Gizmologi
The Bilingual Tech Media

Mengenal Super Slow-Mo yang Diprediksi Bakal Menjadi Trend Fotografi 2018

Beberapa tahun silam, untuk menghasilkan adegan super slow-mo bukan perkara mudah. Harus memiliki kamera Pro dengan lensa yang mahal. Namun kini sudah bisa dilakukan dari smartphone seperti Samsung Galaxy S9 dan S9+.

Media sosial melahirkan tren yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Contohnya swafoto yang mencapai momentumnya saat Ellen DeGeneres melakukan selfie di ajang Oscars 2014 menggunakan Samsung Galaxy Note 3. Kemudian tahun yang lalu ada tren Boomerang yang diciptakan Instagram. Tahun ini, super slow-mo diprediksi akan menjadi tren fotografi di media sosial.

Hal ini dikatakan oleh David Soong, fotografer sekaligus pendiri Axioo Photography & Sweet Escape, saat media workshop Samsung Galaxy S9 di Lombok (02/04/2018). “Pada setiap masa, selalu ada tren yang menarik di media sosial dan saya perkirakan tahun ini tren super slow-mo akan booming. Saat ini mungkin masih belum karena smartphone yang mendukung fitur ini masih terbatas, namun dalam beberapa bulan mendatang akan sangat banyak yang menggunakan super slow-mo dalam kontennya di media sosial,” kata David Soong.

Ia mengatakan bahwa tren ini tak lepas dari produsen smartphone yang terus berupaya melakukan inovasi meningkatkan kualitas kamera. Sehingga bisa digunakan untuk memproduksi konten yang sebelumya hanya bisa dilakukan dengan perangkat yang mahal tidak hanya kamera profesional, namun juga komputer berspesifikasi tinggi.

“Perkembangan teknologi kamera di smartphone benar-benar sangat cepat, sehingga kini setiap orang bisa membuat konten foto yang epik dalam berbagai momen kesehariannya,” tambahnya.

Menurutnya, banyak momen dalam keseharian yang berjalan begitu cepat dan terlewat begitu saja dari pandangan kita. Padahal, momen tersebut dapat terlihat begitu menakjubkan ketika tertangkap oleh kamera. Hasil tangkapan kamera tersebut juga dapat menjadi konten yang menarik di media, maupun sosial media -hingga mendapatkan komen dan disukai oleh ribuah hingga jutaan orang.

Apa Itu Super Slow-Mo?

Bayangkan kamu adalah sutradara film. Kamu ingin menunjukkan kepada penonton sesuatu yang penting pada salah satu adegan. Misalnya saja saat adegan berkelahi, bertemunya pasangan yang sudah lama terpisah, dan lainnya.

Ada sejumlah teknik sinematografi yang bisa diterapkan. Salah satu yang paling populer adalah dengan slow-mo, sehingga adegan terlihat lebih epik atau dramatis dan terus teringat di benak penonton. Contohnya pada film The Matrix dan banyak film lainnya.

Asal mulanya adalah dari kata slow motion, gerak lambat, yang kemudian sering disingkat menjadi slow-mo atau slo-mo. Slow motion adalah efek dalam pembuatan video dimana waktu tampaknya diperlambat. Para pemeran atau karakter di film sebenarnya bergerak seperti biasa saja, tidak benar-benar memperlambat gerakanya. Namun yang terasa oleh penonton adalah slow motion.

Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, teknik ini diciptakan oleh Profesor August Musger, fisikawan sekaligus pendeta Austria,  pada awal abad ke-20. Jadi, ini pada dasarnya bukanlah hal yang baru. Tetapi, perkembangannya dibanding zaman dulu jelas mengalami peningkatan yang signifikan.

Di tahun 1990-an, teknologi film masih primitif. Gambar masih jelek dengan efek flicker (kedipan) yang cukup mengganggu. Kemudian Musger coba mengakali dengan membuat gerakan terus menerus, atau membiarkan film bergerak dengan rana terbuka, di dalam proyektor.

Inovasinya tersebut rupanya memiliki efek samping di luar perkiraan. Dengan memotret pada 32 frame per detik –  dua kali kecepatan normal — selama perekaman dan memainkannya kembali pada frekuensi gambar biasa, bisa menghasilkan adegan gerakan menjadi lambat .

Pada waktu itu, Musger tidak melihat ini sebagai selling point dan sepertinya tidak sadar telah menciptakan karya yang tidak biasa di mana penggunannya pun lebih untuk tujuan ilmiah. Ia wafat pada 1929 tanpa melihat efek penemuannya terhadap dunia film. Tetapi jika masih hidup hari ini, mungkin Musger akan senang gerakan lambat adalah salah satu teknik sinematografi yang paling banyak digunakan.

Di sinematografi, teknik ini dicapai ketika setiap frame film diambil dengan laju yang jauh lebih cepat daripada yang akan dimainkan. Ketika diputar pada kecepatan normal, waktu tampak bergerak lebih lambat. Istilah untuk membuat film gerak lambat adalah overcranking yang mengacu pada gerakan tangan kamera awal dengan laju yang lebih cepat dari biasanya (yaitu lebih cepat dari 24 bingkai per detik).

David Soong mengatakan beberapa tahun silam, untuk menghasilkan adegan slow motion bukan perkara mudah. Tim produksi harus memiliki kamera kelas Pro dengan lensa yang harganya tentu sangat mahal. Karena untuk memotret dengan frame yang sangat banyak, butuh kamera yang mampu memproses gambar dengan sangat cepat.

 

Setelah itu, smartphone pun mengadaptasi fitur slow motion walaupun masih terbilang standar yakni hanya mampu mengambil gambar dengan kecepatan 240 fps. Yang terbaru dan diprediksi menjadi tren adalah Super Slow-mo di mana kamera mampu merekam dengan kecepatan 960 fps sehingga adegan menjadi jauh lebih dramatis dibanding slow-mo biasa.

Fitur Super Slow-mo mampu merekam gambar 32 kali lebih lambat dari video normal, dan 4 kali lebih lambat dibanding teknologi slow-motion yang ada di smartphone pada umumnya. Ini berarti, momen 0,2 detik dapat ditransformasikan menjadi sekitar 6 detik video yang dramatis, tentunya tetap dengan kualitas gambar yang mumpuni. Momen yang tampak biasa saja, kini menjadi luar biasa.

Super Slow-Mo menjadi salah satu fitur yang paling ditonjolkan di Samsung Galaxy S9 dan S9+. Apakah ini merupakan smartphone pertama yang mendukung fitur tersebut? Tidak. Smartphone pertama yang menghadirkan Super Slow-Mo adalah Sony Xperia XZ Premium. Smartphone high-end ini diluncurkan di MWC pada Februari 2017 silam, atau lebih dari setahun yang lalu. Kemudian dilanjutkan dengan penerusnya, Sony Xperia XZ2.

Kualitas video Super Slow-Mo yang dihasilkan oleh Samsung Galaxy S9 dan S9+ adalah 720p. Sementara Sony Xperia XZ2 telah mampu merekam video Super Slow-Mo resolusi 1080p. Lebih besar dari Samsung Galaxy S9, namun smartphone tersebut tidak beredar di Indonesia. Karena Sony Mobile sudah tidak lagi memamasarkan smartphone barunya di Indonesia.

Sehingga Samsung Galaxy S9 bisa “melenggang kangkung” sendirian hingga saat ini. Namun dalam beberapa bulan, kemungkinan akan segera muncul pesaing baru yaitu Huawei P20 Pro yang juga mengusung fitur serupa. Tentu saja ini bakal menarik dan bagus karena dengan semakin banyaknya smartphone – walaupun masih terbatas di kelas high-end karena membutuhkan chipset berkecepatan tinggi – prediksi bahwa tren Super Slow Mo bakal booming, bisa segera menjadi kenyataan.

Tips Membuat Video Slow-Mo yang Epik

David Soong, memberikan tips untuk dapat mengambil video super slow-mo yang epik. Menurutnya, dari mulai bangun di pagi hari hingga kita kembali tidur di malam hari, banyak momen luar biasa yang terjadi, dan sayangnya berlalu dan terjadi begitu cepat.

“Melalui video super slow-mo, momen-momen tersebut kini dapat dinikmati dengan lebih lama dan lebih epik, serta menghasilkan konten yang berbeda dari sebelumnya. Konten-konten ini juga dengan mudah dapat diunduh ke sosial media kita, dan memiliki potensi besar untuk disukai banyak orang”,  kata David.

Dengan meningkatkan kecepatan rana (shutter speed) kamera hingga 960 frame per second, fitur Super Slow-Mo dari Galaxy S9 membantu penggunanya merekam beragam momen spesial yang terlalu cepat berlalu dan sulit ditangkap dengan mata telanjang – momen ketika si kecil meniup lilin ulang tahunnya, kibasan bulu dari binatang piaraan kesayangan, momen keseruan pada aktivitas olahraga, hingga ekspresi diri yang menawan.

Untuk menghasilkan konten Super Slow-Mo yang disukai banyak orang, David berbagi trick serta langkah mudah bagi para pengguna Galaxy S9 dan S9+:

  1. Masuk ke aplikasi kamera, pilih fitur super slow-mo, dan pilih mode Auto
  2. Geser kotak kuning pada layar, posisikan pada area di mana gerakan cepat akan terjadi
  3. Tekan tombol shutter dan nikmati konten super slow-mo yang epik

 

 

 

Selanjutnya, ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam mengambil video super slow-mo yang epik:

Pertama, pilih momen atau objek bergerak cepat yang akan direkam. Objek yang bergerak cepat, mampu menciptakan video super slow-mo yang lebih dramatis dan epik. Pengguna dapat memilih beragam momen yang terjadi dengan cepat di kehidupan sehari-hari mereka, yang kemudian dapat dikreasikan menjadi momen super slow-mo yang berkesan. Sebut saja seperti ketika seseorang sedang berlari, kibasan rambut kekasih Anda, atau percikan ketika si kecil bermain air.

Kedua, perhatikan kondisi pencahayaan. Pencahayaan menjadi faktor penting dalam menghasilkan video super slow motion yang baik. Cahaya matahari menjadi sumber cahaya yang paling ideal untuk merekam super slow-mo, karena memiliki frekuensi yang sempurna untuk diperlambat hingga 960fps.

Ketiga, pilih musik yang sesuai. Menambahkan musik latar dalam konten video super slow-mo yang dikreasikan, dapat menambah efek romantis, humor hingga menegangkan, membuat konten video menjadi lebih menarik. Karena penyertaan backsound pada video super slow-mo dapat meningkatkan efek dramatis, berkesan hingga menggelikan dari konten yang direkam. Memilih musik latar yang sesuai dengan gambar pada video super slow-mo epik membuat konten menjadi jauh lebih menarik.

%d blogger menyukai ini: