Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Merogoh Rp3 Triliun Demi Frekuensi 2,3 GHz, Ini yang Akan Dilakukan Telkomsel

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 21 Oktober 2017 telah mengeluarkan surat penetapan lelang frekuensi 30 MHz di 2,3 GHz yang dimenangkan oleh Telkomsel. Nilainya fantastis, karena untuk memperoleh frekuensi tersebut, total biaya yang harus dibayar mencapai Rp3,021 triliun.

Sebenarnya, harga penawaran yang diajukan Telkomsel “hanya” Rp 1,007 triliun. Namun operator anak perusahaan Telkom tersebut juga harus membayar dua kali upfront fee dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dari harga Rp 1,007 triliun. Sehingga totalnya menjadi sekitar Rp3,021 triliun.

Dana sebesar itu langsung masuk ke kas negara, lumayan untuk sedikit mengurangi beban negara yang hutangnya mencapai Rp3.672,33 triliun dan APBN yang masih defisit. Bahkan setoran Telkomsel tersebut masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan industri Internet of Things yang digadang-gadang akan menjadi tren masa depan. Di mana menurut data IDC, potensi ekonomi dari IoT dari 2014-2020 hanya mencapai IDR 1.7 triliun. Itu hanya potensi, dan yang menjadi pendapatan negara tentu masih jauh lebih kecil lagi.

Kendati biaya yang dibayarkan terkesan cukup mahal, namun Telkomsel mengaku masih wajar. Bahkan jauh lebih rendah dibandingkan apa yang dibayarkan oleh operator selulaar di negara berkembang lain. Direktur Planning and Transformation Telkomsel, Edward Ying mecontohkan operator di India yang mesti membayar empat kali lebih mahal dengan hitungan 0,34 dollar AS per MHz per populasi.

Kemudian untuk negara maju, seperti Korea Selatan, Singapura, Australia, dan Hongkong, juga harus membayar lebih tinggi 1,5 hingga 5 kali lipat. “Sementara, Telkomsel di Indonesia membayar 0,08 dollar AS per MHz per populasi,” kata Edward saat jumpa pers di Jakarta (23/10/2017).

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah pun menambahkan bahwa ini tidak akan mengganggu kinerja keuangan perusahaan. Ia mengungkapkan, sumber dana tersebut berasal dari kas internet. Dan manajemen telah mengantisipasi tender ini sejak setahun lalu, sehingga semuanya telah mempersiapkan dengan matang. “Semua sudah dikalkulasi, mulai dari valuasi frekuensi, teknis dan lainnya,” ujarnya.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah (kiri) dan Direktur Planning & Transformation Edward Ying memperlihatkan surat Keputusan Menkominfo yang menetapkan Telkomsel sebagai pemenang lelang spektrum untuk frekuensi 2,3 GHz

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan Telkom di tahun 2016, kepemilikan frekuensi Telkomsel hanya 52.5 Mhz dengan pendapatan mencapai Rp 86,7 triliun dan laba bersih mencapai Rp 28,1 triliun. Bahkan di semester 1 tahun ini saja, operator yang identik dengan warna merah ini mengantongi keuntungan 15,5 trilun. Sehingga memang benar jika angka Rp1 triliun tergolong “kecil” bagi mereka.

Related Posts
1 daripada 32

Ririek juga memandang tambahan spektrum di frekuensi 2,3 Ghz adalah hal yang mutlak diperlukan untuk menunjang bisnis digital Telkomsel di masa depan. Selain untuk menyokong kenyamanan 178 juta pelanggan yang 30 juta di antaranya adalah pelanggan 4G LTE.

“Saat ini ketersediaan spektrum di Indonesia masih sangat terbatas dan sangat langka, sementara perbandingan antara jumlah pelanggan dan alokasi spektrum frekuensi yang kami miliki tidak proporsional. Dengan pertimbangan tersebut dan untuk mengakomodasi pertumbuhan pelanggan dengan jumlah populasi yang sangat besar di Indonesia, nilai tambahan spektrum ini menjadi sangat tinggi dan penting untuk Telkomsel,” tambah Ririek.

Ia menegaskan komitmen perusahaan untuk memaksimalkan penggunaan spektrum tambahan untuk mendukung Rencana Pita Lebar Indonesia 2014-2019. Investasi yang dilakukan Telkomsel dalam memperoleh tambahan spektrum menunjukkan keseriusan Telkomsel dalam menyediakan layanan broadband terbaik bagi pelanggan.

“Tambahan spektrum akan dimanfaatkan untuk memperkuat  layanan 4G LTE dan  memaksimalkan kualitas layanan broadband bagi pelanggan di berbagai wilayah di Indonesia. Kami berharap hal ini akan mendukung ekosistem digital di Indonesia, termasuk e-commerce, dan mendorong perkembangan usaha kecil dan menengah,” ujarnya.

Ririek juga menambahkan bahwa seiring konsistensi dan komitmen Telkomsel untuk membangun jaringan telekomunikasi di seluruh Indonesia, termasuk wilayah pelosok dan perbatasan negara, tambahan spektrum ini akan mendukung upaya perusahaan untuk membuka akses informasi yang lebih luas bagi masyarakat di perdesaan. “Dengan kecepatan akses mobile broadband yang lebih tinggi, kami mampu menghadirkan pengalaman digital lifestyle terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Ririek.

Dijelaskan lebih lanjut, untuk tahap awal perusahaan berencana untuk membangun lebih dari 500 BTS menggunakan spektrum 2,3 GHZ dalam tiga bulan ke depan terutama di wilayah-wilayah yang paling tinggi kebutuhan layanan datanya setelah melalui proses sesuai ketentuan termasuk uji laik operasi. Diharapkan, pelanggan menikmati kecepatan akses maksimal mobile broadband hingga 400 Mbps.

Dengan diumumkannya Telkomsel sebagai pemenang lelang spektrum frekuensi 2,3 GHz, komposisi alokasi frekuensi yang dimiliki Telkomsel menjadi sebagai berikut: frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 30 MHZ, frekuensi 2,1 GHz dengan lebar pita 15 MHz, frekuensi 1,8 GHz dengan lebar pita 22,5 MHz, frekuensi 900 MHz dengan lebar pita 7,5 MHz, dan frekuensi 800 MHz dengan lebar pita 7,5 MHz.

Dalam hal pembangunan jaringan, hingga semester pertama tahun 2017, Telkomsel telah membangun lebih dari 146.000 BTS, di mana sekitar 65% di antaranya merupakan BTS broadband (3G dan 4G). Saat ini Telkomsel terus melanjutkan pembangunan layanan 4G LTE ke wilayah yang lebih luas, di mana saat ini telah melayani lebih dari 20 juta pelanggan di sekitar 480 ibukota kabupaten.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.