“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”
Pepatah yang sangat populer di kalangan umat Muslim itu sudah saya dengar sejak kecil. Dulu, maknanya sederhana: carilah ilmu sejauh mungkin, bahkan sampai ke tempat yang sangat jauh. Namun setelah berkesempatan mengunjungi Shenzhen, China, dalam rangka menghadiri Global Connect Show 2026, saya merasa pepatah tersebut memiliki makna yang jauh lebih relevan di era teknologi saat ini.
Sebagai informasi, acara ini mempertemukan lebih dari seratus perusahaan teknologi China dengan media, kreator konten, distributor, dan mitra bisnis dari berbagai negara. Awalnya saya mengira perjalanan ini akan menjadi kunjungan teknologi seperti biasanya: melihat produk baru, mendengarkan presentasi perusahaan, lalu pulang membawa catatan dan foto. Ternyata saya salah. Yang saya temukan di Shenzhen bukan sekadar produk teknologi baru. Melainkan sebuah ekosistem yang membuat inovasi terus lahir setiap hari.
Baca juga: Global Connect Show 2026: Saat Brand Teknologi China Berlomba Bangun Kepercayaan Global
Jika beberapa dekade lalu dunia memandang Silicon Valley sebagai kiblat inovasi teknologi, maka hari ini Shenzhen menunjukkan bahwa pusat gravitasi inovasi global mulai bergeser. Kota yang dulunya dikenal sebagai kawasan manufaktur ini kini menjelma menjadi laboratorium raksasa tempat ide, teknologi, modal, talenta, dan kebijakan pemerintah bertemu dalam satu ekosistem yang sulit ditandingi.
Dari situlah saya mulai memahami satu hal: kemajuan teknologi China bukan terjadi secara kebetulan.
Ketika Teknologi Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Jujur, hal yang paling membuat saya takjub di Shenzhen bukanlah teknologi yang dipamerkan di Global Connect Show. Justru hal-hal kecil yang saya temui sehari-hari.
Misalnya saja di hotel tempat saya menginap, saya beberapa kali melihat robot mondar-mandir di koridor. Awalnya saya kira hanya pajangan atau demonstrasi teknologi untuk tamu. Ternyata bukan. Robot tersebut memang bekerja.
Beberapa kali saya melihat robot pembersih beroperasi secara mandiri di area hotel. Ketika ada makanan atau barang yang perlu dikirim ke kamar tamu, robot lain datang menuju lift, naik ke lantai tujuan, lalu mengantarkan pesanan tanpa bantuan manusia.
Saya perhatikan tidak ada yang terlihat kagum. Bagi masyarakat Shenzhen, tampaknya sudah menjadi hal yang biasa. Semua menganggapnya normal. Kecuali saya yang berpura-pura normal, padahal ingin sekali menjajal interaksi dengan robot tersebut. Dan mungkin di situlah saya sadar bahwa saya sedang berada di tempat yang berbeda.
Pengalaman serupa juga saya temui di jalan raya. Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mendominasi lalu lintas kota. Dari mobil pribadi, kendaraan operasional, hingga transportasi umum, hampir semuanya telah beralih ke tenaga listrik.
Bahkan, saya beberapa kali melihat robotaxi atau taksi otonom beroperasi di jalan raya. Kendaraan tersebut melaju tanpa pengemudi, memanfaatkan kombinasi sensor, kamera, kecerdasan buatan, dan sistem navigasi yang sudah cukup matang untuk digunakan dalam kondisi nyata.
Mungkin beberapa negara juga memiliki teknologi serupa. Namun yang membedakan Shenzhen adalah skalanya. Teknologi tersebut tidak lagi berada dalam tahap uji coba terbatas. Ia sudah hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenomena ini sejalan dengan pengamatan banyak pelaku ekosistem teknologi Shenzhen yang menilai keunggulan China bukan hanya pada pengembangan AI, melainkan kecepatan implementasinya ke dunia nyata.
Ketika Aplikasi Peta pun Terasa Lebih Pintar
Pengalaman lain yang menarik datang dari aplikasi peta. Sebagai pengguna setia Google Maps, saya awalnya menganggap semua aplikasi navigasi akan memiliki kualitas yang relatif sama. Namun setelah menggunakan Amap atau Gaode Maps selama berada di China, saya mulai memahami mengapa banyak orang lokal mengandalkannya.
Informasi yang ditampilkan terasa jauh lebih detail dan kontekstual. Jalur pejalan kaki, akses masuk gedung, posisi pintu stasiun, hingga berbagai detail kecil yang sering kali tidak tersedia di Google Maps dapat ditemukan dengan mudah.
Bagi wisatawan, mungkin hal ini terlihat sederhana. Namun bagi saya, itu menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi China membangun produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di lapangan. Mereka tidak hanya membuat teknologi yang canggih. Mereka membuat teknologi yang berguna.
AI dan Robotika yang Tidak Lagi Sekadar Konsep

Tentu saja Global Connect Show 2026 sendiri tetap menjadi panggung utama untuk melihat inovasi terbaru dari perusahaan-perusahaan China. Di sana saya melihat bagaimana AI telah menjadi tulang punggung banyak produk baru.
Salah satu yang menarik perhatian adalah PixVerse, platform pembuat video berbasis AI yang kini telah digunakan lebih dari 100 juta pengguna di 175 negara. Kemampuannya mengubah teks maupun gambar menjadi video dalam waktu singkat memperlihatkan bagaimana proses produksi konten visual akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Pada demo yang saya ikut mencobanya, kita bisa mengubah adegan sesuka hati secara real time berkat model R1 besutannya.
Kita dapat membuat representasi digital diri sendiri, menempatkannya di dalam dunia yang baru dibuat, dan berbagi pengalaman tersebut dengan orang lain secara real time, tanpa batasan sesi. R1 menghasilkan lingkungan visual interaktif yang berkelanjutan dari sebuah perintah teks dan merespons input pengguna secara instan.

Saya juga mencoba melihat lebih dekat perkembangan smart glasses dari Rokid dan INMO. Jika dulu kacamata pintar sering dianggap sekadar eksperimen teknologi, kini keduanya mulai menunjukkan arah yang lebih jelas. Rokid membangun ekosistem berbasis AI dan XR dengan puluhan ribu pengembang, sementara INMO bahkan sudah menyematkan Large Language Model langsung ke dalam perangkatnya tanpa harus bergantung pada smartphone.
Robotika juga berkembang pesat. Mulai dari robot pelayan restoran milik KEENON hingga robot pemotong rumput dan robot pembersih kolam renang yang bekerja secara otonom. Menariknya, sebagian besar produk tersebut bukan lagi prototipe.Mereka sudah diproduksi, dipasarkan, dan digunakan oleh pelanggan nyata.
Kekuatan Shenzhen Bukan AI, Melainkan Ekosistem

Setelah beberapa hari berada di Shenzhen, saya mulai menyadari bahwa AI bukanlah jawaban utama dari kemajuan teknologi China. Robot bukan jawabannya. Mobil listrik juga bukan. Semua itu hanyalah hasil akhir. Rahasia sebenarnya ada pada ekosistem.
Kunjungan ke Shenzhen InnoX Academy menjadi momen yang membuka perspektif tersebut. Didirikan oleh Profesor Li Zexiang, sosok yang juga dikenal sebagai mentor di balik lahirnya berbagai perusahaan teknologi sukses termasuk DJI, InnoX membangun model yang menggabungkan pendidikan, inkubasi startup, manufaktur, pendanaan, hingga akses pasar dalam satu ekosistem terpadu.
Jika Silicon Valley memiliki Stanford sebagai salah satu mesin pencetak startup, maka InnoX dan Xbot Park memiliki peran yang kurang lebih serupa bagi Shenzhen. Saat ini InnoX membina lebih dari 900 entrepreneur dan lebih dari 90 startup teknologi.
Di sini saya melihat bagaimana ide-ide teknologi dibina sejak tahap paling awal. Tidak hanya diajarkan membuat produk, para founder juga dibimbing memahami kebutuhan pasar, membangun rantai pasok, mencari pendanaan, hingga menyiapkan strategi ekspansi global.
Semua dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan sumber daya dalam satu ekosistem. Punya ide membuat perangkat wearable? Komponennya tersedia. Butuh manufaktur untuk membuat prototipe? Ada. Perlu mentor teknis? Ada. Mencari investor? Ada. Lingkungan seperti ini membuat jarak antara ide dan realisasi menjadi sangat pendek. Bagi saya, inilah bagian yang sulit ditiru secara instan oleh negara lain termasuk Indonesia. Karena yang dibangun bukan sekadar gedung atau fasilitas, melainkan budaya inovasi.
Punya Ide Hari Ini, Besok Bisa Mulai Membangunnya
Selama mengunjungi InnoX dan mendengar berbagai cerita startup yang lahir dari sana, saya menangkap satu kesan yang sangat kuat.
Di Shenzhen, hampir tidak ada jarak antara ide dan realisasi. Punya ide membuat perangkat wearable Komponen sensornya tersedia. Butuh chip tertentu? Pemasoknya ada. Perlu manufaktur skala kecil untuk prototipe? Bisa dilakukan.
Butuh mentor, investor, atau akses pasar? Ekosistemnya sudah tersedia. Inilah yang disebut InnoX sebagai “Half-Hour Innovation Network”, sebuah jaringan yang memungkinkan startup mengakses rantai pasok, manufaktur, universitas, investor, dan perusahaan teknologi dalam waktu relatif singkat.
Sebagai orang yang berasal dari Indonesia, saya tentu merasa iri melihat kecepatan seperti ini. Indonesia memiliki banyak talenta hebat. Namun Shenzhen menunjukkan bagaimana talenta dapat berkembang jauh lebih cepat ketika berada dalam lingkungan yang tepat.
Pelajaran dari Shenzhen Indonesia
Banyak orang melihat kemajuan China dari AI, robot, atau mobil listriknya. Namun setelah melihat langsung apa yang terjadi di Shenzhen, saya merasa semua itu hanyalah hasil akhir. Yang perlu dibangun adalah konektivitas antar ekosistem.
Universitas menghasilkan talenta yang terhubung dengan industri.
Investor berani mengambil risiko dengan mendukung startup potensial.
Industri menyediakan rantai pasok yang lengkap.
Pemerintah mendukung inovasi. Bukan malah memenjarakan dengan tuduhan korupsi karena merugikan negara atas kegagalan. Pemerintah juga perlu hadir sebagai fasilitator yang memastikan seluruh elemen tersebut dapat bekerja bersama.
Dan inkubator seperti InnoX memastikan ide-ide baru mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Membangun ekosistem seperti ini tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Shenzhen membutuhkan puluhan tahun untuk membangun fonasi tersebut sampai pada titik sekarang.
Setelah melihat langsung apa yang terjadi di Shenzhen, saya merasa pepatah “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China” semakin relevan. Dan mungkin, di tengah era AI, robotika, kendaraan otonom, dan revolusi industri baru yang sedang berlangsung saat ini, makna pepatah tersebut bisa diperbarui menjadi: jika ingin memahami bagaimana masa depan teknologi dibangun, belajarlah sampai ke negeri China.
Mereka membangun ekosistem inovasi secara konsisten, sistematis, dan berorientasi jangka panjang. Di sanalah kita belajar tentang bagaimana sebuah ekosistem membuat ide-ide besar punya kesempatan untuk menjadi nyata.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



