Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Transportasi Super Cepat Hyperloop Gelar Feasibility Study Senilai USD2,5 Juta di Indonesia

Secara teori, rute Hyperloop dari Jakarta menuju Yogyakarta hanya memakan waktu sekitar 25 menit, sedangkan dari Jakarta ke Bandung hanya 9 menit.

0 1.659

Pada tahun 2013, si jenius Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla motor mengumumkan ide gilanya yang bakal merevolusi dunia transportasi. Ia memperkenalkan konsep Hyperloop yaitu sistem transportasi berkecepatan tinggi yang bergerak dengan menciptakan tekanan rendah, memungkinkan kapsul bergerak dengan kecepatan yang amat tinggi. Memiliki kecepatan melebihi pesawat, namun dengan harta tiket yang sama seperti kereta biasa.

Elon Musk dan SpaceX membuat konsep teknologi Hyperloop ini open source dan publik diajak untuk mengambil gagasan tersebut dan mengembangkannya lebih lanjut. Salah satu yang ambil bagian dalam pengembangan ini adalah Hyperloop Transportation Technologies (HTT), sebuah proyek crowdsource yang terdiri dari lebih dari 600 anggota dan fokus untuk membuat ide Hyperloop menjadi kenyataan.

Pada tahun sebelumnya, HTT telah membuat beberapa perjanjian bersejarah dan saat ini sedang bekerja secara langsung dengan para pemegang kebijakan dan pemerintahan. Di antaranya pengembangan rute dari Bratislava, Slovakia hingga Brno, Czech Republic; riset dan pusat pengembangan di Toulouse, France; dan pengembangan rute yang menghubungkan Abu Dhabi hingga Al Ain di bawah naungan HH Sheikh Falah Bin Zayed Al Nahyan.

Kabar baiknya, HTT pada pekan ini mengumumkan kontraknya untuk menjajaki kemungkinan menggelar transportasi sistem Hyperloop di Indonesia. HTT bekerjasama dengan partner lokal Dwi Putranto Sulaksono, yang merupakan pendiri yayasan  Dwiyuna Jaya Foundation dan Ron Mullers, pendiri Papa Ron’s Pizza. Mereka membuat perusahaan patungan Hyperloop Transtek Indonesia untuk melakukan feasibility study dengan nilai proyek sebesar USD 2,5 juta atau sekitar IDR 33,47 miliar.

Pada tahap feasibility study ini, mereka akan fokus di Jakarta, terutama dari pusat kota menuju Bandara Soekarno Hatta, serta eksplorasi di pulau Jawa dan Sumatera.

Bibop Gresta, Chairman HTT, saat jumpa pers di Jakarta mengatakan penandatangan kontrak studi kelayakan ini merupakan perjanjian pertama Hyperloop di Asia Tenggara. “Indonesia dan Jakarta pada khususnya, merupakan salah satu area dengan populasi terpadat di dunia. Dengan lalu lintas dan kemacetan yang menjadi isu besar di sini, Hyperloop akan menjadi transformasi yang menggembirakan,” ujarnya.

Sementara itu Dirk Ahlborn, CEO HTT mengungkapkan pihaknya  telah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah di seluruh dunia selama lebih dari dua tahun sekarang.  “Sekarang kami siap untuk membangun sistem pertama kami, mengembangkan kerangka peraturan yang diperlukan adalah langkah yang paling penting,” kata Dirk.

Dwi Putranto Sulaksono merasa sangat senang bisa menciptakan kerja sama dengan HTT yang akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Karena Hyperloop akan mempengaruhi keseluruhan spektrum kehidupan, dari bisnis hingga kualitas keberlanjutan kehidupan.

Dengan populasi lebih dari 260 juta, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan populasi tertinggi di dunia. Kota Jakarta dengan populasi lebih dari 10 juta orang, menghadapi beberapa permasalahan kemacetan terparah di dunia dengan kebiasaan pulang-pergi selama empat jam.  Dengan perkiraan sebesar 70% dari polusi udara berasal dari kendaraan.

Nah, sistem Hyperloop akan bekerja dalam jangka panjang untuk menyelesaikan isu ini. Untuk mengurangi polusi, sistem transportasi ini akan 100% menggunakan renewable energy. Sumber energi yang digunakan dalam sistem transportasi ini adalah panel surya yang diletakkan di sepanjang lintasan jalur. Energi yang dihasilkan dari panel surya tersebut bahkan lebih banyak dibanding energi yang diperlukan untuk menjalankan sistem Hyperloop.

Sedangkan untuk mengatasi masalah kemacetan, Hyperloop digadang-gadang bakal memiliki kecepatan maksimal 1.300 km. Sehingga perjalanan menjadi lebih efektif tidak perlu banyak membuang waktu di jalan.

Sebagai contoh, sebuah rute Hyperloop dari Jakarta menuju Yogyakarta secara teori hanya memakan waktu kurang lebih 25 menit, jika dibandingkan dengan menggunakan mobil yang dapat memakan waktu hingga hampir 10 jam. Sedangkan Jakarta menuju Bandung hanya akan memakan waktu 9 menit, jika dibandingkan dengan yang biasanya memakan waktu hingga lebih dari 2.5 jam. Hyperloop juga akan menghubungkan Soekarno-Hatta International Airport dengan pusat Kota Jakarta yang akan memakan waktu hanya 5 menit.

Bagaimanapun juga, feasibility study adalah tahap yang masih sangat awal. Butuh waktu bertahun-tahun bahkan mungkin puluhan tahun untuk merealisasikannya. Apalagi sampai saat inipun, teknologi Hyperloop masih terus dikembangkan dan belum ada yang dipakai secara komersial.