Spektrum 2,3Ghz Jadi Modal Awal Indonesia Memperluas Jaringan 5G

Jakarta, Gizmologi – Pemerintah terus berupaya dalam menuntaskan permasalahan disparitas aksesibilitas atau digital divide dari layanan komunikasi dan informatika di Indonesia. Upaya yang dilakukan dengan pemerataan jaringan 4G sebagai modal awal untuk menyebarluaskan layanan 5G.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ketersediaan spektrum frekuensi radio merupakan hal yang penting untuk mengembangkan jaringan 5G di Indonesia. Di mana saat ini layanan 5G diselenggarakan pada spektrum 2,3Ghz.

“Kita butuh spektrum frekuensi ini sesegera mungkin untuk memberikan 5G,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kominfo, Ismail, dalam diskusi virtual di Huawei Mobile Mobile Broadband Forum 2021, Kamis (14/10).

Selain manajemen spektrum frekuensi, pembangunan infrastruktur merupakan hal yang sangat penting dalam menggelar 5G. Indonesia setidaknya membutuhkan spektrum frekuensi di tiga lapisan, yaitu pita 700MHz pada lapisan bawah (low band); 2,3GHZ dan 2,6GHZ pada lapisan tengah (middle band); dan 3,5GHz pada lapisan atas (high band).

Pita frekuensi yang sudah tersedia saat ini adalah 2,3GHz, yang digunakan oleh Telkomsel untuk memberikan layanan 5G komersial. Sementara itu, saat ini pada pita frekuensi 700MHz masih berlangsung migrasi siaran televisi dari analog ke digital atau analog switch off.

Refarming Spektrum 2.3Ghz

Huawei 2,3Ghz

Dua spektrum potensial untuk 5G lainnya, yakni 2,3GHz pada middle band dan 3,5GHz pada high band sudah lama digunakan untuk satelit komunikasi dan penyiaran. Menurut Ismail, pita frekuensi 2,6GHz digunakan satelit sampai 2024.

“Di sisi lain, Kominfo baru saja melakukan refarming spektrum untuk menghadirkan kapasitas bandwith yang dibutuhkan operator seluler untuk layanan 5G di Indonesia,” imbuhnya.

Mengingat pemerintah perlu menetapkan harga yang rasional agar tidak memberatkan operator seluler. Jika harga terlalu tinggi, operator seluler akan kesulitan karena membutuhkan modal dan biaya yang besar untuk membangun infrastruktur.

Model bisnis juga penting untuk dipertimbangkan agar operator bisa menghasilkan uang dari layanan 5G. Ismail menekankan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang berorientasi 5G adalah penting untuk mendukung transformasi digital di Indonesia.

“Kita harapkan nanti akan mendorong dan mendukung pengembangan dan peningkatan hilir atau downstream dari digital space kita,” imbuhnya

 

Tinggalkan komen