Jakarta, Gizmologi – Dalam memberikan kualitas telekomunikasi dengan cakupan terbaik, bisnis satelit memiliki potensi untuk dioptimalkan di negara kepulauan seperti Indonesia. Selain itu, disebut pula jika satelit dapat menjadi wujud kedaulatan bangsa di angkasa.
Walaupun dinilai bisa menjadi solusi yang pas, bisnis satelit di Indonesia disebut masih jarang diperbincangkan dan kurang mendapat perhatian. Hal tersebut disinggung dalam sebuah sesi diskusi yang digelar oleh IndoTelko Forum, Selasa (30/1) kemarin. Membuka sesi diskusi, Doni Ismanto selaku founder IndoTelko sebutkan bila situasi tersebut cukup disayangkan, mengingat bisa menjadi tulang punggung telekomunikasi.
Disebutkan bila jumlah satelit dalam 4-5 tahun terakhir meningkat. Situasi tersebut dapat diartikan bila bisnis satelit sejatinya mampu memberikan banyak peluang—juga diikuti oleh sejumlah ancaman baru. Di Indonesia sendiri, setidaknya ada dua jenis satelit yakni Geostationery Orbit (GEO) dan Low Earth Orbit (LEO). Di mana keduanya mampu memberikan benefit masing-masing.
Selain penentuan jenis satelit mana yang lebih tepat, hal lain yang perlu diperhatikan dalam bisnis satelit adalah slot orbit untuk menempatkan sebuah satelit di angkasa. Dan masih ada tantangan lain yang harus dihadapi.
Baca juga: Akhir Tahun 2023, 6.547 BTS 4G BAKTI Kominfo di Kawasan 3T On Air dari Target 7.300
Bisnis Satelit Indonesia Perlu Dukungan Berbagai Pihak

Terkait benefit, satelit GEO dinilai mampu memberikan kestabilan posisi yang unggul, dengan kapasitas transponder besar sehingga ideal untuk melayani wilayah geografi lebih luas. Sementara satelit LEO bisa berikan latensi lebih rendah dengan kecepatan tinggi, namun dengan transponder terbatas, umur satelit yang relatif pendek (5 tahun), serta memerlukan jumlah lebih banyak.
Pada kesempatan yang sama, M Ridwan Effendy, pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) turut membenarkan bila bisnis satelit bisa menjadi masa depan negara dan menjadi tulang punggung telekomunikasi—menjadi bagian dari visi negara di 2045 mendatang. Ia mengatakan bila Satelit GEO bisa berikan keuntungan tersendiri, seperti proses deployment yang lebih mudah.
Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan demi mendorong bisnis satelit di Tanah Air, yakni seperti memberikan peluang kepada pihak BUMN maupun swasta untuk menjadi penyedia. “Satelit GEO masih sangat dibutuhkan untuk Indonesia yang berjenis kepulauan. Kita punya kewajiban bersama untuk penyelenggara satelit luar dan dalam negeri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ridwan sebutkan bila negara bisa menggunakan APBN atau insentif seperti dana Universal Service Obligation (USO) untuk pembangunan bisnis satelit. Kendali atas bisnis satelit, faktor keamanan serta perlindungan dari berbagai jenis ancaman menjadi kunci untuk menjaga kedaulatan Indonesia di angkasa.
BAKTI Kominfo Pertimbangkan Lebih Banyak Satelit GEO

Ridwan menjelaskan, saat ini telah ada sejumlah satelit nasional yang telah mengorbit. Beberapa di antaranya seperti BRIsat yang mengorbit hingga 2031, Nusantara Satu hingga 2034, Telkom 3S hingga 2032 dan Merah Putih hingga 2033. Membuat kapasitas total satelit nasional mencapai 8653 MHz dengan kapasitas ekuivalen setara 17 Gbps.
Dua jenis satelit GEO dan LEO juga sedang dipertimbangkan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk proyek Satria-2 yang dijadwalkan meluncur tahun ini. Sesuai dengan rencana yang termuat dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Sri Sanggrama Aradea, Kepala Divisi Infrastruktur Satelit BAKTI Kominfo mengatakan bila kedua jenis satelit tersebut memiliki kelebihan kekurangan masing-masing terutama pada aspek keamanan. “Satelit GEO lebih aman karena kami memiliki kendali penuh atas jaringan Satria-1, sedangkan LEO yang terintegrasi dengan pasar global lebih sulit untuk dikontrol sepenuhnya.”
Nilai investasi proyek Satria-2 diperkirakan mencapai USD884 juta, atau setara Rp13,7 trilyun. Siap dimulai pada tahun ini, kabarnya proyek tersebut bakal mampu menambah hingga 45 ribu titik layanan internet yang bakal tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




