Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Gunakan Solusi AWS, Sayurbox Optimasi Layanan Digital

0 272

Adanya pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun, membuat masyarakat memilih cara yang berbeda untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari, termasuk makanan. Dari membeli secara luring, kini memilih jalur daring lewat beberapa penyedia. Salah satu yang cukup dikenal adalah Sayurbox, startup yang didirkan sejak 2017 lalu.

Sayurbox sendiri memiliki visi untuk memotong rantai distribusi penjualan, supaya petani punya lebih banyak akses ke konsumen. Berdirinya sebuah startup ini didasari oleh keinginan Amanda Cole sebagai CEO dan co-founder, untuk mensejahterakan para petani di Indonesia. Agar dapat berikan pelayanan yang terbaik, startup ini menggunakan beberapa layanan dari Amazon Web Services (AWS).

Selain menjadi startup rintisan Indonesia, yang juga menarik adalah perannya untuk memberdayakan pekerja perempuan, yang pada umumnya tak banyak terutama untuk berkiprah di dunia teknologi. Pihaknya juga memiliki rencana untuk berekspansi di waktu mendatang, baik dari segi layanan maupun lokasi.

Memilih AWS Karena Dinilai Mudah Digunakan

Amanda Susanti Cole, Chief Executive Officer at Sayurbox
Amanda Susanti Cole, Chief Executive Officer Sayurbox.

Saat awal berdiri di tahun 2017, Sayurbox menggunakan sistem file-based sederhana untuk jalankan bisnisnya. Seiring dengan pertumbuhan bisnis, diperlukan infrastruktur yang lebih baik dan scalable untuk penuhi kebutuhan. Dalam sebuah sesi diskusi virtual, Listiarso Wastuargo, VP of Engineering, Sayurbox tegaskan alasan perusahaannya memilih AWS dalam perkuat infrastruktur teknologinya.

Saat setelah ia meninjau ulang penggunaan teknologi cloud, pria yang lebih akrab disapa Gogo tersebut menilai AWS memiliki edukasi yang baik. Lebih banyak orang yang sudah akrab dengan AWS, dan punya tampilan antarmuka yang lebih mudah digunakan, serta dikelola oleh timnya.

Saat ini, Sayurbox masih dalam tahap proses migrasi ke AWS, meski beban kerja kebanyakan sudah berada di cloud milik Amazon tersebut. Solusi AWS diterapkan secara end-to-end alias dari hulu ke hilir. Mulai dari petani, logistik, sampai aplikasi yang digunakan pelanggan untuk akses semua layanan yang disediakan.

Manfaatkan Beragam Solusi Cloud Milik AWS

Listiarso Wastuargo, Vice President of Engineering at Sayurbox
Listiarso Wastuargo, Vice President of Engineering Sayurbox.

Solusi yang diterapkan pun cukup beragam, mulai dari Amazon Elastic Cloud Compute (EC2) yang dapat menyesuaikan komputasi dengan lalu lintas data, Amazon Simple Storage Service (S3) untuk simpan file, dan Amazon CloudFront untuk suguhkan file secara instan demi kepuasan pelanggan.

Layanan untuk MySQL dan PostgreSQL, Amazon Relational Data Service (RDS) juga digunakan untuk beban kerja analitika data. Karena semua proses sudah berlangsung digital, Sayurbox tak perlu melakukan pengaturan secara manual. Biaya TI pun dapat dihemat, hingga seperlima dibandingkan sebelumnya.

Untuk segi layanan, saat ini telah ditambahkan layanan next-day delivery (pengantaran hari esok) dan pengantaran instan (30 – 60 menit) di lokasi tertentu. Sementara dari segi lokasi, rencana akan berekspansi ke wilayah luar Jabodetabek, Bali dan Surabaya.

Baca juga: AWS Paparkan Pentingnya Menghemat Biaya TI Bagi Startup

Turut Berdayakan Perempuan Mulai Petani Hingga Karyawan

Selain berdayakan petani, Amanda juga menyampaikan bila ia ingin perkuat pemberdayaan perempuan. Mayoritas pelanggan setianya 90% didominasi oleh perempuan dari segala rentang usia dan jenjang kehidupan. Sementara di internal, mayoritas karyawan dan posisi pimpinan juga dipegang oleh perempuan berkompeten.

Menurutnya, tempat kerja yang lebih beragam dan terbuka bagi perempuan telah bersumbangsih secara nyata terhadap kinerja perusahaan. “Sebelumnya, para petani perempuan hanya bisa menunggu sampai dagangan mereka dibeli oleh pelanggan.” Dengan adanya Sayurbox, mereka bisa langsung terhubung oleh konsumen.

Hal tersebut menjadi motivasi bagi mereka untuk berusaha lebih keras tingkatkan keuangan keluarga para petani. “Saya berharap cerita ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lainnya untuk menjadi pemimpin di dunia teknologi,” tutup Amanda.

Tinggalkan komen