Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Gojek, Halodoc, dan East Ventures Ungkap Strategi Startup Bertahan di Masa Pandemi

2 594

Pandemi Covid-19 berdampak besar pada berbagai sektor kehidupan. Tak terkecuali perusahaan rintisan atau startup. Tak sedikit perusahaan maupun startup yang terpaksa mengurangi jumlah karyawan atau PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), bahkan menutup usaha mereka.

Di ajang diskusi virtual yang digelar FORWAT (Forum Wartawan Teknologi) yang digelar pada 31 Agustus, Gojek, Halodoc, dan East Ventures membagikan strategi agar bisa bertahan di tengah masa pandemi.

Strategi Gojek

Nila Marita, Chief of Corporate Affairs Gojek, mengungkapkan bahwa di masa pandemi ini, mereka diuntungkan oleh core business dan multiple business yang dijalankan. Meskipun beberapa layanan terdampak, namun mereka masih memiliki banyak layanan yang membuat mereka bisa bertahan.

Saat GoLife harus ditutup karena termasuk kategori layanan dengan sentuhan fisik, kemudian GoRide dihentikan sementara pada saat PSBB, namun GoSend, GoFood dan GoMart, GoTix dan GoGames menunjukkan ketahanan bisnis dan kenaikan permintaan.

“Model bisnis kami adalah on demand application. Sehingga kami membangun bisnis secara strategis dan berkelanjutan yang tidak hanya bertumpu pada satu layanan. Kemampuan untuk beradaptasi cepat dengan situasi inilah yang menjadi salah satu competitive advantage kami untuk dapat terus memelihara keberlangsungan bisnis di masa pandemi,” kata Nila.

Ia menambahkan bahwa Gojek berupaya untuk menjadi andalan bagi masyarakat dengan menghadirkan solusi inovatif melalui ekosistem digital. Agar membantu masyarakat untuk tetap produktif yang mengedepankan aspek Kesehatan, Kebersihan dan Keamanan (J3K).

Nila menambahkan bahwa Gojek juga memiliki komitmen jangka panjang untuk mendorong agar UMKM terus bertumbuh walaupun di tengah pandemi. Melalui inisiatif #MelajuBersamaGojek Gojek memberikan solusi inklusif dan komprehensif (hulu ke hilir) bagi UMKM untuk go-digital. Melalui semangat gotong royong, Gojek menggandeng berbagai pihak termasuk pemerintah untuk memberikan solusi UMKM naik kelas.

Selain itu, kata Nila, Gojek juga fokus ke area dimana mereka bisa saling bekerja sama, terutama dengan para pemain besar dan terbaik di masing-masing industri. Salah satunya yang sudah mereka lakukan dengan HaloDoc.

HaloDoc Pivot dengan Cepat

HalodocStartup di bidang kesehatan itu mengakui jika bisnisnya melakukan pivot dengan cepat. Pasalnya, semua orang ingin lebih sehat di era pandemi ini dan Halodoc memiliki misi tersebut, memudahkan dan mendekatkan layanan kesehatan ke masyarakat.

Dionisius Nathaniel, Chief Marketing Officer Halodoc, mengatakan bahwa faktanya, secara rata-rata global, terdapat 14 dokter per 10 ribu populasi. Sementara Indonesia hanya di kisaran 3,8. Situasi ini ditambah lagi dengan penyebaran dokter yang tidak merata. Tantangan ini yang kita coba untuk atasi melalui platform Halodoc.

“Ketika COVID-19 mulai terkonfirmasi di Maret, kita langsung pivot. Gimana caranya mendukung Indonesia dengan melakukan tes COVID-19 sebanyak mungkin. Sampai sekarang 200 ribu tes sudah kita lakukan, kombinasi rapid dan PCR. Halodoc juga menjadi yang pertama kali menjalankan drive thru rapid test di Indonesia, dan fasilitas itu masih tetap ada sampai sekarang,” ujar Dion.

Yang menarik, kata Dion, dalam fitur Chat with Doctor, diketahui jika konsultasi meningkat drastis, termasuk terkait Kesehatan Jiwa. Selain itu, Halodoc juga mencatat pertumbuhan yang signifikan dan kini terdapat 20 juta pengguna aktif tiap bulannya. Sebelumnya, Halodoc juga menginisiasi Chat with Doctor gratis di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-75 pada 17 Agustus 2020 sebagai perwujudan Gerakan #MerdekaDariCOVID19.

“Sampai saat ini kami telah bermitra dengan 20.000 dokter dan ribuan farmasi di lebih dari 100 kota untuk delivery obat. Kalau untuk farmasi delivery (Toko Kesehatan), kami memiliki kemitraan strategis dengan Gojek, sehingga layanan ini tersedia di wilayah-wilayah yang ter-cover oleh Gojek,” ujar Dion.

East Ventures: Perlunya Optimisme Startup

ilustrasi startupBagi investor, optimisme untuk bisa survive adalah salah satu kunci agar startup tidak jatuh lebih dalam. Dikatakan Devina Halim, Vice President of Investment East Ventures, ada sekitar 160 startup yang menjadi asuhan dari perusahaannya. Saat pandemi berlangsung, semua dilihat kembali, khususnya dari sisi mindset para pendirinya. Mindset para pendiri startup sangat penting untuk melihat optimisme mereka menghadapi pandemi yang dipastikan akan berlangsung lama.

“Juni lalu itu waktu peak-nya. Kami mulai melakukan round call ke 160 startup. Tujuan untuk mengetahui mindset para founder, lalu seberapa banyak cash yang mereka punya. Kita harus tahu posisi financial mereka, termasuk cost cutting strategy,” ujar Devina.

Dari langkah-langkah tersebut maka akan diketahui strategi yang dijalankan berikutnya, yakni mengeluarkan keputusan untuk meng-cut pengeluaran yang tak penting dan fokus pada layanan andalan.  Seperti yang dilakukan Gojek, melihat perubahan perilaku konsumen di tengah pandemi, maka Gojek menerapkan strategi yang fokus pada bisnis inti untuk memastikan pertumbuhan Gojek dan ekosistem nya yang berkesinambungan yaitu transportasi online, pesan-antar makanan dan kebutuhan pokok, dan dompet digital.

Devina mengakui, sejak pandemi sampai April kemarin, masih ada sekitar 100 startup asuhan East Ventures yang masih bertahan dan aktif. Pasalnya, mereka telah membuat kategorisasi startup berdasarkan dampak pandemi. Mulai dari Very Badly Impacted (seperti online travel dan booking hotel), Slightly Impacted, sampai Unique Company atau perusahaan baru yang muncul karena inovasi baru dan membuat mereka bisa bertahan.