Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Review Huawei P40 Pro Plus: Kamera Saku Leica Paling Canggih

4 6.765
82%
Kurang lengkap

Review Huawei P40 Pro Plus

Meski Huawei Mobile Services telah berkembang pesat dalam rentang waktu yang relatif singkat, situasi tersebut masih belum bisa seutuhnya memperbaiki situasi dimana Huawei P40 Plus tidak hadir dengan layanan dari Google.

  • Design
  • Display
  • Camera
  • Performance
  • Features
  • Battery

Ketika berbicara tentang smartphone flagship dengan kamera terbaik, seri smartphone Huawei P40 Pro Plus pasti muncul dalam benak para penggiat fotografi mobile. Sejak beberapa seri terdahulunya, Huawei P series dikenal dengan kameranya yang unggul, bekerja sama dengan Leica dalam pembuatannya.

Ciri khas tersebut terus dibawa sampai ke tahun 2020, dimana Huawei merilis seri P40. Varian terbaiknya, Huawei P40 Pro Plus yang kami ulas, memiliki total tujuh sensor kamera (dua di depan, lima di belakang). Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri. Apakah hasilnya memang memuaskan? Sesuai dengan judul, ya, bisa menjadi salah satu yang terbaik.

Namun kemampuan kamera yang sangat baik, versatile nan lengkap tersebut terganjal dengan situasi dagang yang sedang dialami Huawei hingga saat ini. Jika Huawei P30 Pro hadir sebagai smartphone yang hampir sempurna, Huawei P40 series terpaksa diluncurkan tanpa layanan Google. Huawei Mobile Services pun hadir sebagai alternatif.

Meski perkembangannya termasuk pesat, situasi ketersediaan aplikasi ketika saya mengulas smartphone ini masih membuat saya sulit untuk menobatkannya sebagai salah satu flagship layak beli. Apakah juga demikian untuk Gizmo friends? Berikut adalah ulasan lengkap Huawei P40 Pro Plus.

Desain

Desain Huawei P40 Pro Plus

Untuk sebuah smartphone yang banderol harganya hampir mencapai Rp20 juta, desain Huawei P40 Pro Plus memang sesuai, terlihat sangat premium dan terasa mahalnya. Khusus untuk seri Plus, bingkai atau frame beserta back cover-nya terbuat dari keramik, hanya hadir dalam dua pilihan warna saja (Black Ceramic & White Ceramic). Varian warna yang kami ulas adalah yang kedua, terasa kokoh dan berbobot.

Ketebalan Huawei P40 Pro Plus

Bobotnya sendiri mencapai 226 gram, dengan ketebalan 9mm. Tonjolan kameranya tidak terlalu keluar layaknya Samsung Galaxy Note20 Ultra, misalnya, meski total sensornya lebih banyak dengan dimensi lebih besar. Kalau telapak tangan mudah berkeringat, akan terasa sedikit licin. Dan ketika diletakkan di permukaan yang tidak rata, siap-siap saja tergelincir hingga jatuh. Sudah pernah terjadi pada unit yang kami ulas, dan bezelnya tetap utuh, alias kokoh.

Mulai bagian depan hingga belakang, dari keempat sisinya dibuat sangat seamless, tidak ada tepian yang terasa tajam di telapak tangan. Desain layarnya juga cukup spesial yang nanti bakal saya bahas di bagian selanjutnya. Secara keseluruhan, desainnya tidak membosankan, terasa premium dan worth atas budget yang sudah kita keluarkan untuk membeli smartphone ini.

Layar

Layar Huawei P40 Pro Plus

Ini adalah salah satu bagian yang paling spesial dari Huawei P40 Pro Plus. Secara spesifikasi sih memang bukan yang terbaik. Gunakan jenis panel OLED berdimensi 6,58 inci, refresh rate-nya mencapai 90Hz dengan resolusi 1200p, hasilkan kerapatan piksel 441ppi. Layar ini juga tentunya telah mendukung standar konten video HDR10.

Reproduksi warnanya sangat baik dan cukup akurat. Bagian spesial dari layar Huawei P40 Pro Plus adalah lengkungan kacanya. Jika umumnya sebuah smartphone flagship hanya miliki kaca lengkung di sisi kiri dan kanan, P40 Pro Plus justru di keempat sisinya. Selain membuatnya terlihat jauh lebih elegan, lengkungan ini membuat nyaman ketika bernavigasi dari ujung layar.

Huawei P40 Pro Plus

Hanya saja, dimensi kamera punch-hole terpaksa dibuat sedikit lebih besar, karena seluruh sensor yang esensial diletakkan di dalamnya. Serta, tidak terlihat adanya earpiece pada bagian atas layar. Huawei gunakan teknologi Acoustic Display untuk menyalurkan suara lewat getaran layar. Kualitas suaranya sama persis dengan keluaran suara earpiece pada umumnya.

Di balik layar tersebut, terdapat in-screen fingerprint scanner yang diklaim 30% lebih cepat dari generasi sebelumnya. Dan memang proses pembacaan sidik jarinya berjalan sangat akurat dalam waktu yang singkat. Hanya saja, Huawei tak berikan informasi mengenai lapisan pelindung bawaan kaca depan ini. Jadi ada baiknya untuk tetap menggunakan pelindung bawaan.

Kamera Huawei P40 Pro Plus

Kamera Huawei P40 Pro Plus

Ultra Vision Leica Penta Camera. Setup kamera yang dibawa Huawei P40 Pro Plus ini diklaim sangat versatile, sehingga mampu berikan kualitas yang sempurna 24/7, bagaimana pun kondisi pencahayaannya. Nggak kaget, sih, mengingat generasi-generasi sebelumnya juga membawa setup kamera dengan kualitas superior. Maka sangat wajar bila Huawei membuat klaim yang cukup tinggi untuk P40 Pro Plus.

Sensor utama ‘Ultra Vision’ pada smartphone ini punya resolusi 50MP, gunakan sistem Quad Bayer dengan dimensi sensor 1/1.28”, paling besar di antara flagship lainnya saat ini, bahkan mengalahkan 108MP milik Samsung dan Xiaomi. Sensor juga dilengkapi dengan teknologi Octa-PD autofocus, yang memang akurasinya cepat dan baik.

Lalu ada dua sensor 8MP yang masing-masing punya fungsi berbeda. Satu dengan 3x optical zoom, f/2.4, cocok untuk foto potret. Satu lagi 10x optical zoom, f/4.4 untuk foto objek jarak jauh, hingga maksimum 100x digital zoom. Ketiga sensor ini punya OIS, ditambah dengan AIS atau stabilisasi berbasis kecerdasan buatan dari Huawei.

Sensor yang satu lagi cukup unik dan berbeda dari smartphone kebanyakan. Yaitu 40MP Cine Camera, f/1.8. Kamera ini pada dasarnya adalah kamera ultra wide-angle, uniknya punya diafragma yang justru lebih besar dari sensor utama. Saat sensor ini digunakan, rasio foto otomatis berubah menjadi 3:2. Termasuk saat merekam video, sensor default-nya yang ini dulu, baru bisa pindah ke sensor wide/normal.

Untuk hasilkan efek bokeh yang natural, terdapat sensor kelima yang merupakan sensor 3D time-of-flight (ToF). Sementara di sektor video, Huawei P40 Pro Plus dapat merekam dengan resolusi maksimum 4K 60fps baik dengan kamera belakang maupun depan. Khusus kamera belakang, terdapat fitur super slow motion 960fps di resolusi full HD.

Untuk perekaman videonya sendiri, kualitasnya cukup bagus. Stabil baik di depan maupun belakang, dan field-of-view di kamera depan 32MP f/2.2-nya juga masih relative luas, tidak banyak terpotong. Dynamic range juga lebar berkat dukungan HDR video. Perpindahan antar sensor ketika merekam juga bisa berjalan smooth. Fitur professional tersedia baik untuk pengambilan foto maupun video.

Lalu bagaimana dengan kualitas foto dari total lima sensor kamera utamanya? Tentu, banyaknya jumlah sensor membuat smartphone ini sangat fleksibel untuk ambil foto. Pemandangan? Ultra-wide. Kualitas terbaik? Pakai sensor utama. Potret? 3x optical zoom, dan satu lagi untuk objek jarak jauh. Tone foto-nya juga mendekati aslinya, nggak lebay kecuali di waktu-waktu tertentu ketika foto objek manusia menggunakan mode malam.

Sensor ultra-wide, indoor cahaya melimpah.
Sensor utama, indoor cahaya melimpah.
Sensor telefoto 3x optical zoom.
100x zoom.
Mode potret, indoor cahaya cukup.
Kamera depan, outdoor malam hari.
Sensor utama, menggunakan mode malam.
Isu di Kamera

Namun meski begitu, kamera Huawei P40 Pro Plus masih memiliki beberapa isu. Setidaknya 2-3 kali dalam seminggu, ketika saya mencoba untuk ambil foto, hasilnya seolah seperti saya terlambat menekan tombol shutter, hasilkan foto buram dengan gerakan saya menurunkan smartphone seperti ini. Jarang sih, tapi kalau pas kejadian, terutama pas memang ambil fotonya hanya sekali, jadi tidak punya backup. Apalagi untuk momen yang hanya terjadi satu kali.

Isu kedua adalah tendensi kamera untuk membuat situasi pencahayaan lebih terang dari aslinya. Ini paling sering dialami ketika ambil foto sore hari menuju malam. Meski tanpa night mode dan peningkatan AI sekalipun, langit bakal terlihat jauh lebih terang seperti siang hari. Detil fotonya bagus, gedung atau objek lain terlihat detil. Namun suasana foto jadi tidak sesuai, seperti siang hari.

Juga mode malamnya yang tidak se-fleksibel milik Google Pixel atau flagship Samsung dan iPhone terbaru. Mau segelap atau seterang apapun, waktu yang dibutuhkan untuk ambil foto dengan night mode berada di rentang 5-6 detik. Meski begitu, mode ini mampu berikan tambahan detil yang diperlukan pada kondisi cahaya gelap pekat sekalipun.

Hasil foto lengkap dari Huawei P40 Pro Plus dapat diakses lewat album berikut ini.

Fitur

Huawei P40 Pro Plus

Berbeda dengan smartphone Android lainnya, bagian ini bakal saya isi dengan lebih banyak deskripsi mengenai situasi ketika Gizmo friends memutuskan untuk membeli smartphone Huawei tanpa layanan Google. Iya, memang ada cara untuk memasangkan GMS ke dalam smartphone ini. Namun metode tersebut tidak resmi, dan tidak ada jaminan bakal bisa digunakan seterusnya atau tidak.

Maka dari itu, saya seolah menantang diri untuk menggunakan Huawei P40 Pro Plus ‘as is’, sebagaimana mestinya. Dari awal penggunaan, situasinya kurang lebih serupa dengan Nokia X jaman dulu (kalau Gizmo friends ada yang pernah punya, ya). Tidak ada Google Play Store, jadi aplikasi hanya bisa dicari di AppGallery, atau Petal Search.

Huawei terus berusaha supaya aplikasi-aplikasi esensial yang dibutuhkan untuk pengguna smartphone-nya sehari-hari, ada di AppGallery. Aplikasi lokasl sendiri sebenarnya sudah cukup lengkap, baik perbankan seperti BCA Mobile dan BNI Mobile Banking, Tokopedia, Ruang Guru, Vidio dan beberapa lainnya. Untuk navigasi, ada HERE WeGo, platform navigasi besutan Nokia yang kini dimiliki oleh konsorsium otomotif, digunakan di mobil mewah seperti Jaguar.

Petal Search Huawei P40 Pro Plus

Nah kalau Petal Search ini bukan seperti widget Google Search biasa. Lewat aplikasi yang satu ini, kita bisa mendapatkan aplikasi yang dibutuhkan dari penyedia aplikasi pihak ketiga. Semisal, ketika ingin mengunduh Spotify, aplikasi tersebut masih absen di Huawei AppGallery. Ketika dicari di Petal Search, akan secara otomatis diarahkan ke sumber dari APKPure, dan bisa langsung unduh.

Aplikasi yang ditampilkan di Petal Search, belum jaminan dapat dijalankan secara normal. Tanpa layanan Google, saya menggunakan smartphone ini layaknya menggunakan laptop. Hampir seluruh kebutuhan terpaksa harus saya akses dari browser.

Catatan saya tersimpan di Google Keep. Foto-foto semua saya unggah ke Google Photos. Smartwatch yang biasa saya gunakan sehari-hari memerlukan aplikasi WearOS. Dua kebutuhan pertama saya akses dari browser, sementara untuk jam… ya sudah, dipasrahkan alias tidak bisa tersambung.

Performa

Skor benchmark Huawei P40 Pro Plus

Selain Samsung, Huawei juga selalu menggunakan chipset besutan sendiri. Bedanya, benar-benar hanya menggunakan Kirin, alias tidak ada versi Snapdragon atau lainnya. Secara teori, smartphone yang ditenagai oleh chipset besutan sendiri harusnya berjalan lebih optimal. Dan hal ini memang terasa ketika menggunakan Huawei P40 Pro Plus.

Chipset Kirin 990 yang ada di smartphone ini sudah mendukung jaringan 5G, meski dalam status terkunci berkat belum hadirnya regulasi. Gunakan arsitektur CPU octa-core, 2-core inti Cortex-A76 punya clockspeed tertinggi mencapai 2,86GHz. Selain itu, ada 16-core GPU serta triple-core NPU khusus untuk olah fitur kecerdasan buatan seperti pada kameranya.

Meski kencang, chipset ini juga dibuat hemat daya, menggunakan fabrikasi 7nm+. Khusus pada Huawei P40 Pro Plus, Huawei gunakan sistem pendingin 4-in-1, terdiri dari lapisan grafit, pipa penyalur panas, vapor chamber serta graphene film.

Oke, cukup dengan penjelasan teknis yang memang cukup banyak dibawa pada smartphone ini. Dan memang selama penggunaan, Huawei P40 Pro Plus terasa sangat cepat untuk buka tutup aplikasi. Meski digunakan untuk bermain gim berat maupun utak-atik kameranya, smartphone tidak terasa panas. Lebih dingin dari Galaxy Note20 Ultra sekalipun.

Penyimpanannya sangat luas di 512GB, dan masih ditambah kartu memori hingga kapasitas 256GB. Namun dengan catatan; akan memakan slot SIM 2 (alias hybrid), dan jenis kartu memorinya adalah NM (Nano Memory), alias beda dengan kartu microSD pada umumnya. Yah setidaknya kapasitas internalnya sendiri sudah cukup luas ya.

Baterai

Punya layar besar dengan lima kamera, kapasitas baterainya bisa dibilang cukup ngepas, hanya 4,200 mAh. Sedikit di bawah standar, apalagi untuk smartphone kelas menengah yang kapasitas baterainya rata-rata 5,000 mAh. Namun jangan khawatir, berkat kombinasi chipset yang efisien, Huawei P40 Pro Plus sanggup bertahan hingga pemakaian seharian.

‘Keuntungan’ dari kapasitas baterai yang hanya cukup, adalah proses pengisian dayanya yang cepat. Apalagi smartphone ini mendukung 40W SuperCharge, baik lewat kabel maupun secara nirkabel (dengan aksesori terpisah). 30 menit saja sudah mencapai sekitar 75%, sementara isi penuh butuh waktu sekitar 70 menit.

Namun karena Huawei gunakan protokol sendiri, ketika saya isi menggunakan GaN charger 65W, benefit 40W tidak akan aktif, sehingga harus menggunakan charger bawaan Huawei untuk proses pengisian yang optimal. Smartphone ini juga mendukung fast reverse wireless charger hingga 27W, kalau-kalau kepikiran untuk isi daya flagship lain secara nirkabel lewat punggung smartphone ini.

Kesimpulan

Kelengkapan Huawei P40 Pro Plus

Menggunakan smartphone ini, secara keseluruhan mengingatkan saya akan pengalaman memiliki smartphone seri Lumia, atau 808 PureView tahun 2013 lalu. Saat itu, saya memegang smartphone dengan kamera terbaik, namun aplikasinya juga terbatas. Setiap momen yang saya tangkap memang berkualitas, tapi pada akhirnya, smartphone tersebut jarang saya gunakan.

Kenapa? Karena keterbatasan aplikasi yang tersedia. Karena meskipun fitur dari UI-nya melimpah, apalah artinya kalau aplikasi yang ingin kita akses sehari-hari tidak tersedia, bukan? Padahal saya juga pengguna iPhone, alias tidak seutuhnya bergantung dengan Android. Itu saja saya merasa ‘tertinggal’ banyak.

Meski begitu, sekali lagi, saya mengapresiasi Huawei yang berikan alternatif seperti AppGallery yang perkembangannya pesat, termasuk Petal Search untuk alternatif pencarian aplikasi. Hanya saja, sekarang masih belum dapat mengejar absennya layanan Google. Dengan begitu, alasan untuk membeli Huawei P40 Pro Plus murni untuk kemampuan kameranya saja.


Beli produk Huawei di:

Shopee Blibli Lazada

Spesifikasi Huawei P40 Pro Plus

Huawei P40 Pro Plus
Klik pada gambar untuk spesifikasi lebih lanjut.

General

Device Type Smartphone
Model / Series Huawei P40 Pro Plus
Released 09 Juni, 2020
Status Available
Price IDR 18.499.000 (launch price)

Platform

Chipset HiSilicon Kirin 990 5G (7nm+)
CPU Octa-core (2x2.86 GHz Cortex-A76 & 2x2.36 GHz Cortex-A76 & 4x1.95 GHz Cortex-A55)
GPU Mali-G76 MP16
RAM (Memory) 8GB
Storage 512GB (UFS 3.0), support NM card up to 256GB
Operating System Android 10
User Interface EMUI 10.1

Design

Dimensions 158.2 x 72.6 x 9 mm
Weight 226 g
Design Features Colors: Ceramic Black, Ceramic White
Protection: IP68 dust/water resistant (up to 1.5m for 30 mins)
Battery Li-Po 4200 mAh, non-removable
Fast charging 40W
Fast wireless charging 40W
Fast reverse wireless charging 27W

Network

Network Frequency 5G / LTE TDD / LTE FDD / WCDMA / EDGE / GPRS
SIM Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by)
Data Speed HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE-A, 5G

Display

Screen Type OLED capacitive touchscreen, 16M colors
Size and Resolution 6,58 inches; 1200 x 2640 pixels, 19.8:9 ratio
Touch Screen Yes, Multitouch capacitive touchscreen
Features HDR10
90Hz refresh rate
In-display fingerprint sensor

Camera

Multi Camera Yes (Front)
Rear Ultra Vision Leica Penta Camera: 50 MP, f/1.9, 23mm (wide), 1/1.28", 2.44µm, omnidirectional PDAF, OIS; 8 MP, f/4.4, 240mm (periscope telephoto), PDAF, OIS, 10x optical zoom; 8 MP, f/2.4, 80mm (telephoto), PDAF, OIS, 3x optical zoom; 40 MP, f/1.8, 18mm (ultrawide), 1/1.54", PDAF, 3D ToF Sensor
Front 32 MP, f/2.2, 26mm (wide), 1/2.8", 0.8µm, AF; IR TOF 3D, (depth/biometrics sensor)
Flash Yes
Video [email protected]/60fps, [email protected]/60fps, [email protected], [email protected], HDR; gyro-EIS
Camera Features AI Image Stabilization, Light Painting Mode, Stickers, Dual-VIew Mode, High-res Mode, Pro Mode, Aperture Mode, AI Golden Snap

Connectivity

Wi-fi Wi-Fi is a popular wireless networking technology using radio waves to provide high-speed network connections that allows devices to communicate without cords or cables, Wi-Fi is increasingly becoming the preferred mode of internet connectivity all over the world. Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, DLNA, Wi-Fi Direct, hotspot
Bluetooth Bluetooth is a wireless communications technology for exchanging data between mobile phones, headsets, computers and other network devices over short distances without wires, Bluetooth technology was primarily designed to support simple wireless networking of personal consumer devices. 5.1, A2DP, LE
USB 3.1, Type-C 1.0 reversible connector, USB On-The-Go
GPS GPS The Global Positioning System is a satellite-based radio navigation system, GPS permits users to determine their position, velocity and the time 24 hours a day, in all weather, anywhere in the world, In order to locate your position, your device or GPS receiver must have a clear view of the sky. dual-band A-GPS, GLONASS, BDS, GALILEO, QZSS, NavIC
HDMI HDMI (High-Definition Multimedia Interface) is a compact audio/video interface for transferring uncompressed video data and compressed or uncompressed digital audio data from a HDMI-compliant source device to a compatible computer monitor, video projector, digital television, or digital audio device. No
Wireless Charging Wireless Charging (Inductive Charging) uses an electromagnetic field to transfer energy between two objects. This is usually done with a charging station. Energy is sent through an inductive coupling to an electrical device, which can then use that energy to charge batteries or run the device. Yes
NFC NFC (Near field communication) is a set of standards for smartphones and similar devices to establish peer-to-peer radio communications with each other by touching them together or bringing them into proximity, usually no more than a few inches.
Infrared Infrared connectivity is an old wireless technology used to connect two electronic devices. It uses a beam of infrared light to transmit information and so requires direct line of sight and operates only at close range. Yes

Smartphone Features

Multimedia Features Audio File Formats: mp3 / mp4 / 3gp / wma / ogg / amr / aac / flac / wav / midi / ra
Support 192 Khz / 24 bit

3gp / mp4 / wmv / rm / rmvb / asf
FM Radio Yes
Web Browser Web Browser => a web browser is a software application used to locate, retrieve and display content on the World Wide Web, including Web pages, images, video and other files, The primary function of a web browser is to render HTML, the code used to design or markup webpages. HTML 5 with Android Browser
Messaging SMS(threaded view), MMS, Email, Push Mail, IM
Sensors Sensors are electronic components that detects and responds to some type of input from the physical environment. The specific input could be light, heat, motion, moisture, pressure and location, The output is generally a signal that is converted to use in computing systems, a location sensor, such as a GPS receiver is able to detect current location of your electronic device. Infrared face recognition, fingerprint (under display, optical), accelerometer, gyro, proximity, compass, color spectrum
4 Komen
  1. […] Review Huawei P40 Pro Plus: Kamera Saku Leica Paling Canggih […]

  2. […] Review Huawei P40 Pro Plus: Kamera Saku Leica Paling Canggih […]

  3. […] Go to Source Author: Prasetyo Herfianto […]

  4. […] Review Huawei P40 Pro Plus: Kamera Saku Leica Paling Canggih […]

Tinggalkan Balasan