Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Mengenal ChatAja, Aplikasi Pesan Instan Lokal Alternatif WhatsApp

0 7.189

Sudah banyak aplikasi pesan instan beredar seperti Whatsapp, Line, Telegram, dan Wechat. Namun rupanya tak menyurutkan niat Reza Akhmad Gandara untuk mengembangkan aplikasi ChatAja pada yang didirikan tahun 2019.

Menurutnya, ChatAja bertujuan untuk menjaga kedaulatan data dan informasi di Indonesia melalui platformnya. Ini mengingat mayoritas pengguna internet di Indonesia memiliki tingkat kesadaran yang rendah tentang sensitivitas data. ChatAja menyediakan server berbasis di Indonesia untuk memungkinkan koneksi yang lebih aman.

Selain itu, Reza, juga sering mendengar keluhan dari pengguna aplikasi WhatsApp yang mengaku ponselnya menjadi berat karena banyak data yang tersimpan di memori internal maupun microSD. Ini disebabkan, data pada aplikasi Whatsapp tersimpan di ruang penyimpanan pada telepon pintar penggunanya.

Aplikasi ChatAja yang tersedia untuk platform iOS dan Android ini menggunakan ruang penyimpanan data berbasis cloud. Lewat media penyimpanan cloud, seluruh data percakapan di aplikasi disimpan pada server milik ChatAja. Apabila file atau media dari ChatAja terhapus di ponsel, maka server masih memiliki file atau media tersebut. Sebenarnya ini bukan konsep baru, karena Telegram juga telah sejak awal menerapkan konsep seperti ini.

Aplikasi ChatAja memakai Cloud Native untuk mengurangi beban penyimpanan di ponsel dan mengurangi kebutuhan akan backup data. Juga terdapat ‘File Rahasia’, layanan pesan terenkripsi untuk mengamankan pesan-pesan penting dengan menggunakan kode verifikasi.

ChatAja juga menawarkan ‘Jelajah’ di mana pengguna dapat menikmati sejumlah fitur, termasuk berita, game, layanan konseling, konsultasi karir dan banyak lagi. Selain itu, aplikasi ini juga menyediakan fitur stiker (baik dinamis maupun statis) untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Di laman LinkedIn, Reza mengungkapkan bahwa ChatAja ini sepenuhnya didukung oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sebagai inovasi internal untuk membangun infrastruktur komunikasi digital di Indonesia. Sehingga tidak mengherankan jika konsep logonya sangat mirip dengan dompet pembayaran digital LinkAja milik BUMN.

Kelebihan ChatAja

fitur ChatAjaSebagaimana tercantum di lamam blog resminya, ChatAja tidak sungkan menyebut hadir sebagai aplikasi alternatif Whatsapp. Didesain khusus untuk masyarakat Indonesia, ChatAja menawarkan berbagai kelebihan yang dikembangkan dari permasalahan yang ada di Whatsapp.

Selain berbasis cloud, ada tiga keunggulan lain yang bisa diperoleh lewat ChatAja. Pertama, aplikasi ChatAja bisa berfungsi secara multiplatform tanpa harus terkoneksi dari aplikasi utama yang ada pada ponsel pintar. Sinkronisasi aplikasi cukup dengan memasukkan nomor ponsel yang terdaftar di ChatAja. Pengguna dapat menggunakan aplikasi ChatAja untuk web di laptop meskipun ponsel tidak terkoneksi internet.

Kedua,ChatAja tidak memberikan batasan jumlah anggota dalam suatu grup. Layaknya Whatsapp, ChatAja juga memiliki fitur untuk membuat grup percakapan. Hanya saja, jika pada Whatsapp jumlah anggota pada suatu grup dibatasi maksimal 250 pengguna, ChatAja tidak memberikan batasan.

Keunggulan lain adalah ChatAja dibuat dan dikelola 100% di Indonesia. Ini untuk menekan kekhawatiran jika server tersimpan di luar negeri. Di mana datanya rawan disalah gunakan oleh pihak asing. Meski tidak ada jaminan juga, jika server ada di dalam negeri, data tidak disalah gunakan. Meski demikian, kontrolnya menjadi lebih mudah jika suatu saat ada masalah.

Fitur Baru ChatAja: Stiker Covid-19 Hingga Curhat Online

fitur kesehatan chatajaBelum lama ini, ChatAja merilis pembaruan aplikasi terkait pandemi corona yang sedang terjadi. Pada pembaruan kali ini, ChatAja merilis stiker bertema COVID-19 untuk membantu pengguna mengkomunikasikan pedoman kesehatan selama pandemi corona dengan mudah dan menarik.

ChatAja juga menghadirkan tab khusus kesehatan pada fitur Jelajah untuk mempermudah pengguna mengakses empat akun dan kanal kesehatan resmi. Akun resmi tersebut termasuk Simply, sebuah layanan curhat dan konseling daring gratis via chat eksklusif melalui aplikasi ChatAja. Layanan Simply sendiri diasuh oleh enam psikolog profesional yang memiliki Surat Ijin Praktik Psikologi (SIPP).

Reza Akhmad Gandara, Co-Founder & CEO ChatAja, mengatakan bahwa sebagai tambahan dari 100+ stiker yang telah diluncurkan ChatAja Februari lalu, stiker-stiker bertema COVID-19 ini adalah salah satu inisiatif ChatAja untuk mendukung edukasi gaya hidup sehat selama masa karantina.

“Terdapat puluhan stiker dari paket stiker COVID-19 ini. Isinya imbauan untuk cuci tangan, imbauan untuk selalu memakai masker, hingga imbauan membuka pintu menggunakan siku,” kata Reza.

Selain itu pada pembaruan kali ini, ChatAja juga menghadirkan tab Kesehatan dalam fitur Jelajah. Jelajah adalah fitur dari ChatAja yang berisi berbagai akun kanal berita, gim gratis, layanan konseling, konsultasi karir, dan lain sebagainya. Pada tab Kesehatan, pengguna ChatAja dapat dengan mudah mengakses empat akun resmi dan akun kanal kesehatan resmi yang berisi berbagai informasi dan berita kesehatan termasuk tentang virus corona.

“Belakangan di masyarakat tersebar berbagai hoaks tentang COVID-19, yang dapat membahayakan keselamatan. Maka dari itu kami menghadirkan tab Kesehatan dalam fitur Jelajah ini untuk membantu para pengguna mengakses informasi kesehatan yang terpercaya selama pandemi ini berlangsung,” ungkap alumni Telkom University dan ITB ini.

Akun pertama dari tab Kesehatan di aplikasai ChatAja adalah akun resmi DokterSehat yang menghadirkan fitur konsultasi kesehatan dengan dokter secara online. Selanjutnya adalah akun kanal Awasi COVID-19 yang membagikan informasi terbaru perkembangan pandemi virus corona di Indonesia. Akun ketiga adalah akun resmi Chatbot RS BUMN yang menghadirkan sebuah chatbot, layanan chat dengan kecerdasan buatan (AI). Fitur utamanya adalah melakukan deteksi awal dari gejala-gejala virus corona yang mungkin dialami pengguna. Akun terakhir adalah Simply, sebuah layanan curhat dan konseling gratis daring via chat yang tersedia eksklusif di aplikasi ChatAja.

Simply adalah sebuah layanan curhat dan konseling gratis daring via chat yang dikelola oleh enam psikolog dengan latar belakang kompetensi psikologi klinis, perkembangan, dan pendidikan. Melalui Simply, para pengguna dapat curhat maupun berkonsultasi tentang permasalahan emosional yang dialami selama pandemi via chat.

Admin akan terlebih dahulu membantu para pengguna dengan mendengarkan dan/atau memberi solusi permasalahan. Admin Simply adalah berkualifikasi sarjana psikologi yang telah disiapkan untuk dapat mengakomodasi layanan konsultasi ini di bawah supervisi psikolog. Pada kasus khusus, para pengguna akan bisa langsung berkonsultasi dengan psikolog.

Penting dipahami bahwa walaupun layanan ini dapat membantu mengurangi dan menyelesaikan beberapa permasalahan psikis yang timbul, layanan Simply tidak dapat menggantikan layanan konsultasi psikologi klinis. Bila dibutuhkan, admin Simply dapat mereferensikan pengguna untuk membuat janji temu untuk konsultasi langsung, via telepon, maupun via email dengan psikolog atau psikiater bersertifikat, juga mengarahkan ke support system group yang dikelola oleh psikolog bersertifikat.

Layanan chat Simply tidak dipungut biaya, dan dapat diakses melalui fitur Jelajah di aplikasi ChatAja setiap Senin sampai Jumat, pukul 9 pagi hingga 9 malam. Adapun untuk layanan support system group dan layanan konsultasi via telepon, email, maupun melalui tatap muka dengan psikolog profesional yang memiliki Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP).

“Kami berharap berbagai pembaruan yang kami hadirkan, mulai dari peluncuran sticker COVID-19, penambahan tab Kesehatan di fitur Jelajah, hingga layanan eksklusif curhat online gratis via chat Simply; dapat turut andil dalam membantu masyarakat Indonesia dalam mengatasi permasalahan selama pandemi corona,” pungkas Reza.