, USB Host |
| GPS | Yes, with A-GPS |
| HDMI | No |
| NFC | |
| Infrared | No |
Smartphone Features
| Multimedia Features |
Video: MP4/H.264 Audio: MP3/WAV/eAAC+/FLAC |
| FM Radio | Stereo FM radio |
| Web Browser | HTML5 (Android Browser) |
| Messaging | SMS (threaded view), MMS, Email, Push Mail, IM |
| Sensors | Fingerprint (front-mounted), accelerometer, gyro, proximity, compass |
| Other |
- Ligtning-Fast Touch Acces fingerprint scan - VOOC Flash Charge mini - Charger - SIM ejector tool - Documentation - Case - Protective film (applied) |
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















