Jakarta, Gizmologi โ Sony akhirnya meresmikan Alpha A7 V di Indonesia, kamera mirrorless full-frame generasi kelima yang sudah lama dinanti para fotografer dan videografer. Produk ini datang di tengah persaingan yang semakin ketat di segmen kamera hybrid, di mana kebutuhan akan performa foto dan video sama-sama tinggi terus meningkat.
Alpha A7 V diposisikan sebagai kamera serba guna yang menggabungkan kecepatan, akurasi, dan kecerdasan berbasis AI. Sony membawa sejumlah pembaruan besar, mulai dari sensor baru, prosesor generasi terkini, hingga peningkatan signifikan di sisi autofocus dan video. Di atas kertas, spesifikasinya terlihat sangat agresif untuk kelasnya.
Namun, dengan banderol harga yang tidak bisa dibilang murah, pertanyaan besarnya adalah apakah peningkatan ini benar-benar relevan untuk semua pengguna, atau justru lebih cocok untuk segmen profesional tertentu saja. Di sinilah Alpha A7 V menarik untuk dibedah lebih dalam, bukan hanya dari sisi keunggulan, tetapi juga keterbatasannya.
Baca Juga: Laporan Strava 2025: Olahraga Gantikan Doomscrolling Para Gen Z, Lari Paling Populer
Fokus AI dan Kecepatan Jadi Daya Tarik Utama

Sony Alpha A7 V mengandalkan sensor Exmor RS CMOS partially stacked 33 MP yang dipadukan dengan prosesor BIONZ XR2. Kombinasi ini memungkinkan peningkatan kecepatan readout dan performa autofocus yang diklaim lebih presisi, termasuk Real-time Recognition AF dengan cakupan hampir seluruh frame. Untuk fotografi olahraga atau satwa liar, kemampuan continuous shooting hingga 30 fps dengan tracking jelas menjadi nilai jual besar.




Di sisi lain, pendekatan ini juga menempatkan Alpha A7 V sebagai kamera yang sangat bergantung pada sistem elektronik. Penggunaan electronic shutter untuk performa maksimal berpotensi menimbulkan rolling shutter pada kondisi tertentu, sesuatu yang masih menjadi perhatian bagi fotografer yang sering memotret subjek bergerak cepat di pencahayaan ekstrem.
Video Makin Serius, Harga Ikut Naik
Untuk video, A7 V menawarkan perekaman 4K dari oversampling 7K, hingga 4K 120p dalam mode APS-C. Fitur seperti Dynamic Active Mode, Auto Framing berbasis AI, serta peningkatan audio internal menunjukkan Sony semakin serius menyasar kreator hybrid dan videografer solo.
Meski begitu, tidak semua pengguna akan membutuhkan fitur video sejauh ini. Dengan harga Rp 43 jutaan untuk body saja, A7 V bisa terasa overkill bagi fotografer murni atau kreator yang tidak membutuhkan spesifikasi video tingkat lanjut. Di titik ini, A7 V lebih cocok dipandang sebagai alat kerja profesional, bukan kamera โamanโ untuk semua kalangan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



