Jakarta, Gizmologi – Bagi para umat Muslim, momen Ramadan sangat erat dikaitkan dengan momen mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) dan liburan untuk berkumpul dengan keluarga. Bersamaan dengan itu, risiko penipuan juga meningkat, memanfaatkan momen yang sama untuk mendapatkan keuntungan melalui cara yang tidak benar. Untuk itu, VIDA sebagai penyedia layanan identitas digital yang terus cegah penipuan, meluncurkan Public Service Announcement (PSA) khusus “Jangan Asal Klik”.
Sesuai nama kampanye yang dijalankan, VIDA menitik beratkan momen yang memang kerap terjadi di kalangan masyarakat, di mana pada era digital dengan smartphone yang semakin memberikan kemudahan akses, justru meningkatkan risiko penipuan terutama bagi mereka yang kurang berhati-hati dalam mengakses informasi hingga aplikasi dari berbagai sumber. Kampanye ini siap mendorong literasi anti-scam, khususnya pada periode di mana aktivitas digital masyarakat meningkat jelang momen Lebaran.
Kampanye “Jangan Asal Klik” bakal hadir untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap penipuan digital. Pada saat yang sama, selain diresmikan bersama perwakilan dari Kementerian Komdigi RI, VIDA juga meluncurkan sebuah whitepaper baru bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook”, yang bisa Gizmo friends akses secara gratis.
Baca juga: Laporan Appdome 2025: Ancaman Penipuan Berbasis AI Buat Konsumen Tinggalkan Aplikasi Mobile
Laporan Terkait Penipuan Umumnya Meningkat Jelang Lebaran

Scam atau penipuan digital memang semakin marak terjadi, dan korbannya pun semakin marak. Berdasarkan laporan dari Komdigi, disebutkan setidaknya ada sekitar 1700 laporan terkait scam digital setiap harinya. Dan umumnya pola akan meningkat bergantung momentum, salah satunya seperti menjelang Lebaran dan libur sekolah.
“Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” jelas Teguh Arifiyadi, Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, yang turut hadir dalam peresmian kampanye terbaru VIDA (10/3). Ia kemudian menambahkan bila penipuan kerap terjadi lewat aplikasi berkirim pesan seperti WhatsApp, maupun media sosial.
Dari keduanya, lebih banyak laporan terkait nomor rekening bank maupun nomor e-wallet yang terjadi lewat aplikasi berkirim pesan. Dan dari temuan tersebut, disebutkan bila pelaku kerap memanfaatkan kanal terdekat dengan keseharian, sehingga pesan dan tautan yang dikirimkan lebih mudah dipercaya oleh penerimanya—berujung pada masyarakat yang langsung membuka atau klik, tanpa melakukan verifikasi tambahan.
Victor Indajang, Chief Operating Officer VIDA mengatakan, satu tautan palsu mampu memicu pencurian data dalam hitungan detik, termasuk dalam periode pencairan THR. “Siapa pun bisa terjerat. Karena itu, ‘Jangan Asal Klik’ kami kemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami, menargetkan lintas generasi, terutama generasi muda yang aktif di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Kami percaya, kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital.”
VIDA Paparkan Tips Sederhana Untuk Mencegah Terkena Scam

Kampanye VIDA mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengecek apakah link maupun dokumen yang diterima atau dibagikan, punya indikasi mencurigakan sebelum tindakan diambil, dan sudah selaras dengan peringatan terkait peningkatan modus penipuan dokumen digital, impersonasi, serta social engineering berbasis AI dari Komdigi, OJK, hingga Bank Indonesia (BI). Di mana OJK sendiri mengungkap kerugian masyarakat akibat penipuan digital sudah mencapai Rp9,1 triliun dalam rentang November 2024 hingga akhir 2025 kemarin.
Modusnya sendiri beraham, mulai dari phising, investasi bodong, hingga dokumen digital yang dibuat agar tampak resmi. Oleh karenanya, VIDA mangajak masyarakat agar dapat membangun kebiasaan digital yang lebih aman. Ada beberapa langkah mudah yang bisa Gizmo friends mulai terapkan.
Yakni agar tidak meng-klik link dari pesan tidak dikenal, terutama pesan yang menimbulkan rasa panik. Dan terus waspadai file APK atau dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan, terutama di luar toko aplikasi seperti Google Play Store. Dan pastikan untuk tidak membagikan kode seperti OTP, PIN, hingga kode verifikasi—karena pihak resmi pun tidak pernah meminta kode sejenis.
Lalu tahap yang juga tidak kalah penting adalah untuk selalu melakukan verifikasi ulang dalam setiap permintaan transfer dana, meski menggunakan atas nama orang terdekat atau yang sudah dikenal. “Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan,” tutup Victor.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



