Sediakan Materi untuk Guru, Turnitin Edukasi Anak Lawan Berita Hoaks

Situasi pandemi membuat masyarakat menggunakan platform digital untuk berkomunikasi satu sama lain setiap harinya. Hampir semua orang kini telah memiliki smartphone, terpasang aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, LINE maupun Telegram, dan bercakap-cakap melalui teks, suara maupun video. Tentunya, ada risiko yang menyertai metode komunikasi satu ini.

Risikonya adalah masyarakat yang menjadi mudah terpapar limpahan informasi yang tersebar di dunia maya. Mudahnya akses berita digital membuat para penggunanya secara instan melahap berita, lalu meneruskannya ke rekan maupun teman. Tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut apakah berita tersebut valid atau tidak, menjadi penerus informasi hoaks dan sejenissnya.

Turnitin, perusahaan global penyedia teknologi untuk mendeteksi plagiarisme, menyebutkan bila dunia baru yang serba digital dan terhubung ini membutuhkan pengguna daring yang lebih cerdas. Mendukung pemahaman yang lebih baik dalam mengkomunikasikan ide dan informasi. Demi ditekannya informasi berita hoaks yang diteruskan dari masyarakat satu dengan lainnya.

Baca juga: Gandeng MAFINDO, WhatsApp Hadirkan Chatbot Lawan Hoaks

Turnitin Tekankan Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini

Turnitin

Menurut Yovita Marlina, Senior Manager Customer Growth kawasan Asia Tenggara dari Turnitin, literasi digital adalah jawaban atas tantangan di era sekarang. Hal tersebut dinilai dapat membantu masyarakat untuk memahami teknologi, agar mereka dapat menggunakannya dengan aman dan efektif.

Kemampuan untuk menemukan, mengolah serta membuat informasi secara daring agar bermanfaat merupakan bagian dari literasi digital. Lewat sebuah rilis yang diterima Gizmologi (27/11), ia mengungkapkan, “sangat penting bagi siswa untuk mempelajari hal ini sejak dini, terutama karena semakin berkembangnya pembelajaran berbasis daring.”

Namun ketika informasi tersedia secara gratis, ada tantangan yang cukup besar untuk diatasi, yaitu penyebaran informasi yang salah. Pada pertengahan Juni 2020, Kepolisian RI telah identifikasi lebih dari 130 ribu berita palsu terkait pandemi selama tiga bulan terakhir. Hoaks tersebut membangun rasa ketidakpercayaan pada pemerintah.

“Selama pandemi Covid-19, penyebaran informasi palsu telah menyebabkan kebingungan pada masyarakat. Aplikasi komunikasi seperti WhatsApp dan Telegram dibanjiri dengan berita palsu dan konspirasi tentang penyebaran virus,” tambah Yovita. Untuk itu, penting bagi siswa agar dibekali dengan kemampuan berpikir krisits dalam evaluasi kredibilitas sumber berita.

Berikan Paket Pengajaran Khusus Untuk Siswa

Untuk mendukung guru dalam edukasi siswa akan berita palsu, Turnitin telah rilis paket Source Credibility online, yang dapat Gizmo friends akses pada tautan berikut ini. Paket tersebut berisi rencana pelajaran, video, kegiatan dan panduan penilaian yang dapat dorong siswa untuk temukan sumber yaang lebih kredibel.

Selain itu, alat lainnya seperti NewsGuard juga bisa bantu siswa memeriksa informasi dengan pandangan yang lebih kritis, serta mengidentifikasi sumber terlegitimasi. Pengguna aplikasi perpesanan juga dapat mengirim teks ke chatbot anti-hoax untuk verifikasi keaslian berita.

“Pendidik benar-benar memiliki peran penting dalam memastikan bahwa generasi mendatang, sebagian besar dari warga negara dunia, dilengkapi dengan kemampuan memilah antara yang palsu dan asli terkait informasi dan pemberitaan,” tutup Yovita.

Tinggalkan komen