Jakarta, Gizmologi – Setelah generative AI semakin mudah diakses melalui smartphone dan PC, pertanyaan berikutnya adalah perangkat apa yang akan menjadi interface AI selanjutnya. Rokid melihat AI smart glasses sebagai salah satu jawabannya, karena AI dapat digunakan tanpa pengguna harus terus memegang atau melihat layar.
Ikhtisar pemanfaatan Rokid AI Smart Glasses
- Rokid menunjukkan sejumlah use case AI Smart Glasses di DTI-CX 2026, bukan sekadar memperkenalkan perangkat kepada pasar Indonesia.
- Untuk penggunaan sehari-hari, Rokid dapat digunakan sebagai teleprompter, penerjemah real-time, AI Assistant, serta perangkat untuk mengakses informasi secara hands-free.
- Kamera dapat menjadi input visual untuk AI sehingga perangkat dapat mengenali dan menjelaskan objek atau kondisi di depan pengguna.
- Rokid menunjukkan potensi fungsi tersebut sebagai alat bantu aksesibilitas bagi pengguna dengan keterbatasan penglihatan.
- Untuk enterprise, Rokid menawarkan skenario penggunaan dalam maintenance dan pekerjaan industri berbasis visual, meski belum ada data implementasi atau hasil produktivitas di Indonesia dalam materi yang tersedia.
- Penggunaan kamera pada smart glasses juga membawa isu privasi, sehingga Rokid menggunakan indikator visual ketika fungsi pengambilan gambar diaktifkan.
Rokid sendiri bukan produk yang benar-benar baru di Indonesia. Perangkat buatan China ini telah diperkenalkan sejak April yang lalu melalui Denka Pratama sebagai distibutor ekslusifnya. Ada dua produk yang sudah dipasarkan. Pertama. Rokid Neo AI Smart Glasses sebagai versi murah tanpa fitur augmented reality (AR) yang dibanderol Rp7 jutaan. Kedua, Rokid AI Smart Glassess harga Rp11 jutaan dengan fitur yang lengkap.
Baca juga: Rokid AI Glasses Gebrak Pasar Indonesia, Bantu Permudah Aktivitas
Di ajang DTI-CX 2026 yang digelar hari ini (6/8) di Jakarta, Bagus Pratama, Chief Marketing Office Denka Pratama mendemonstrasikan bagaimana format kacamata dapat membuat interaksi dengan AI menjadi bagian dari aktivitas pengguna. Ia memperlihatkan sejumlah skenario penggunaan Rokid AI Smart Glasses, mulai dari membaca teleprompter, menerjemahkan percakapan secara real-time, mengenali lingkungan melalui kamera, hingga membantu pengguna dengan keterbatasan penglihatan. Untuk segmen enterprise, teknologi serupa juga diarahkan untuk maintenance dan pekerjaan yang membutuhkan bantuan visual.
Rokid Smart Glasses Bisa Menjadi Interface Baru untuk AI

Selama ini, sebagian besar interaksi dengan AI masih membutuhkan sebuah layar. Pengguna membuka ChatGPT atau layanan AI lainnya melalui smartphone dan komputer, memasukkan prompt, kemudian melihat jawabannya melalui display.
Smart glasses mencoba mengubah pola tersebut dengan membawa kamera, AI, voice interface dan display langsung ke perangkat yang dikenakan pengguna. Dalam keynote-nya, Bagus menggambarkan wearable AI sebagai interface yang dapat membuat interaksi dengan AI lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari. Pengguna, misalnya, dapat menanyakan informasi melalui suara tanpa harus mengambil smartphone.
Kemampuan kamera membuat skenarionya menjadi lebih luas. Kamera tidak hanya digunakan untuk mengambil foto atau video, tetapi dapat menjadi input visual bagi sistem AI. Bagus memberikan contoh sederhana dengan mengarahkan kacamata ke lingkungan di sekitarnya. Secara konsep, pengguna dapat meminta AI mengenali apa yang dilihat kamera, kemudian mengajukan pertanyaan berdasarkan informasi visual tersebut.
Ia bahkan mencontohkan penggunaan prompt untuk menghitung jumlah orang yang berada di sebuah ruangan. Contoh lainnya adalah meminta informasi seperti cuaca maupun informasi kontekstual lainnya melalui perangkat.
Kemampuan semacam ini memperlihatkan perbedaan fundamental AI smart glasses dengan sekadar memasukkan chatbot ke perangkat baru. Kamera dapat berfungsi sebagai “mata” bagi AI, sehingga konteks yang diproses tidak hanya berasal dari teks atau suara yang diberikan pengguna.
Dari Teleprompter hingga Penerjemah Real-Time

Salah satu demonstrasi paling sederhana justru terjadi selama keynote tersebut. Bagus mengungkapkan bahwa ketika berbicara di atas panggung, ia menggunakan tampilan pada Rokid sebagai teleprompter. Teks dapat terlihat langsung melalui kacamata sehingga pembicara tetap dapat menghadap audiens tanpa harus membaca layar atau monitor terpisah.
Skenario tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memperlihatkan keuntungan utama wearable display: informasi dapat berada di bidang pandang pengguna tanpa mengharuskannya memegang perangkat lain. Rokid juga menawarkan penerjemahan bahasa secara real-time. Berdasarkan informasi PT Denka Pratama Indonesia, pengguna dapat memanfaatkan kacamata untuk membantu komunikasi lintas bahasa, mengakses informasi secara hands-free, serta menggunakan AI Assistant.
Format tersebut berpotensi relevan untuk aktivitas seperti perjalanan, pertemuan bisnis lintas bahasa, presentasi maupun pekerjaan yang mengharuskan tangan pengguna tetap bebas. Namun efektivitas masing-masing skenario tetap bergantung pada faktor seperti akurasi AI, latency, kualitas display, konektivitas dan kenyamanan perangkat ketika digunakan dalam waktu lama. Aspek-aspek tersebut memerlukan pengujian langsung dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan demonstrasi perusahaan.
AI Smart Glasses untuk Membantu Pengguna dengan Gangguan Penglihatan
Use case lain yang diperlihatkan Rokid menyentuh aspek aksesibilitas. Bagus menunjukkan bagaimana kamera pada smart glasses dapat digunakan untuk mendeteksi benda maupun kondisi yang berada di depan pengguna. Informasi visual tersebut kemudian dapat diinterpretasikan oleh AI dan disampaikan kembali kepada pengguna.
“Kamera ini bisa mendeteksi benda atau kondisi yang ada di depannya dan menceritakan kepada penggunanya apa yang harus diwaspadai,” jelas Bagus.
Dalam konteks pengguna dengan keterbatasan penglihatan, konsep tersebut memungkinkan AI berfungsi sebagai lapisan informasi tambahan mengenai lingkungan sekitar. Ini merupakan salah satu skenario yang menunjukkan potensi computer vision pada perangkat wearable. Alih-alih pengguna mengambil foto terlebih dahulu menggunakan smartphone kemudian meminta AI menganalisisnya, kamera berada pada sudut pandang pengguna sehingga proses pengenalan lingkungan berpotensi berlangsung lebih natural.
Meski demikian, fungsi tersebut sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti perangkat mobilitas atau teknologi aksesibilitas yang sudah teruji. Materi Rokid yang tersedia juga belum memberikan data mengenai tingkat akurasi object recognition maupun pengujian khusus untuk pengguna dengan gangguan penglihatan.
Rokid Bidik Penggunaan AI Smart Glasses di Industri

Pemanfaatan smart glasses tidak berhenti pada consumer device. Bagus juga memperkenalkan arah penggunaan teknologi Rokid untuk enterprise dan industri. Dalam bagian keynote yang membahas solusi industri, Rokid menunjukkan penggunaan AI untuk membantu proses maintenance dengan memanfaatkan informasi visual. Bagus juga menyebut kemungkinan melakukan customization fungsi agar perangkat dapat diintegrasikan dengan infrastruktur dan interface lain di berbagai industri.
Untuk lingkungan industri, pendekatan hands-free memiliki manfaat yang berbeda dibanding penggunaan consumer. Teknisi, misalnya, sering kali membutuhkan akses terhadap instruksi atau informasi sambil tetap menggunakan kedua tangannya untuk melakukan pekerjaan. Smart glasses secara konsep memungkinkan informasi ditempatkan langsung di bidang pandang tanpa pekerja harus berpindah antara objek yang sedang dikerjakan dan layar smartphone atau komputer.
Kamera juga membuka kemungkinan penggunaan computer vision untuk mengenali komponen atau kondisi tertentu. Ketika dikombinasikan dengan AI dan sistem perusahaan, smart glasses berpotensi menjadi interface antara pekerja di lapangan dengan informasi digital.
Namun, presentasi yang tersedia belum memberikan rincian mengenai perusahaan Indonesia yang telah mengimplementasikan solusi tersebut, skala deployment, maupun hasil pengujian produktivitasnya. Karena itu, pemanfaatan industrial Rokid saat ini lebih tepat dipandang sebagai use case yang ditawarkan perusahaan, bukan bukti bahwa teknologi tersebut telah diadopsi secara luas di Indonesia.
Kamera Smart Glasses Membawa Persoalan Privasi
Kemampuan kamera yang selalu berada di depan pengguna sekaligus memunculkan persoalan yang tidak ditemukan pada wearable biasa: orang lain mungkin tidak mengetahui ketika sebuah smart glasses sedang mengambil gambar.
Saat mendemonstrasikan pengambilan gambar, Bagus menunjukkan adanya indikator visual yang berfungsi memberi tahu orang di sekitar ketika kamera sedang digunakan. Menurutnya, mekanisme tersebut merupakan bagian dari kebijakan privasi yang diterapkan pada perangkat.
Isu ini akan semakin penting apabila smart glasses berkembang menjadi perangkat mainstream. Kamera yang digunakan sebagai input AI berarti perangkat secara teknis perlu menangkap informasi mengenai lingkungan di sekitarnya, termasuk kemungkinan wajah, percakapan atau objek milik orang lain.
Dengan demikian, perkembangan AI wearable tidak hanya bergantung pada seberapa pintar AI yang ada di dalamnya. Transparansi ketika kamera aktif, bagaimana data visual diproses, tempat data disimpan, hingga kontrol yang diberikan kepada pengguna akan menjadi bagian penting dari penerimaan teknologi semacam ini.
PT Denka Pratama Indonesia sendiri kini mulai memperluas distribusi Rokid melalui jalur resmi nasional. Selama DTI-CX 2026, pengunjung juga dapat mencoba perangkat secara langsung dan mendapatkan layanan Rokid Lens Consultation bersama DR SPECS.
Kehadiran smart glasses seperti Rokid pada akhirnya menunjukkan eksperimen berikutnya dalam evolusi interface komputasi. Smartphone membuat internet selalu berada di tangan pengguna. AI smart glasses mencoba membawa informasi dan AI lebih dekat lagi—langsung ke bidang pandang.
Apakah format tersebut akan menjadi perangkat komputasi mainstream berikutnya masih terlalu dini untuk disimpulkan. Tetapi use case yang mulai muncul, dari teleprompter dan penerjemahan hingga accessibility dan industrial maintenance, setidaknya memberi gambaran bahwa persaingan AI consumer berikutnya mungkin bukan hanya soal AI mana yang lebih pintar, tetapi bagaimana manusia berinteraksi dengannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

