Jakarta, Gizmologi – Microsoft terus mendorong pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence menujur ruang kelas melalui program Microsoft Elevate. Menggandeng NU Care Global, Microsoft Elevate menghadirkan pelatihan ketarampilan AI praktis juga humanis bagi guru/ pendidik di sektor formal dan non-formal di bawah Kementerian Agama.
Memanfaatkan teknologi dari Copilot, guru yang mengajar di kelas dapat mengoptimalkan kemampuan AI dengan fitur AI Conversation Pratice dan Reading Progress. Di mana para guru bisa memberikan latihan kepada para siswa agar dapat mensimulasikan percakapan secara mandiri.
“AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan setara. Ketika pendidik dibekali keterampilan dan pemahaman yang tepat, mereka dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan berdampak bagi generasi masa depan,” ujar Arief Suseno, AI Skills Director, Microsoft Indonesia.
Program ini membekali guru dengan materi seperti AI for Educators, Build Agent AI, hingga memperkenalkan 21st Century Learning Design. Selain keterampilan teknis, pelatihan ini juga mengintegrasikan nilai Spiritual Intelligence yang menekankan tujuan, empati, dan kerendahan hati dalam penggunaan teknologi.
Baca juga: CEO Gaming Baru Microsoft Janji Tak Banjiri Industri dengan “AI Slop”
Microsoft Copilot dalam Pembelajaran di Pesantren

Salah satu lembaga pendidikan yang menerima manfaat dari program Microsoft Elevate ini ialah Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, melalui salah satu guru bernama Hasan Basri. Ketertarikan Bapak Hasan untuk mendalami AI untuk pembelajaran membawanya ikut serta dalam program pelatihan dari Microsoft.
Wawasannya tentang kecerdasan buatan (AI) mulai terbuka ketika ia diperkenalkan pada pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan melalui berbagai pelatihan dan diskursus di tingkat nasional yang mendorong transformasi digital bagi tenaga pendidik. Seiring meningkatnya perhatian pemerintah dan ekosistem pendidikan terhadap peran AI dalam pembelajaran, ia melihat bahwa teknologi yang sebelumnya terasa jauh dari ruang kelas pesantren mulai diarahkan untuk mendukung proses belajar-mengajar secara lebih luas dan inklusif.
Dirinya mengikuti AI Teaching Power, program pelatihan kolaborasi Microsoft Elevate dan NUCare Global by LAZISNU yang membekali guru dengan keterampilan praktis memanfaatkan AI dalam pembelajaran berbasis nilai. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya mulai melihat AI bukan sebagai konsep abstrak, melainkan alat yang relevan dengan keseharian mengajarnya.
Melalui fitur AI Conversation Practice di Copilot, santri dapat mensimulasikan percakapan Bahasa Arab secara mandiri, mulai dari dialog perkenalan hingga diskusi materi pelajaran. Latihan yang sebelumnya terbatas pada jam kelas kini dapat dilakukan kapan saja.
Pemanfaatan AI juga meluas ke pembelajaran Alquran dan kitab rujukan pesantren lainnya. Melalui Reading Progress dan Speaking Progress, Hasan dapat memantau kemampuan baca santri secara komprehensif, mulai dari pelafalan, kaidah tajwid, tanda baca, hingga struktur bahasa.
Waktu Guru Lebih Efisien Setelah Menggunakan Microsoft Copilot
Selama bertahun-tahun mengajar, salah satu tantangan terbesar yang Hasan hadapi adalah keterbatasan waktu. Tanggung jawabnya tidak berhenti di ruang kelas. Ia harus menyiapkan rencana pembelajaran, menyusun silabus, membuat materi, hingga mengoreksi tugas santri secara manual.
Di saat yang sama, ia ingin memastikan setiap santri mendapatkan perhatian yang cukup, terutama dalam pelajaran berbasis bahasa dan bacaan yang membutuhkan evaluasi detail. Beban administratif yang besar kerap menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mendampingi proses belajar secara lebih mendalam.
Kondisi inilah yang berubah ketika ia mulai menggunakan Microsoft Copilot dalam kesehariannya. Sejak menggunakan Copilot sebagai ‘asisten’ mengajar, pekerjaan administratif dapat diselesaikan jauh lebih efisien. Ia memanfaatkannya untuk menyusun materi, merancang evaluasi, hingga membangun struktur pembelajaran Bahasa Arab yang lebih sistematis.
Efisiensi ini memberinya ruang untuk memperkuat pembinaan akhlak kepada para santrinya. Waktu yang sebelumnya habis mengurusdokumen kini dapat dialihkan untuk berinteraksi lebih dekat dengan santri. “Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pambinaan akhlak para santri,” ujar Hasan Basri.
Perubahan tersebut juga memengaruhi cara ia menyampaikan materi. Pelajaran agama yang sebelumnya hanya berfokus pada lisan kini dapat diperkaya dengan media pembelajaran yang lebih variatif, membuat santri lebih terlibat dalam proses belajar.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



