Jakarta, Gizmologi โย TikTok sebagai aplikasi video pendek terpopuler telah mengajak banyak pengguna TikTok untuk membuat video pendek. Namun riset terbaru menunjukkan bahwa setengah penggguna tak upload atau membagikan video sama sekali.
Sebagai sebuah platform tentunya pengguna TikTok memiliki umur yang beragam, namun orang dewasa ternyata cenderung pemalu di depan kamera. Riset dari Pew Research Center bisa mengubah sisi marketing para brand.
Riset atau survei ini diberikan terhadap 2.745 orang dewasa yang menggunakan TikTok. Hasilnya 48% responden mengaku tak pernah mengunggah video dan sebagian besar pengguna bahkan tak pernah memperbarui biodata mereka.
Baca Juga:ย Tok! GoTo dan TikTok Telah Selesaikan Transaksi, Ada Perubahan Direksi
Pengguna TikTok yang Berumur Dewasa Cenderung Membuat Akun Saja

Melansir dari TechCrunch, para peneliti awal media sosial menciptakan โaturan 1%โ untuk menjelaskan bagaimana kita berinteraksi di platform. Idenya adalah bahwa 1% orang membuat konten online, sekitar 10% akan terlibat dengan konten tersebut, dan sisanya akan melihatnya.
Konsep yang agak ketinggalan zaman ini diusulkan pada tahun 2006, ketika YouTube baru berusia satu tahun, dan TikTok belum meluncur. Sebuah gagasan pun muncul yaitu melihat kejadian di dunia maya jauh lebih umum daripada memposting.
Penulis utama studi ini, Samuel Bestvater, mengatakan kepada TechCrunch bahwa tingkat pengguna TikTok yang tidak memposting video benar-benar cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan platform lain. Studi lain dari Pew pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar setengah dari orang dewasa AS di Twitter atau X memposting lima kali atau kurang dalam sebulan. Namun di TikTok, persentase pengguna yang sama tidak memposting sama sekali.

Hal ini mungkin bisa jadi karena Twitter tak perlu membuat pengguna merekam video untuk sekadar bercerita atau berkicau. Dengan begitu kamu bisa dengan cepat menceritakan banyak hal tanpa harus menyiapkan riasan atau lain sebagainya.
Dari penelitian TikTok, 25% pengguna paling aktif bertanggung jawab atas 98% dari semua video publik. Sedangkan penelitian sebelumnya di Twitter mengungkapkan statistik yang hampir sama, menunjukkan bahwa 25% poster teratas menghasilkan 97% dari semua tweet.
Studi ini juga menemukan bahwa usia tidak selalu menjadi faktor dalam menilai kebiasaan memposting di TikTok oleh orang dewasa. Pengguna TikTok yang berusia 18 hingga 34 tahun lebih cenderung menggunakan TikTok sejak awal dibandingkan mereka yang berusia 35 hingga 49 tahun, tetapi pada kedua kelompok usia tersebut, sekitar separuh pengguna tidak pernah memposting.
Temuan lain menunjukkan bahwa 85% pengguna TikTok mengatakan bahwa mereka menganggap konten di halaman For You setidaknya cukup menarik. Orang-orang yang memposting di TikTok lebih condong ke arah menganggap umpan algoritmik mereka sangat menarik.
Penelitian ini muncul ketika sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka menggunakan TikTok, di antara demografi berusia 18 hingga 34 tahun, persentase tersebut melonjak menjadi 56%. Karena platform video pendek ini menarik basis pengguna yang lebih besar, TikTok dan para pembuat kontennya memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Hal ini tentunya bisa mengubah strategi marketing brand yang mulai banyak membuat konten video TikTok. Adapun adanya riset ini tentu tak perlu membuat TikTok menjadi khawatir.
Karena platform ini dijadikan tempat mencari sumber berita bagi sebagian orang. Selama tiga tahun terakhir, persentase orang dewasa di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa mereka mendapatkan berita dari TikTok meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi 14%.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



