Baterai

Urusan baterai, Hyundai IONIQ 5 Bluelink Signature Long Range seperti yang saya gunakan dibekali baterai Li-Ion dengan kapasitas baterai 72.6 Kwh untuk jarak tempuh maksimal 451 km. Kapasitas baterai ini saya rasakan efektif penggunaannya di sekitar 400 km dari penuh hingga tersisa 20 persen. Tidak direkomendasikan untuk sering menggunakan mobil listrik hingga persentase baterainya habis total, sehingga saya melakukan charging setiap baterai berada di sekitar 20 persen.

Saat mengisi ulang daya Hyundai IONIQ 5 Bluelink, terdapat dua pilihan metode charging yakni AC Charging dan DC Fast Charging. AC Charging dapat dilakukan dengan portable charger yang memakan waktu 30 jam, atau wallbox dengan waktu pengecasan 6 jam hingga penuh. Ingin lebih cepat? Kunjungi DC Fast Charging Station dengan daya 50 KW yang dapat mengisi mobil dari habis baterai hingga penuh dengan waktu 56 menit. Lebih cepat lagi? Beberapa SPKLU telah dilengkapi dengan Ultra Fast Charging 200 KW yang kompatibel dengan mobil ini, membuat pengisian dari 10 persen sampai 80 persen dapat tuntas dalam waktu 20 menitan saja.
Keunggulan utama Hyundai IONIQ 5 Bluelink saya rasakan saat berada di luar dan butuh akses charger, karena port yang digunakan berjenis CCS2, jenis populer yang mudah ditemukan di setiap SPKLU yang tersebar di jalan. Sangat memudahkan bila dibandingkan dengan mobil listrik lain dengan port ChaDeMo maupun GB/T yang lebih sulit ditemukan. Oleh karenanya, pergi ke luar kota bukan menjadi masalah โ jarak tempuh yang dimiliki cukup tinggi dan mobil ini siap di-charge di SPKLU manapun.
Efisiensi energi

Tujuan utama mayoritas konsumen dalam membeli mobil listrik adalah demi menikmati efisiensi yang ditawarkan mobil listrik dibandingkan mobil bermesin bensin. Efisiensi ini turut saya rasakan ketika menggunakan Hyundai IONIQ 5 Bluelink sebagai mobil harian. Biasanya, saya menggunakan mobil hatchback kecil Eropa bermesin 1.4 liter yang saya rasa sudah sangat efisien untuk kebutuhan harian. Pindah ke Hyundai IONIQ 5 yang berukuran jauh lebih besar, ternyata malah lebih efisien dari mobil hatchback kecil saya tersebut.

Biasanya, dalam sehari saya menempuh jarak sekitar 80 km di dalam kota Jakarta dengan rute campuran antara tol dan non-tol. Mobil hatchback saya yang rerata konsumsi bensinnya 12 km per liter, membutuhkan biaya sebesar Rp 86 ribu untuk menempuh jarak 80 km dengan bensin Pertamax 92. Dengan Hyundai IONIQ 5 Long Range yang listriknya diisi dengan home charger, saya hanya perlu mengeluarkan sekitar Rp 80 ribuan untuk jarak tempuh efektif hingga 400 km. Biaya yang sama, dengan Hyundai IONIQ 5 dapat mengantarkan saya hingga 5 kali lipat lebih jauh.
Efisiensi tak berhenti sampai di penggunaan energi, karena kemudahan maintenance turut menjadi poin plus. Tidak ada oli yang harus diganti atau komponen mesin yang aus dan membutuhkan penggantian secara berkala, saya hanya perlu mengikuti anjuran servis rutin yang jumlah penggantian komponennya jauh lebih sedikit dari mobil bensin. Perhatian utama seputar komponen fast-moving tertuju pada aki 12v, minyak & kampas rem, cairan sistem pendingin motor, dan ban saja.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




