CEO Nodeflux Meidy Fitranto: dari Data Analytics hingga Era AI yang Terlalu Cepat

RedaksiSiti Sarifah A
16 Min Read
Meidy Fitranto, CEO & Co-Founder Nodeflux

Membangun perusahaan teknologi selama hampir satu dekade membuat Meidy Fitranto belajar bahwa teknologi yang bagus belum tentu otomatis menjadi bisnis yang bagus. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Nodeflux, perusahaan yang ia dirikan bersama Faris pada 2016 dan kemudian berkembang dari data analytics platform menjadi perusahaan yang dikenal lewat Vision AI dan Intelligent Video Analytics.

Dalam perjalanannya, Nodeflux pernah menghadapi persoalan yang sangat berbeda-beda: mulai dari mencari product-market fit, mengelola arus kas, menghadapi kegagalan produk, sampai mengambil keputusan layoff ketika kondisi bisnis tidak memungkinkan mempertahankan seluruh tim.

Kini, Meidy melihat lanskap AI sudah berubah jauh dibanding ketika Nodeflux berdiri. AI yang dulu relatif langka dan mahal mulai menjadi semakin mudah diakses, sementara kemampuan model berkembang sangat cepat.

Perubahan itu ikut memengaruhi cara Nodeflux membangun produk dan mengelola organisasi. Jika sebelumnya porsi pengembangan perusahaan banyak diarahkan pada riset dan pembangunan model AI, kini Meidy menyebut fokus Nodeflux lebih banyak berada di software engineering dan pemanfaatan AI.

Dalam episode perdana The Chief di Gizmotalk, Meidy Fitranto berbicara mengenai perjalanan tersebut, termasuk pelajaran paling mahal sebagai founder, dampak AI terhadap pekerjaan, kemampuan yang perlu dimiliki talenta, hingga rencana Nodeflux membawa produknya ke pasar global.

Siapa Meidy Fitranto, Co-Founder dan CEO Nodeflux?

Meidy Fitranto 2

Meidy Fitranto merupakan Co-Founder dan CEO Nodeflux, perusahaan teknologi Indonesia yang didirikannya bersama Faris pada 2016. Nodeflux awalnya tidak langsung berfokus pada Vision AI. Meidy menceritakan bahwa perusahaan tersebut sempat dibangun sebagai platform data analytics yang dapat memproses berbagai jenis data, mulai dari database dan sensor hingga video stream.

Perubahan menuju Vision AI terjadi secara bertahap. Setelah beberapa kali melakukan pivot dan menghentikan sejumlah arah produk yang dinilai kurang mendapat respons pasar, Nodeflux mulai benar-benar fokus pada Vision AI pada awal 2017.

Dalam perjalanannya, Nodeflux terlibat dalam sejumlah proyek teknologi, termasuk implementasi yang berkaitan dengan smart city Jakarta. Dalam wawancara, Meidy juga menceritakan hubungan awal Nodeflux dengan NVIDIA, termasuk keterlibatan perusahaan dalam program NVIDIA Inception dan kemudian Metropolis Software Partner Program.

Hari ini, Meidy Fitranto tidak lagi melihat Nodeflux semata sebagai perusahaan computer vision atau bahkan perusahaan AI. Vision AI masih menjadi salah satu bisnis utamanya, tetapi Nodeflux juga mulai mengembangkan solusi berbasis agentic LLM serta proyek teknologi lain seperti satelit dan synthetic aperture radar (SAR).

Berikut perbincangan Siti Sarifah Aliah sebagai host Gizmotalk by Gizmologi dengan Meidy Fitranto.


Nodeflux: dari data analytics ke Vision AI

Meidy Fitranto 2

Ketika Nodeflux didirikan pada 2016, saat itu AI belum sepopuler sekarang. Apa yang membuat Anda yakin masuk ke bidang ini?

Sebenarnya di awal kita juga enggak yakin. Nodeflux itu awalnya malah enggak langsung Vision AI. Kita dulu data analytics platform. Waktu itu sedang eranya big data. Kita membuat platform yang cukup universal, bisa memproses data dari database, sensor yang real-time, sampai video stream.

Kebetulan pada sekitar 2015 ada milestone besar dalam image recognition. Kemampuan komputer untuk melakukan deteksi mulai mencapai titik di mana error rate-nya lebih baik dibanding manusia. Karena kita juga masuk ke computer vision, akhirnya kita melihat ada peluang.

Waktu pitching, responsnya cukup menarik. Orang mulai bertanya, “Kalau ini bisa, berarti bisa melakukan ini juga?” Dari situ kita coba fokus satu per satu sampai akhirnya benar-benar masuk ke Vision AI pada awal 2017.

Jadi sebenarnya bukan langsung bertaruh, tetapi kita bertahap melakukan pivot. Yang tidak terlalu bagus kita drop, kemudian fokus ke sesuatu yang respons pasarnya lebih baik.

Berarti salah satu tantangan terbesar adalah mengubah teknologi menjadi bisnis?

Banget. Ini mungkin pelajaran paling besar dari Nodeflux. Kadang kita sebagai engineer terlalu mulai dari teknologinya. Ada teknologi apa yang bagus, apa yang keren, lalu kita bawa ke konsumen.

Padahal seharusnya bergerak mundur. Mulai dari konsumennya dulu, kemudian lihat teknologi apa yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pain atau memberikan gain bagi konsumen.

Nodeflux pada awalnya lebih berat ke technology push. Masalahnya, ketika kita menemukan teknologi yang bisa menyelesaikan sebuah persoalan, pertanyaannya belum selesai. Apakah konsumen merasa itu worth it untuk dibayar?

Ada masalah yang kita senang karena berhasil menyelesaikannya, tetapi ketika disuruh membayar, konsumen bilang tidak perlu. Jadi mencari masalah dulu sebelum membuat solusi itu sangat penting.

Apakah pernah ada teknologi yang menurut Nodeflux bagus, tetapi akhirnya tidak punya pasar?

Kalau enggak ada konsumen yang mengadopsi, mungkin memang teknologinya enggak bagus. Kita sebagai engineer kadang punya ego ingin membuat sesuatu yang sophisticated. Akhirnya lupa bahwa tujuannya untuk bisnis atau cuma untuk membuat laboratorium supaya ego kita senang.

Itu trap yang nyata.

Kapan Mas Fitranto mulai merasa Nodeflux bukan cuma perusahaan teknologi, tetapi bisa menjadi bisnis besar?

Ketika mendapatkan klien besar dan investor. Klien adalah bentuk pengakuan bahwa produk kita punya value. Investor adalah pengakuan bahwa perusahaan kita punya value. Di situ kita merasa, “Oh, berarti kita enggak mimpi sendiri.”

Awalnya klien Nodeflux juga macam-macam. Ada yang berkaitan dengan inventory, kulkas, sampai receipt. Jadi memang di awal kita banyak eksplorasi. Sementara untuk NVIDIA, mereka bukan klien. Mereka partner. Kita memang menggunakan teknologi NVIDIA dan sudah menjadi partner sejak awal.

Pelajaran Termahal Nodeflux: Cash Flow, Produk Gagal, Hingga Layoff

Meidy Fitranto CEO

Setelah hampir 10 tahun, apa kesalahan paling besar yang pernah terjadi di Nodeflux?

Kalau kesalahan, mungkin bukan di awal, tetapi di tengah perjalanan. Lebih ke manajemen, terutama financial management yang berantakan di awal. Spending sana-sini.

Dulu kita menggunakan kontrak sebagai acuan. Begitu kontrak didapat, kita menganggap kemampuan perusahaan pada tahun itu sudah seperti nilai kontrak tersebut. Padahal dari kontrak sampai implementasi selesai, kemudian sampai cash benar-benar masuk, jaraknya bisa empat sampai delapan bulan.

Itu yang membuat proyeksi finansial menjadi kacau. Sekarang kita jauh lebih prudent dan melihat sampai cash in. Variansnya menjadi lebih kecil dan lebih pasti.

Apakah ada momen ketika Nodeflux benar-benar merasa berada dalam situasi sulit?

Banyak. Masalah paling berat pasti seputar uang. Sekitar 2017 pernah masuk bulan gajian dan kita tidak punya uang. Waktu itu investor sebelumnya sudah ada, tetapi next round-nya belum masuk.

Yang paling berat mungkin saat COVID-19. Sekitar April 2020 banyak proyek hilang karena perusahaan melakukan realokasi anggaran. Beberapa piutang juga tidak dibayar, perusahaan menahan cash, sementara investor juga sedang wait and see. Akhirnya kita harus melakukan layoff.

Apa keputusan paling sulit yang pernah Anda ambil sebagai CEO?

Layoff. Kalau ada keputusan bisnis lain, misalnya ada kesempatan mendapatkan uang tetapi caranya tidak sesuai dengan value kita, sebenarnya masih lebih mudah untuk menolak.

Tapi layoff itu selalu berat. Ketika membangun perusahaan, kita bekerja bersama tim seperti sedang kuliah bersama. Ada perasaan bahwa kita ingin tumbuh bersama. Ketika akhirnya harus melakukan layoff, dampaknya bukan hanya soal bisnis. Ada hubungan yang mungkin tidak lagi terjaga, ada yang marah atau kecewa. Padahal sebelumnya kita ingin tumbuh bersama.

Jadi kalau ditanya satu hal yang paling berat, pasti layoff. Sisanya lebih seperti business decision making.

Meidy Fitranto juga mengungkapkan bahwa salah satu produk Nodeflux pada 2018–2019 pernah menghabiskan biaya pengembangan yang sangat besar sebelum akhirnya gagal. Kegagalan tersebut menjadi salah satu pelajaran paling mahal bagi perusahaan dan ikut berkontribusi terhadap keputusan layoff.

Nodeflux Tidak Ingin Hanya Dikenal sebagai Perusahaan Vision AI

Sarie Meidy

Sekarang Nodeflux sebenarnya perusahaan Vision AI, perusahaan AI, atau perusahaan teknologi?

Kayaknya lebih ke perusahaan teknologi. Sekarang kita sebenarnya tidak hanya mengerjakan Vision AI. Vision AI masih menjadi menu utama yang sudah cukup firm. Tapi kita juga mulai masuk ke agentic LLM untuk membantu organisasi menjalankan pekerjaan sehari-hari, integrasi data dan lainnya.

Selain itu ada juga proyek satelit dengan teknologi SAR, yang bukan Vision AI dan bahkan bukan berbasis gambar seperti yang biasa kita lihat.

Jadi kita melihat Nodeflux lebih luas sebagai perusahaan teknologi. AI masih menjadi dasar yang kita gunakan secara luas, tetapi tidak harus selalu menjadi identitas perusahaan.

Mas Meidy tadi sempat menyebut ada perubahan besar dalam perkembangan AI. Seperti apa perubahan yang paling terasa sekarang?

Kalau saya melihatnya, ada dua abundance yang cukup kritikal di dunia saat ini. Pertama, intelligence abundance, kedua software abundance. Kalau intelligence, kita bisa melihatnya dari perkembangan model AI. Waktu pertama kali GPT muncul, rasanya luar biasa. Kita bisa ngobrol dengan AI, walaupun waktu itu masih ada masalah seperti halusinasi.

Kemudian muncul Gemini. Setelah itu muncul DeepSeek, Claude, dan berbagai model lainnya. Kalau dulu kita harus menunggu cukup lama untuk melihat model baru, sekarang hampir setiap bulan ada model baru yang semakin canggih.

Menurut saya, intelligence yang awalnya sesuatu yang langka sekarang mulai masuk ke fase abundance, setidaknya untuk kebutuhan bisnis secara umum. Banyak kebutuhan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan khusus sekarang mulai bisa dibantu oleh AI.

Hal yang sama terjadi di software engineering. Membuat software sekarang menjadi sangat cepat dan mudah. Sampai kalau ditanya bagaimana mahasiswa seharusnya belajar programming sekarang, saya sendiri bingung menjawabnya karena perubahannya terlalu cepat.

Sekarang ada istilah vibe coding. Produktivitasnya juga bisa berubah sangat besar. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan bisa dikerjakan jauh lebih cepat dengan bantuan AI.

Bagi Nodeflux, perubahan ini juga memengaruhi cara kami membangun tim. Kami pernah punya tim sampai sekitar 150 orang, sementara sekarang sekitar 35 orang. Bukan semata-mata karena kami perusahaan AI, tetapi karena kami juga mengadopsi AI dalam pekerjaan sehari-hari. Kami menggunakan berbagai model dan tools AI untuk membuat tim menjadi lebih produktif.

Perubahan ini membuat fokus Nodeflux juga bergeser. Kami sekarang lebih banyak berada di software engineering, sementara porsi AI menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Kalau AI membuat software development semakin produktif, apakah perusahaan akhirnya tidak membutuhkan banyak orang?

Bukan begitu. AI tidak berarti perusahaan tidak membutuhkan manusia. Justru yang terjadi adalah produktivitas meningkat. Misalnya awalnya kita membutuhkan lima orang, kemudian dengan AI pekerjaan tersebut bisa dilakukan dua orang dengan produktivitas yang sama.

Bukan berarti dari lima menjadi nol. Tetapi produktivitas itu memang memberikan tekanan terhadap job position. Dan itu terasa di kita. Kita menjadi lebih hati-hati ketika ingin menambah orang karena kita harus melihat apakah kapasitas yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup dengan boosting dari AI.

Perubahan tersebut membuat cara perusahaan melihat kebutuhan talenta ikut berubah. Nodeflux sendiri saat ini memiliki sekitar 35 orang dalam timnya, tetapi jumlah tersebut menurutnya bukan semata karena Nodeflux perusahaan berbasis AI.

Sekarang yang penting adalah learning agility. Kemampuan untuk belajar A dengan cepat, kemudian belajar B, C, dan seterusnya. Termasuk punya curiosity untuk mempelajari sesuatu tanpa harus selalu disuruh

Meidy Fitranto

Talenta Masa Depan Tidak Harus Jago Coding

Lalu kemampuan apa yang paling penting dimiliki seseorang agar tetap relevan di era AI?

Kita bukan harus mengalahkan AI. Ketika manusia menciptakan mobil, kita tidak meminta anak kita berlari lebih cepat daripada mobil. Jadi bukan soal manusia harus lebih pintar daripada AI.

Menurut saya, sekarang yang penting adalah learning agility. Kemampuan untuk belajar A dengan cepat, kemudian belajar B, C, dan seterusnya. Termasuk punya curiosity untuk mempelajari sesuatu tanpa harus selalu disuruh.

Learning agility itu terdiri dari beberapa hal. Pertama rasa penasaran. Kemudian kemampuan menyerap informasi menjadi pengetahuan yang terstruktur. Setelah itu melakukan eksperimen berdasarkan pengetahuan tersebut. Ada juga kemampuan untuk learn to unlearn, yaitu melepaskan pengetahuan atau asumsi lama ketika kondisi sudah berubah.

Karena itu, Meidy tidak melihat bahwa semua orang harus belajar AI atau coding hanya karena AI berkembang cepat. Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar justru lebih fundamental dibanding menguasai satu teknologi tertentu.

Masa Depan Nodeflux

Apa yang paling membuat Anda khawatir sebagai CEO hari ini?

Future, unfortunate future. Kalau ditanya Nodeflux lima atau 10 tahun lagi seperti apa, saya sendiri tidak bisa membayangkannya.

Bukan karena tidak mau membuat visi. Kalau sekadar membuat cerita, gampang. Kita bisa bilang lima atau 10 tahun lagi akan seperti ini.

Tapi kalau benar-benar percaya pada prediksi tersebut, rasanya terlalu sulit. Dunia berubah terlalu cepat.

Karena itu, trajectory yang kita pikirkan tidak pernah lebih dari tiga tahun. Untuk perusahaan bahkan biasanya hanya setahun. Kita fokus memikirkan apa yang akan dilakukan dalam satu tahun ke depan.

Kalau melihat satu tahun ke depan, apa yang sedang dipersiapkan Nodeflux?

Kami sedang berusaha going global dengan produk-produk baru. Bukan berarti kami mau listing di bursa. [tertawa] Kami ingin mendapatkan pasar yang lebih luas.

Kalau dari sisi software, kami melihat produk yang kami punya seharusnya bisa berkompetisi dari sisi kualitas. Hanya saja, selama ini kami terlalu banyak fokus di pasar dalam negeri. Jadi sekarang kami ingin mencoba keluar dan melihat pasar yang lebih luas.

Di saat yang sama, kami juga sedang mencari ide produk baru yang kira-kira bisa menjadi next item di Nodeflux. Dan produk baru itu tidak harus Vision AI, karena untuk Vision AI sendiri kami sudah punya rumahnya.

Jadi sekarang kami juga sedang mengeksplorasi, kira-kira apa lagi yang bisa kami bangun dan menjadi produk berikutnya untuk Nodeflux.

Authors
8a2f585e8b002d82e070d5bdde1e8b41f5ce1ec0345c74b032f86cbf07f95573?s=80&d=mm&r=g

Siti Sarifah A

Founder & Chief Editor Gadgetdiva.id, Executive Editor Gizmologi


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca