Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Mengabadikan Keindahan Turki dengan Samsung Galaxy S10 Plus

Udara dingin langsung menyentuh kulit begitu kaki menjejakkan tanah di Turki. Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi satu-satunya negara yang berada di dua benua, Eropa dan Asia. Terbiasa tinggal di negara dua musim, memang perlu sedikit beradaptasi dengan negara empat musim terlebih sekarang masih musim dingin.

Selama empat hari dari tanggal 19-22 Maret 2019, saya mewakili Gizmologi bersama rekan-rekan media dan tech reviewer dari Indonesia diundang Samsung untuk menjelajahi Turki. Bukan cuma jalan-jalan tentu saja, tetapi eksplorasi fitur smartphone terbaru Galaxy S10 Series, terutama pada fitur kamera.

Untuk keperluan tersebut, saya dipinjami varian Galaxy S10 Plus. Di atas kertas, ponsel ini memiliki tiga sensor yakni Wide-angle 12MP Dual Pixel AF, F1.5/F2.4, OIS (77°), Ultra Wide 16MP FF, F2.2 (123°), dan telephoto 12MP PDAF  2X optical zoom, up to 10X digital zoomFront. Sedangkan untuk kamera depan, mempunyai lensa 10MP Dual Pixel AF, F1.9 (80°) dan RGB Depth 8MP FF, F2.2 (90°).

Selain berbekal sensor kamera yang andal, ada beberapa fitur kamera yang sangat berguna untuk merekam selama perjalanan. Di antaranya adalah Super Steady, Scene Optimizer, Smart Composition, Super Slow Motion dan Hyperlapse. Baca juga: Resmi Diluncurkan, Inilah 10 Fitur Unggulan Samsung Galaxy S10 di Indonesia

Dengan bekal tersebut, kami menyusur dua kawasan utama yaitu Bursa dan Istanbul. Berikut ini catatan perjalanan selengkapnya.

Bursa

Setelah sampai di airport pada tanggal 19 Maret siang harinya, langsung menuju ke kota Bursa dengan menempuh perjalanan sekitar 3 jam naik bus. Karena sampai sudah sore, praktis hari pertama tidak diisi dengan mengunjungi destinasi wisata, melainkan diisi sharing session seputar fitur-fitur di Samsung Galaxy S10 Plus bersama sutradara Jay Subiakto.

Pada malam harinya, saya menyempatkan keluar hotel sejenak untuk melihat suasana malam kota ini. Kotanya tidak terlalu ramai dengan bangunan ruko yang berjejer di tepi jalan. Untuk memotret di malam hari, bisa dibilang hasilnya sudah cukup bagus. Kamera mampu menghasilkan foto dengan gambar yang terlihat natural.

Untuk hasil lebih maksimal, jangan lupa untuk mengaktifkan fitur Scene Optimizer yang terletak di kanan atas. Maka dengan pencahayaan terbatas, kamera akan mendeteksi kondisi malam hari yang kemudian memberikan pengaturan yang lebih sesuai.

Suasana di depan Hotel
Suasana malam di Bursa

Namun saya harus mengakui bahwa untuk bagian ini, Samsung masih perlu meningkatkan lagi kemampuannya seperti yang ada di ponsel flagship Huawei dan Oppo. Kedua  merek ponsel asal China ini fitur malamnya mampu menyajikan gambar yang lebih spektakuler. Terlebih untuk Huawei yang menyediakan fitur light trail sehingga bisa eksplorasi foto lebih kreatif.

Di hari kedua, perjalanan menuju ke stasiun pemberangkatan Bursa Teleferik. Di pagi hari, barulah saya bisa melihat suasana kota Bursa seperti apa.

Jalan raya di pagi hari yang cukup padat
Sudut lain kota Bursa

Cable Car

Untuk menuju ke puncak Uludag, kami naik dari kereta gantung Bursa Teleferik yang diklaim terpanjang di dunia. Cable car ini berisi maksimal 6 orang dengan tiket seharga 30 lira. Sebelumnya saya sudah pernah naik kereta gantung saat di Genting, Malaysia ataupun di Taman Mini Indonesia Indah, sehingga tidak terlalu was-was.

Stasiun pemberangkatan Bursa Teleferik. Difoto dengan mode ultra wide

Cable car sepanjang 8,8km yang diklaim terpanjang di dunia ini menyajikan pemandangan yang menakjubkan. Melihat ke bawah, ada panorama rumah-rumah kota Bursa yang terlihat mungil. Melihat ke atas, disuguhi pemandangan puncak gunung Uludag yang bersalju.

Tentu saja saya tak melewatkan serunya pengalaman naik gondola ini dengan mengabadikannya melalui kamera di Galaxy S10 Plus. Saya paling sering menggunakan mode Super Steady  dengan teknologi stabilisasi digital sehingga kamera dapat tetap fokus walaupun merekam objek bergerak. Rekaman video tetap stabil bahkan saat sedang aktif bergerak. Selain itu juga merekam dengan mode hyperlapse untuk mendapatkan efek bergerak cepat.

Ini contoh beberapa video yang saya rangkum dalam durasi 1 menit agar bisa diunggah ke Instagram.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by mrbambang (@mrbambang) on

Uludag

Setelah sampai di pemberhentian terakhir, barulah kami disuguhi dengan pemandangan salju yang sungguh menawan.  Taman Nasional Uludag merupakan gunung salju terbesar di Turki yang memiliki keindahan alam mempesona.

Perpaduan putihnya salju, pohon cemara dan langit biru membuat hasil foto terlihat sempurna. Ini pertama kalinya saya melihat salju secara langsung sehingga excited.  

Salju di Uludag

Lebih seru lagi, kami berkesempatan mencoba naik ski motor. Ini pun pengalaman pertama saya, menaiki motor di jalan bersalju ternyata seru. Dengan jalan salju yang tentu saja tidak mulus, ternyata saya bisa merekam video dengan gambar yang mulus.

Menggunakan mode Super Steady, pegerakan kamera menjadi lebih smooth tidak memusingkan mata ketika melihatnya. Bahkan ketika motor sedang melompat, gambar tetap nyaman ditonton. Hasilnya seperti menggunakan gimbal saja.

Contoh hasil rekaman video Super Steady di Galaxy S10+ saat naik motor ski

Green Mosque

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Masjid Hijau atau Green Mosque yang selama ini telah menarik minat wisatawan, terutama pelancong Muslim dari berbagai penjuru di dunia termasuk Indonesia. Ya, saat di sana saya bertemu dengan beberapa wisatawan asal Indonesia di mana kebanyakan adalah rombongan yang akan menunaikan umrah ke Mekah.

Masjid  ini konstruksi bangunannya tertutup dedaunan. Dari kejauhan, masjid yang dalam bahasa Turkinya adalah Yesil Camii ini lebih tampak seperti gundukan dedaunan di taman dibandingkan bangunan masjid. Rumah ibadah peninggalan kesultanan Utsmani ini dengan ciri khas kubah besar dan menara tinggi ini merupakan salah satu tempat paling indah di Bursa yang memesona banyak pengunjungnya.


Tampilan interior 360 derajat Google Street View

Keunikan lainnya dari bangunan yang disebut juga sebagai Masjid Mehmet 1, merujuk kepada sultan yang membangunnnya, adalah denah bangunannya yang tak biasa. Denah bangunan berbentuk huruf “T “ terbalik, yang membagi ruang sholat di dalam masjid menjadi tiga bagian. Ada ruang utama disekitar mihrab yang terbuat dari keramik dan mimbar kemudian ruangan di sayap kiri dan ruangan di sayap kanan. Sedangkan di bagian tengahnya ditempatkan satu pancuran dari bahan baru pualam. Beberapa pengunjung terlihat meminum air dari pancuran ini.

Dengan menggunakan fitur Ultra Wide Angle, saya bisa merekam keindahan interiornya yang didominasi warna hijau dan toska. Selain itu, tidak lupa mengaktifkan fitur Scene Optimizer untuk mengabadikan lanskap yang megah dan kaya akan perpaduan warna. Di samping Green Mosque, sebenarnya juga ada Silk House yang menjual aneka kain sutera berkualitas tinggi. Namun karena waktu yang terbatas, saya tidak sempat mengunjunginya.


Video saat memasuki bagian dalam masjid, menggunakan mode ultra wide angle

Istanbul

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Istanbul. Kota terbesar di Turki ini dikenal dengan bangunan bersejarah yang memiliki arsitektur Byzantine yang indah. Istanbul adalah kota terpadat yang menjadi pusat perekonomian, budaya, dan sejarah negara tersebut.

Yang menarik dari kota ini adalah lokasinya yang berada di lintas benua Eurasia (Eropa dan Asia) yang membentang melintasi Selat Bosporus di antara Laut Marmara dan Laut Hitam. Pusat perdagangan dan sejarahnya terletak di sisi Eropa, sementara sepertiga penduduknya tinggal di sisi Asia.

Ada banyak destinasi wisata menarik untuk dikunjungi di kota ini. Dan kita bisa memanfaatkan beragam fitur kamera di Galaxy S10 untuk mengabadikan momen,

Salah satu sudut kota Istanbul. Difoto di dalam bus yang berjalan.

Galata Tower

Inilah destinasi pertama yang dikunjungi ketika kami menjejakkan kaki di Istanbul. Galata Tower adalah sebuah menara batu abad pertengahan. Tinggi menara ini adalah 66 meter dengan diameter 16 meter. Memang kalah jauh dibanding Monas yang tingginya mencapai 132, namun dibangun jauh lebih lama.

Jika Monas dibangun di era Soekarno di tahun 1960-an, maka Menara Galata ini dibangun di 1348 sebagai pengawas pertahanan kota. Sempat beberapa kali diubah fungsinya Pada 1717, Ottoman mulai menggunakan menara untuk melihat sumber kebakaran di kota. Selanjutnya di tahun 1794, pada masa pemerintahan Sultan Selim III, membuat atap menara dari timah dan kayu. Namun atapnya hancur sekitar tahun 1875 karena  badai. Kemudian

Bertahun-tahun kemudian, pada 1965-1967, selama Republik Turki, topi kerucut asli dikembalikan. Selama ini restorasi akhir tahun 1960-an, interior kayu menara digantikan oleh struktur beton. Menara itu kemudian dikomersialisasikan atau dibuka untuk umum.

Oia, jangan lupa juga mengaktifkan Smart Suggestion yang ada di pengaturan kamera. Fitur ini sangat berguna untuk bisa mengambil gambar arsitektur atau pemandangan dari atas Galata Tower dengan komposisi yang sesuai.

Di pertengahan jalan, wujud menara sudah mulai terlihat. Kita bisa mendekat sedikit untuk mengambil gambar menara dari posisi depan. Gunakan kamera belakang dan pastikan posisi kamera vertikal dengan mengaktifkan fitur Wide Angle (ikon dua daun).

Tiba di tangga masuk, kita harus antre untuk membeli tiket. Antrean memang cukup panjang karena ruangan di Galata Tower tidak terlalu besar. Bahkan untuk menaiki lift pun harus masuk 6 orang per sesi.

Di bagian paling atas dari puncak menara yang berbentuk kerucut silinder tertutup ini, kita bisa menikmati keindahan panorama kota Istanbul yang terletak di dua benua sekaligus, Asia dan Eropa.

Menggunakan fitur Live Focus
Pemandangan Istanbul
Menggunakan lensa telefoto, bisa merekam masjid yang jaraknya cukup jauh menjadi lebih detail
Pemandangan Istanbul dari balik jendela Galata Tower

Hagia Sophia

Inilah tempat yang wajib dikunjungi ketika di Istanbul. Hagia Sophia atau Aya Sofya yang artinya kebijaksanaan suci adalah salah satu landmark Istanbul. Merupakan bangunan megah yang wajib dikunjungi jika menginjakkan kaki di kota ini. Juga menjadi alasan kenapa Turki menjadi salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi, setelah Arab.

Hagia Sophia adalah warisan penting dunia yang sudah berusia ribuan tahun dan memiliki sejarah masa lalu panjang bagi umat manusia khususnya bagi Kristen dan Islam. Kita akan dibuat berdecak kagum dengan keindahan arsitekturnya yang telah dibuat berabad abad lampau.

Pada tahun 324 Kaisar Konstantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke kota ini. Sejak itu namanya diubah menjadi Konstantinopel dan negaranya disebut dengan Byzantium. Sebagai ibukota imperium terbesar pada masanya, Kaisar Byzantium pada tahun 500-an membangun gereja paling mewah sebagai masterpiece.

Kabarnya, Hagia Sophia dulunya dihiasi dengan emas, bertahtakan permata pada dinding gerejanya. Ratusan lukisan mozaik dan hasil karya seni lainnya menambah indah bangunan tersebut.

Pada tahum 1453 Sultan Mehmed II yang lebih dikenal Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan benteng konstatinopel yang terkenal sangat kuat dan menguasai negara ini.  Kemudian gereja Hagia Sophia dialih fungsikan menjadi masjid.

Pada tahun 1935 ketika Turki menjadi Republik, presiden pertamanya Mustafa Kemal Ataturk, memerintahkan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi sebuah museum.

Dengan Galaxy S10 Plus, kita bisa mengabadikan kemegahan dan kecantikan bangunan ini dengan memanfaatkan Artistikc Live Focus Spin Bokeh atau Zoom Bokeh.

Museum Hagia Sophia
Bagian dalam Hagia Sophia
Simbol Islam dan Kristen dalam harmoni

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.