Jakarta, Gizmologi – Baru-baru ini OpenSignal melaporkan perihal kecepatan download dari jaringan internet seluler di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa rerata kecepatan unduh atau download pengguna smartphone Indonesia masih di bawah 10 Mbps.
Hal tersebut berdasarkan laporan OpenSignal bertajuk “Over 20% of Smartphone Users in Indonesia See Average Download Speeds Below 10 Mbps.” Di mana Opensignal mengkaji pengalaman jaringan seluler pengguna smartphone di seluruh Indonesia.
“Kesenjangan kualitas pengalaman jaringan seluler berfluktuasi secara signifikan di berbagai wilayah di Indonesia,” papar analis dari OpensSignal Hardik Khatri dalam laporan tersebut, Kamis (12/10/2023).
Dikatakan Hardik, sebagian besar pengguna jaringan seluler di Indonesia menikmati kecepatan unduh dan menonton video yang cukup baik. Namun, sebaliknya masih banyak juga pengguna masih harus berkutat dengan pengalaman seluler yang lebih rendah dibandingkan dengan biasanya, baik secara nasional maupun regional.
Opensignal mencatat bahwa rerata kecepatan internet seluler di smartphone orang Indonesia angkanya mencapai 21,1 Mbps. Akan tetapi, sebagian besar tidak merasakannya. Bahkan sekitar 52 persen pengguna cuma merasakan kecepatan unduh rata-rata di bawah 20 Mbps.
Rerata Kecepatan Download Pengguna Smartphone di Indonesia

Lebih parah lagi, sekitar 20 persen orang di Indonesia masih melihat rerata kecepatan download mereka berada di bawah 10 Mbps. Beberapa wilayah yang mengalami akses internet lemot saat mengunduh adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku, dan Sumatra. Kelimanya mencatatkan persentase yang lebih tinggi dari rerata angka nasional.
“Sejumlah besar pengguna yang berjuang dengan layanan jaringan seluler di bawah rata-rata menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk perbaikan jaringan seluler di Indonesia,” jelasnya.
Dari sisi operator seluler, pengguna Smartfren tercatat mengambil porsi terbesar untuk pengalaman kecepatan unduh pengguna di bawah 10 Mbps, dengan persentase 41 persen. Secara beruntun diikuti oleh Indosat IOH dengan 30,4 persen, 3 (Tri) sebesar 29 persen, dan paling sedikit adalah Telkomsel dengan hanya 10,8 persen.
Lebih lanjut, Opensignal juga menganalisis situasi waktu tanpa sinyal atau time with no signal. Hal tersebut diukur berdasarkan persentase hilangnya sinyal saat mengakses internet.
Baca Juga: Riset OpenSignal: Internet 5G di Indonesia Bakal Tiga Kali Lebih Ngebut dari Wi-Fi dan 4G

Hasilnya, sudah bisa ditebak bahwa kualitas internet di Jabodetabek dan sekitarnya memiliki proporsi pengguna terendah dengan situasi tersebut. Di mana secara umum, mayoritas penduduk Indonesia (sekitar 85 persen) hanya merasakan sekitar 1 persen waktu yang dihabiskan tanpa adanya sinyal internet.
Sedangkan hanya sebagian kecil (6,3 persen) orang yang menghabiskan sekitar 5 persen waktunya tanpa koneksi. Wilayah yang punya porsi pengguna tertinggi kategori time with no signal adalah Maluku, Kalimantan, dan Papua Barat.
“Seiring dengan perkembangan lanskap digital Indonesia, mengatasi kesenjangan ini akan sangat penting untuk memastikan akses yang adil ke layanan seluler dan mendukung beragam kebutuhan pengguna,” pungkas OpenSignal.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




