Jakarta, Gizmologi – Apple baru saja memperkenalkan laptop baru bernama MacBook Neo, yang diposisikan sebagai MacBook dengan harga paling terjangkau dalam lini produk mereka saat ini. Meski demikian, “terjangkau” di sini tetap dalam konteks ekosistem Apple, bukan berarti perangkat ini masuk kategori laptop murah secara umum.
Peluncuran MacBook Neo tampaknya menjadi strategi Apple untuk menjangkau pasar yang lebih luas, terutama pengguna yang selama ini menganggap MacBook terlalu mahal. Dengan varian baru ini, Apple mencoba membuka pintu bagi pengguna baru tanpa harus langsung masuk ke model MacBook yang lebih mahal.
Menurut sejumlah laporan industri, Apple menargetkan pengiriman MacBook Neo mencapai sekitar 4,5 hingga 5 juta unit sepanjang tahun ini. Sekitar 2 hingga 2,5 juta unit di antaranya diperkirakan sudah akan dikirim sebelum akhir Juni, menunjukkan ekspektasi permintaan yang cukup besar dari pasar.
Baca Juga: Apple Resmikan MacBook Neo, Laptop Apple Termurah Harga Mulai Rp10 Jutaan
Produksi Masih Bertumpu pada Satu Mitra

Saat ini, MacBook Neo dirakit secara eksklusif oleh Quanta Computer, salah satu mitra manufaktur lama Apple. Namun laporan industri menyebut bahwa Foxconn berpotensi ikut terlibat sebagai pemasok tambahan dalam waktu dekat.
Jika langkah ini benar terjadi, Apple kemungkinan ingin memperluas kapasitas produksi untuk mengantisipasi permintaan yang lebih tinggi dari perkiraan awal. Diversifikasi mitra produksi juga menjadi strategi umum bagi Apple untuk menjaga stabilitas rantai pasokan.
Di sisi lain, perusahaan manufaktur lain seperti Luxshare Precision Industry dilaporkan tertarik menjadi perakit untuk generasi berikutnya, yang sementara disebut sebagai MacBook Neo 2. Luxshare sendiri sedang memperluas bisnis perakitan laptop dalam beberapa tahun terakhir dengan ambisi menjadi salah satu produsen terbesar di industri tersebut.
Masa Depan Neo dan Strategi Fitur Apple
Untuk generasi berikutnya, sempat muncul rumor bahwa MacBook Neo 2 akan hadir dengan layar sentuh. Namun analis industri Ming-Chi Kuo menyebut bahwa rencana tersebut kemungkinan berubah.
Apple disebut mempertimbangkan untuk tidak menyematkan layar sentuh di lini Neo agar harga tetap kompetitif. Jika benar, fitur tersebut kemungkinan hanya akan tersedia pada model yang jauh lebih mahal seperti MacBook Ultra, yang diposisikan sebagai MacBook paling premium.
Menariknya, Kuo juga memprediksi bahwa laptop pesaing berpotensi mengalami kenaikan harga pada akhir tahun akibat meningkatnya biaya memori. Jika hal tersebut terjadi, MacBook Neo bisa terlihat semakin menarik dari sisi value.
Namun tentu saja, proyeksi seperti ini masih sangat bergantung pada kondisi pasar komponen global. Jika harga komponen kembali stabil atau kompetitor berhasil menekan biaya produksi, keunggulan harga MacBook Neo mungkin tidak akan bertahan lama.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



