Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Telkomsel: Siaga Menjaga Jaringan Komunikasi di Negeri Cincin Api

Berada di jalur Cincin Api Pasifik, Indonesia dikaruniai dengan kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa. Namun di sisi lain, kondisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana.

Gempa, tsunami, dan juga letusan gunung berapi telah menjadi bagian dari sejarah negeri yang dilalui jalur Cincin Api ini. Ditambah pula berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang 2018 terjadi sebanyak lebih dari 2.400 kejadian bencana. Tiga di antaranya adalah yang paling menyita perhatian yaitu gempa Lombok, tsunami Palu dan Selat Sunda.

Gempa Lombok

Kendaraan mengangkut Mobile BTS Telkomsel di Lombok

M Dwi Sakti Effendie, Manager Network Service Telkomsel Branch Mataram, masih ingat betul peristiwa gempa yang mengguncang Lombok beberapa bulan lalu.

Suasana di Lombok, NTB pada Minggu petang (5/8/2018) benar-benar mencekam. Gempa berkekuatan 7,0 skala richter (SR) mengguncang wilayah Lombok, setelah seminggu sebelumnya mengalami gempa 6,4 SR.

Warga berhamburan keluar. Teriakan terdengar dimana-mana. Ditambah dengan listrik yang tiba-tiba mati, sehingga malam kian gelap gulita, membuat warga semakin panik. Beberapa rumah roboh, jembatan putus.

Namun Dwi Sakti dan timnya sadar, bahwa dalam kondisi seperti itu, mereka memikul tanggung jawab berat. Tidak hanya sandang, pangan dan papan saja hal darurat yang dibutuhkan masyarakat, namun juga akses komunikasi. Sebagai karyawan Telkomsel, sudah menjadi komitmennya untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, bagaimanapun kondisinya.

Gerak Cepat Recovery Jaringan
Direktur Network Telkomsel Bob Apriawan mengatakan bahwa Telkomsel menyadari layanan komunikasi sangat penting saat kondisi bencana seperti ini, khususnya untuk mengabarkan keluarga, koordinasi antar relawan, tim penolong, maupun update kondisi terkini wilayah bencana bagi pihak-pihak berkepentingan.

Saat terjadi gempa, beberapa BTS ikut terkena dampaknya karena kehilangan pasokan listrik, sehingga mengganggu layanan komunikasi. Maka, recovery jaringan pun harus segera dilakukan.

Kayanan komunikasi sangat penting saat kondisi bencana, khususnya untuk mengabarkan keluarga, koordinasi antar relawan, tim penolong, maupun update kondisi terkini wilayah bencana bagi pihak-pihak berkepentingan.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, tim bergerak cepat untuk memulihkan jaringan dengan memobilisasi genset untuk catuan daya serta memasang mobile BTS.

“Hal pertama yang kami lakukan adalah membentuk posko darurat. Kemudian flash scanning kondisi tim, personal dan keluarganya apakah terkena dampak atau tidak, membutuhkan bantuan atau tidak. Setelah itu melakukan evakuasi di area yg mudah terjangkau dan mudah termonitor bersama,” ujar Dwi melalui pesan singkatnya kepada Gizmologi.ID (4/1/2018).

Ia mengakui, tim lokal terbatas, belum lagi banyak yang masih trauma serta terlibat terhadap pengamanan keluarga masing-masing. Sehingga membentuk tim bantuan dari luar Lombok untuk membantu tenaga recovery.

Setelah permasalahan tim beres, selanjutnya adalah melakukan flash scaning layanan jaringan yang terkena dampak down. Dilakukan assessment terhadap suspect penyebabnya, apabila karena PLN, maka tim menggerakan Portable genset ke site untuk menyuplai daya.

Namun untuk menuju ke lokasi ternyata tidak semudah itu. Karena ada akses seperti jembatan yang putus, jalan tertutup longsor atau tidak bisa dilalui karena terhalang reruntuhan. Sehingga perlu dilakukan pendataan kebutuhan untuk membantu akses tersebut.

Ada beberapa kebutuhan perlengkapan pendukung seperti genset, kendaraan mobilisasi seperti alat berat maupun mobil 4×4, tenda, suku cadang perangkat dan perlengkapan lainnya. Jika tidak bisa diadakan di lokal, maka akan dikirim dari luar Lombok.

Pekerjaan ini dilakukan siang dan malam. Sehinggan untuk menjaga kebugaran tim dibuat metode shift / kerja bergiliran.

Tantangan di Lapangan

Dwi Sakti mengakui ada sejumlah tantangan yang dihadapi saat melakukan recovery jaringan di Lombok.

Pertama, sulitnya akses ke daerah-daerah pedalaman termasuk area Kepulauan Gili. “Saat gempa, semua yang ada di area kepulauan Gili harus dievakuasi keluar, sedangkan kami justru harus akses masuk untuk menghidupkan layanan telekomunikasi,” kenangnya.

Masalah berikutnya adalah suplai saya daro PLN yang masih gangguan sehingga menggunakan genset. Nah genset ini tergantung akan ketersediaan BBM (bahan bakar minyak).

Saat gempa, SPBU di area berdampak tutup. Begitupun dengan kebutuhan logistik atau konsumsi. Sehingga harus dimobilisasi dari Mataram dengan perjalanan menempuh 2 – 3 jam.

Masalah lainnya yang dihadapi adalah kekurangan tim yang menguasai medan. Dikarenakan tenaga bantuan dari luar wilayah Lombok, untuk itu dipilih tenaga bantuan yang pernah tugas di Lombok sebelumnya

Tak hanya itu, di area area tertentu yang menjadi titik pengungsian, terbentuk titik crowd baru. Ini berarti perlu penambahan kapasitas jaringan sehingga harus dilakukan pemasangan BTS Portable/ Combat (Compact Mobile Base station).

Berkat kerja keras tersebut, timnya berhasil melakukan recovery jaringan kembali normal 100% dalam waktu tiga hari.

Bantuan Sosial

Dan bukan hanya recovery layanan jaringan, Telkomsel juga menyediakan fasilitas komunikasi gratis berupa ponsel dan kartu perdana bagi para relawan dan korban bencana di area pengungsi untuk berkabar kepada sanak saudaranya.

Bersama mitra authorized dealer (AD), Telkomsel juga menyerahkan bantuan sosial kemanusiaan berupa kebutuhan logistik, antara lain makanan siap konsumsi, air mineral, pakaian layak pakai, handuk, selimut, dan obat-obatan dan berbagai kebutuhan harian lainnya serta 88 toren (tandon air) langsung ke lokasi pengungsian.

Di samping itu, Telkomsel juga memberikan bantuan berupa trauma healing yang disalurkan langsung kepada masyarakat Lombok melalui tim TERRA (Telkomsel Emergency Response & Recovery Activity) di beberapa titik posko pengungsian.

Ini merupakan bantuan gelombang ke empat yang diberikan Telkomsel kepada para korban gempa Lombok sejak hari pertama gempa. Sebelumnya Telkomsel juga memberikan bantuan berupa perbaikan sarana ibadah ke beberapa tempat ibadah di Lombok.

Gempa & Tsunami di Sulawesi Tengah

Petugas Telkomsel saat melalukan pemulihan fasilitas BTS guna memulihkan performansi jaringan pasca bencana alam di Palu, Sulawesi Tengah.

Belum kering peluh dan air mata akibat gempa di Lombok yang menelan korban jiwa 500an orang, bumi pertiwi kembali berduka. Sebulan kemudian, bencana lebih dahsyat meluluh lantakkan Palu, Donggala dan sekitarnya di Sulawesi Tengah. Lebih dari 2.000 orang kehilangan nyawa setelah gempa beruntun hingga 7,7 SR yang menyebabkan tsunami pada 28 September 2018.

Telkomsel langsung siaga dengan berupaya maksimal untuk memulihkan layananan telekomunikasi yang anjlok akibat terbatasnya pasokan Daya listrik dan terputusnya Fiber optik.

Perusahaan halo-halo ini mengerahkan ratusan tenaga teknis terlatih, memobilisasi mobile genset dan mobile BTS. Di samping itu sinergi antara Telkom (induk Telkomsel) dengan PLN dan Pertamina akan terus berlangsung khususnya dalam hal pemulihan catuan listrik dan penyediaan bahan bakar untuk genset.

Dalam pernyataan resminya, Bob Apriawan mengatakan sebagai operator yang memiliki cakupan terluas dan site-site BTS yang tersebar di Sulawesi Tengah menjadi tantangan tersendiri bagi Telkomsel untuk memulihkan jaringan pasca bencana.

Jika di Lombok hanya perlu waktu 3 hari, maka di Sulawesi Tengah ini Telkomsel membutuhkan waktu yang lebih lama, yakni sampai 2 minggu untuk memulihkan jaringan hingga 100%.

Untuk kelangsungan jaringan komunikasi, mereka memantau site-site jaringan yang berpotensi mengalami gangguan dengan menyiapkan 218 mobile genset untuk catuan daya dan 3 mobile BTS.

Operator yang identik dengan warna merah ini juga menyiagakan 200 personel teknis yang ditempatkan di posko-posko monitoring, command center serta lokasi-lokasi BTS untuk melakukan troubleshoot dan back up genset.

Dari sisi pelayanan pelanggan dan ketersediaan produk, Telkomsel membuka 7 kantor pelayanan GraPARI dan 3 GraPARI temporer di Sulawesi Tengah. Sebanyak 2010 outlet aktif dan 8 Mogi juga disebar untuk menjaminkan ketersediaan 20.000 kartu perdana simPATI bagi pelanggan.

Dan sebagaimana yang telah dilakukan di Lombok, Telkomsel juga membuka posko darurat dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Kondisi Tanah Air yang rawan bencana membuat Telkomsel menjadi lebih antisipatif dan responsif. Operator seluler ini bergerak cepat untuk memastikan layanan telekomunikasi lancar.

Tsunami Selat Sunda

Mobile Backup Power (MBP) sebagai perangkat penunjang catuan listrik.

Indonesia kembali dilanda duka dengan bencana tsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir barat Banten dan Lampung Selatan pada 22 Desember yang lalu. Akibat peristiwa ini, sebanyak 222 orang meninggal dunia, termasuk 3 personil grup band Seventeen yang sedang tampil di panggung.

GM Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin menyatakan dalam waktu kurang dari 24 jam, Telkomsel telah mengerahkan tim Siaga Bencana TERRA (Telkomsel Emergency Response & Recovery Activity) untuk pendirian posko darurat, menyalurkan bantuan kemanusiaan dan memberikan donasi sesuai kebutuhan di posko pengungsian.

Sebagai bentuk kepedulian kepada para korban perusahaan juga telah menyerahkan bantuan sosial kemanusiaan berupa kebutuhan logistik, antara lain makanan siap konsumsi, air mineral, pakaian layak pakai, selimut, dan obat-obatan.

Telkomsel juga menyediakan fasilitas telepon gratis di Posko Pengungsian Kantor Camat Labuhan Kabupaten Pandeglang, Posko Pengungsian Kecamatan Angsa Kabupaten Pandeglang, Gedung PGRI Mancak Kabupaten Serang dan Desa Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan.

“Disamping memberikan donasi tersebut, kami akan terus fokus untuk memonitor jaringan kami agar layanan telekomunikasi tetap lancar dengan menyiagakan Mobile Backup Power (MBP) sebagai perangkat penunjang catuan listrik,” ujar Denny.

Menjaga Kedaulatan Melalui Telekomunikasi

Dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan rawan bencana pula, rupanya tidak menyurutkan langkah Telkomsel untuk terus membangun jaringan hingga pelosok.

Karena jaringan komunikasi, didukung dengan teknologi digital yang kian maju, mampu memberikan dampak yang besar bagi perekonomian.

Jumlah pelanggan saat ini mencapai lebih dari 178 juta dan tersebar di seluruh Indonesia, termasuk juga di daerah terpencil dan pulau terluar serta daerah perbatasan negara. Untuk melayani pelanggannya yang sebanyak itu, merupakan yang terbesar di Indonesia, Telkomsel menggelar lebih dari 176.000 BTS.

Secara nasional, dalam waktu tiga tahun terakhir Telkomsel telah membangun 568 BTS di wilayah-wilayah pelosok pedesaan yang sebelumnya tidak memperoleh layanan komunikasi di Tanah Air.

Seluruh BTS di wilayah terisolir tersebut tersebar di 14 provinsi, yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Dari 568 BTS tersebut, 47 diantaranya merupakan BTS 4G yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan layanan data yang berkualitas untuk meningkatkan produktivitas.

BTS USO 4G Telkomsel di NTB

Di tahun 2018, tepatnya di bulan Agustus 2018, Telkomsel bersama dengan sejumlah mitra perusahaan dan Menteri Negara BUMN Republik Indonesia, Rini Soemarno, meresmikan BTS USO di Desa Oebela, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

BTS Site USO Telkomsel tersebut dimaksudkan untuk membuka layanan telekomunikasi selular yang meliputi wilayah blank spot 3T (Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Bisa dibayangkan tantangan yang dihadapi dalam membangun jaringan di pelosok ini. Tidak hanya sulit, tapi juga berbiaya yang tidak sedikit. Jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang seksi.

Tahap pembangunannya mulai bulan Agustus hingga Oktober 2018 untuk mendukung program BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) dengan membangun 108 titik lokasi BTS USO (Universal Service Obligation) baru diseluruh wilayah Indonesia.

Dalam membangun BTS USO di wilayah-wilayah terisolir, Telkomsel menerapkan teknologi BTS yang memungkinkan penggunaan layanan transmisi satelit Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol (VSAT-IP). Teknologi ini merupakan solusi komunikasi untuk melayani daerah-daerah terpencil dengan kondisi geografis yang menantang sehingga paling tepat untuk diimplementasikan di negara kepulauan seperti Indonesia.

Dalam program ini, Telkomsel juga menggelar perangkat antena yang berfungsi untuk mengirim dan menerima sinyal telekomunikasi serta base station controller (BSC) untuk mengontrol dan memonitor kinerja BTS.

Menurut Agus Witjaksono, VP Network Deployment and Services Telkomsel, kehadiran jaringan telekomunikasi hingga wilayah perbatasan negara merupakan wujud nyata perusahaan dalam melayani masyarakat Indonesia tanpa memandang lokasi maupun motivasi bisnis semata.

“Hal tersebut sejalan dengan komitmen kami sebagai operator selular terbesar di Indonesia yang selalu berupaya agar tak ada lagi wilayah Indonesia yang terisolir,” ujar Agus.

Hadirnya sarana telekomunikasi dapat meningkatkan ketahanan nasional sekaligus mempersatukan Bangsa yang tersebar hingga ke pelosok Tanah Air. Selain itu, juga menjadi penunjang percepatan pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan.

Kehadiran layanan telepon hingga pelosok di wilayah perbatasan negara tersebut menurut pihak Telkomsel semakin memperkokoh terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara kepulauan.

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di pulau terluar maupun perbatasan negara merupakan bentuk dukungan Telkomsel dalam memelihara keutuhan NKRI. Di mana hadirnya sarana telekomunikasi dapat meningkatkan ketahanan nasional sekaligus mempersatukan Bangsa yang tersebar hingga ke pelosok Tanah Air.

Selain itu, hadirnya layanan komunikasi juga menjadi penunjang percepatan pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan.

Sebagai contoh, dengan beroperasinya BTS USO berteknologi 4G di Desa Tolo’oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, NTB. Kehadiran layanan berkecepatan akses data tinggi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat yang sebagian besar memiliki mata pencaharian di bidang pertanian dan peternakan.

Kini masyarakat semakin cepat dan mudah dalam bertukar informasi dalam bentuk teks maupun foto untuk melaporkan hasil panen jagung maupun melakukan transaksi jual beli pupuk.

Hadirnya layanan telekomunikasi di daerah pelosok ini sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah dan memberi manfaat bagi daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru. Terlebih lagi mengingat posisi penting wilayah-wilayah perbatasan yang secara geopolitik sangat strategis dalam menjaga keutuhan negara.

Tinggalkan Balasan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: