Jakarta, Gizmologi – Microsoft Xbox resmi menutup Ninja Theory, studio di balik seri Hellblade, setelah karyawannya diberitahu lewat panggilan konferensi pada Senin{15/6). Sebelumnya berhembus kabar bahwa studio tersebut berada di ujung tanduk setelah tidak menemukan kepastian tentang masa depannya. Hal yang sama juga terjadi dengan Compulsion Game dan Double Fine yang masih menjalani proses perundingan untuk menentukan masa depan mereka.
Menurut laporan Bloomberg dari Jason Schreier, karyawan di beberapa studio sudah diberi tahu soal situasi ini dan diizinkan untuk mulai mencari pekerjaan baru, meski status studio-studio tersebut masih belum final. “Karyawan di beberapa studio telah dikabari tentang situasi yang ada dan memberi izin untuk mencari tempat kerja baru,” tulis Schreier. Meski begitu, opsi spin-off masih terbuka untuk Double Fine dan Compulsion, tapi untuk Ninja Theory, satu-satunya harapan adalah ada pihak lain yang bersedia mengakuisisi mereka.
Penutupan studio game di bawah Microsoft bukan kekhawatiran baru. Terutama sejak Asha Sharma, CEO Xbox, menyatakan dalam konferensi Bloomberg Tech bahwa ia berencana melakukan reset bisnis karena situasi perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Sharma, yang menggantikan Phil Spencer sejak Februari 2026, kemudian mengeluarkan memo internal yang menyebut Xbox telah terlalu jauh berekspansi dan memperingatkan staf untuk bersiap menghadapi keputusan yang mengejutkan. Tak lama setelah memo itu, bocoran mulai mengalir dari berbagai penjuru.
Yang paling terasa ironis, penutupan Ninja Theory terjadi hanya beberapa hari setelah studio ini baru saja mengumumkan game baru bertajuk Senua di Xbox Games Showcase. Ninja Theory baru menampilkan entri terbaru dalam seri Hellblade itu di showcase yang sama dengan Halo: Campaign Evolved, Gears of War: E-Day, dan gameplay Fable. Kini masa depan Senua berada di wilayah yang sangat tidak pasti, bergantung pada apakah ada pembeli yang mau mengambil alih studio ini sebelum pintu benar-benar ditutup.
Baca juga: Xbox Series X Edisi 25 Tahun Meluncur
Gelombang Penutupan Studio Game di Xbox

Compulsion Games, studio asal Montreal di balik Contrast, We Happy Few, dan South of Midnight yang baru rilis April 2025, berada dalam posisi serupa dan sedang berjuang menghindari penutupan. Double Fine Productions yang didirikan Tim Schafer 26 tahun lalu, dikenal lewat Brütal Legend, Broken Age, dan seri Psychonauts, juga masuk dalam daftar negosiasi aktif. Bahkan jika skenario alternatif berhasil disepakati, PHK masih tetap akan terjadi di studio yang berhasil lepas dari Microsoft sekalipun.
Kepala Xbox Game Studios Craig Duncan juga mundur dari posisinya pada hari yang sama, padahal ia baru menjabat sejak Oktober 2024. Kehilangan dua pejabat senior dalam satu hari di tengah badai berita penutupan studio membuat gambaran situasi di dalam Xbox makin suram.
Akuisisi studio besar-besaran Xbox dimulai pada 2018 ketika Microsoft membeli Ninja Theory, Compulsion Games, Undead Labs, dan Playground Games sekaligus, lalu terus berlanjut dengan ZeniMax Media pada 2021 dan Activision Blizzard pada 2023. Kini semua tanda mengarah pada satu prioritas yakni memfokuskan sumber daya ke franchise terbesar dan paling menguntungkan seperti Halo, Fallout, dan The Elder Scrolls, yang secara langsung menjelaskan mengapa studio dengan skala lebih kecil jadi yang paling berisiko.
Untuk Ninja Theory, masih diharapkan ada investor lain yang menaruh kepercayaan di tempat ini. Sejarah panjang mereka layak dikenang lebih dari sekadar angka penjualan, dan memang sebaiknya bisa terus membuat judul baru yang seru. Studio asal Cambridge ini sebelumnya pernah bekerja sama dengan Sony untuk Heavenly Sword di PS3, lalu melanjutkan dengan Enslaved: Odyssey to the West, DmC: Devil May Cry, hingga dua game Hellblade yang diakui luas secara kritis.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



