Telkom Rebranding Indigo untuk Akselerasi Startup di Indonesia

Jakarta, Gizmologi – Ekosistem startup di Indonesia pada tahun 2021 bergerak menuju arah yang positif. Merespon hal tersebut Indigo yang merupakan Program Incubator dan Accelerator startup digital milik PT Telkom Indonesia Tbk (IDX: TLKM) melakukan rebranding dengan tagline #TransformNation.

Rebranding Indigo ini bertujuan untuk menjawab tantangan perubahan untuk mempercepat perkembangan ekosistem startup dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dengan visi menjadi tempat yang tepat bagi para founder startup di Indonesia, mereka akan mewujudkan visi inovasi digitalnya yang dapat memberikan dampak besar bagi bangsa dan negara.

“Kebaruan dari proses rebranding Indigo bukan hanya secara internal, tapi juga dalam hal pengelolaan program inkubasinya, termasuk juga dengan meluncurkan inisiatif secara eksternal dan besar harapannya bisa memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi digital yang nyata bagi Indonesia,” kata Direktur Digital Business Telkom Fajrin Rasyid, Selasa (7/9).

Baca juga: Dianggap Efisien, Startup Lebih Banyak Implementasi Layanan Cloud Ketimbang Enterprise

Apa itu Indigo?

Fajrin Rasyid Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia Tbk 2
Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia, Tbk

Fajrin mengatakan Indigo merupakan program inkubasi/akselerasi startup yang lengkap dari Telkom dengan program pengembangan startup end-to-end. Programnya dimulai dengan kegiatan nurturing creativity di tahapan pre-startup, inkubasi/akselerasi startup hingga pada program sinergi bisnis dan investasi lanjutan atau follow-on-funding. Program inkubasi/akselerasi startup digital ini pertama kali diadakan pada tahun 2013 dan secara konsisten melaksanakan startup batch intake sebanyak dua kali setiap tahunnya.

Selama delapan tahun menjalankan program inkubasi dan akselerasi startup digital, Indigo telah membina 52.276 talenta digital yang tersebar di 17 IndigoSpace. Sebelumnya, coworking space ini bernama “Digital Innovation Lounge” yang tersebar di seluruh Indonesia.

Platform startup besutan Telkom ini juga sudah membina 194 startup dari 15 jenis industri. Dari 194 startup tersebut, terdapat 91 startup alumni yang masih aktif menjalankan bisnisnya di pasar domestik maupun internasional, 28 startup yang saat ini sedang berada dalam program inkubasi/akselerasi, dan 75 startup gagal.

Selain itu terdapat 24 startup yang telah memperoleh investasi lanjutan dari berbagai Venture Capital (VC) serta investor dalam dan luar negeri. Bahkan pada tanggal 8 September 2021 mendatang, RUN System (startup Indigo tahun 2014) akan menjadi startup alumni Indigo pertama yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (IDX) dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) menggunakan kode saham RUNS.

Startup telah berkontribusi dalam mendigitalisasi Indonesia di berbagai sektor seperti smart city, commerce, financial, small medium enterprise, education, logistic, health, dan enterprise di mana beberapa kontribusi ini terwujud melalui kolaborasi bersama TelkomGroup. Kolaborasi lain dalam mendukung tumbuhnya ekosistem startup di Indonesia juga Indigo lakukan melalui kerja samanya antara lain dengan berbagai instansi pemerintah, Perguruan Tinggi, serta komunitas startup.

Pada 2019, mereka telah mengembangkan program inkubasi khusus bagi startup game bernama IndigoGame. Saat ini sudah memasuki batch ke-4 ini bertujuan meningkatkan market share konten game yang potensinya masih sangat besar. “Dari 30 startup game yang mengikuti IndigoGame sejak 2019, beberapa di antaranya bahkan telah menarik minat sejumlah publisher global untuk melakukan publishing game asal Indonesia ini,” imbuh Fajrin.

Akselerasi Startup di Indigo

Indigo Creative Nation 2020

Adapun kebaruan yang dikembangkan melalui kegiatan rebranding yakni, pertama, perubahan nama Indigo Creative Nation sebagai program inkubasi/akselerasi startup digital milik PT Telkom Indonesia berubah menjadi Indigo. Kedua, Digital Innovation Lounge (DILo) sebagai creative camp yang menjalankan program pembinaan talenta digital di 17 kota di Indonesia memiliki nama baru yaitu IndigoSpace.

Ketiga, perubahan nama Digital Valley (DiVa) sebagai creative center tempat para founder startup binaan beraktivitas yang tersebar di 4 kota di Indonesia (Bandung, Jogja, Jakarta, dan Makassar) menjadi IndigoHub.

Keempat, perubahan mekanisme startup batch intake, yang diadakan dua kali dalam setahun, dengan melaksanakan kegiatan bootcamp terlebih dahulu bersama para startup mentor yang andal untuk meningkatkan kualitas dan penajaman rencana bisnis startup.

“Termasuk meluncurkan komunitas resmi Indigo bagi para startup enthusiast untuk saling memberikan dukungan dan kolaborasi satu sama lain yang diberi nama Indigo Connect,” lanjutnya.

Sebelumnya, pada September 2021, Indigo juga telah membuka kembali program inkubasi/akselerasi startup intake batch 2. Beberapa contoh startup sukses yang diinkubasi dan diakselerasi di program selain RUN System yang akan melakukan IPO dalam waktu dekat antara lain PrivyID (aplikasi tanda tangan digital), IZY (penyedia mobile concierge), Verihubs (penyedia layanan verifikasi data berbasis Artificial Intelligence [AI].

Kemudian ada Nodeflux (aplikasi video analytic berbasis AI), Muslim Life (platform edukasi keluarga muslim), Opsigo (online booking platform dan corporate travel management), Goers (online ticketing system), Osman (aplikasi penunjang bisnis kegiatan BUMDES), OnTruck (platform logistic on-demand), dan Bahaso (platform e-learning bahasa asing).

Tinggalkan komen