Apple akhirnya resmi masuk ke pasar smartphone lipat melalui iPhone Duo. Kehadirannya menjadi salah satu perubahan terbesar dalam lini iPhone sejak generasi pertama diperkenalkan hampir dua dekade lalu. Namun, meski Apple datang belakangan, bukan berarti seluruh masalah yang melekat pada perangkat foldable otomatis sudah terselesaikan.
Smartphone lipat sebenarnya bukan kategori baru. Samsung sudah memperkenalkan Galaxy Fold sekitar tujuh tahun lalu, sementara berbagai produsen lain seperti Oppo, Huawei, dan Xiaomi juga terus mengembangkan perangkat dengan layar fleksibel. Selama periode tersebut, produsen memang berhasil memperbaiki sejumlah persoalan, tetapi beberapa kompromi masih sulit dihindari.
Karena itu, calon pengguna iPhone yang sebelumnya belum pernah memakai smartphone lipat perlu memahami bahwa iPhone Duo tetap memiliki keterbatasan. Harga tinggi, kamera yang tidak setara iPhone Pro, baterai lebih kecil, hingga desain yang lebih kompleks menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum berpindah dari iPhone konvensional.
Baca Juga: Hadirnya iPhone Duo Diprediksi Bisa Kuasai 25% Pasar Smartphone Lipat
Harga Tinggi dan Konsep 2-in-1 yang Belum Sempurna

Harga menjadi salah satu kompromi terbesar. iPhone Duo dibanderol mulai sekitar US$2.000, hampir dua kali lipat harga flagship smartphone biasa. Harga tersebut memang sejalan dengan smartphone lipat kelas atas, tetapi tetap sulit dibenarkan jika dilihat dari spesifikasi secara keseluruhan.
Konsep smartphone sekaligus tablet juga tidak selalu sesederhana yang dipromosikan. Layar internal memang memberikan ruang lebih besar, tetapi tidak otomatis memberikan pengalaman seperti tablet berukuran penuh. Optimasi aplikasi menjadi faktor penting, sementara penggunaan layar besar juga dapat meningkatkan konsumsi baterai.
Di sisi lain, desain lipat membuat bagian smartphone harus berkompromi. Bodi lebih tebal dan berat, kapasitas baterai lebih terbatas, serta ruang untuk sistem pendingin dan kamera menjadi lebih sulit diatur. Dengan harga yang lebih tinggi, pengguna justru harus menerima beberapa kompromi dibandingkan iPhone 18 Pro atau Pro Max.
Kamera, Baterai, dan Durabilitas Masih Jadi Tantangan

Kamera menjadi salah satu kompromi lainnya. iPhone Duo hanya membawa kamera utama dan ultrawide, tanpa telefoto. Kamera utamanya juga tidak setara dengan sensor yang digunakan iPhone 18 Pro. Kondisi ini cukup menarik mengingat harga Duo jauh lebih tinggi.
Baterainya juga tidak sekuat iPhone 18 Pro Max. Pengujian Apple sendiri menunjukkan daya tahan lebih rendah, terutama ketika layar internal digunakan untuk streaming video. Pengisian dayanya juga lebih lambat. Selain itu, desain tipis pada kedua sisi perangkat membuat kemampuan membuang panas berpotensi lebih terbatas ketika chipset bekerja dalam beban berat.


Durabilitas pun masih menjadi pertanyaan. Engsel dan layar fleksibel menambah komponen bergerak serta titik potensial kerusakan. Apple memang memberikan sertifikasi IP68, tetapi perlindungan terhadap air dan debu tidak menghilangkan risiko kerusakan mekanis. Bahkan, casing smartphone lipat umumnya tidak mampu memberikan perlindungan sekomprehensif casing smartphone konvensional.
Apple Punya Keunggulan di Sisi Software

Meski membawa sejumlah kompromi, iPhone Duo memiliki beberapa aspek yang berpotensi membuatnya lebih matang dibandingkan pesaing. Salah satunya adalah dukungan aplikasi. Apple memiliki kontrol ekosistem yang lebih kuat, sehingga pengembang memiliki insentif besar untuk mengoptimalkan aplikasi mereka untuk dua layar dengan rasio berbeda.
Transisi antar layar juga terlihat lebih terintegrasi. Aplikasi dan game dapat berpindah dari layar luar ke layar internal tanpa harus memuat ulang secara signifikan. Hal ini penting karena salah satu masalah smartphone lipat Android adalah aplikasi yang belum mampu beradaptasi dengan perubahan ukuran layar secara mulus.
Apple juga terlihat lebih serius mengeksplorasi kondisi perangkat ketika setengah terlipat. Layar dapat digunakan untuk menampilkan konten berbeda, kontrol video, keyboard terpisah, hingga mode nightstand. Posisi tersebut membuat mekanisme lipat tidak sekadar digunakan untuk mendapatkan layar lebih besar.
Pada akhirnya, iPhone Duo memang membawa beberapa pendekatan baru untuk membuat smartphone lipat terasa lebih praktis, tetapi belum menghapus kompromi dasar dari form factor tersebut. Pengguna tetap harus menerima harga tinggi, kamera yang lebih terbatas, baterai yang tidak sebesar flagship konvensional, serta risiko durabilitas yang lebih kompleks.
Bagi pengguna yang menginginkan layar besar dalam perangkat yang tetap bisa masuk saku, kompromi tersebut mungkin layak dibayar. Namun, jika prioritas utama adalah kamera, daya tahan baterai, performa berkelanjutan, atau ketahanan perangkat, iPhone 18 Pro Max masih menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

