Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Dua Kreator Indonesia Bersaing Dalam Ajang Huawei Film Awards 2020

0 705

Ajang kompetisi pembuatan film pendek, Huawei Film Awards (HFA) telah berlangsung mulai dari Desember 2019 lalu, dan kini sudah sampai pada puncaknya. Huawei Indonesia bekerja sama dengan London School of Public Relations and Business Institute mengadakan sebuah acara pada hari Kamis (5/3) untuk mengumumkan karya-karya terbaik dari Indonesia. Dengan tema “Empowering Your Possibilities”, HFA menerima total 117 karya film pendek, semua direkam menggunakan smartphone Huawei dari berbagai kreator di Asia Pasifik.

Dua hasil karya dari Indonesia berhasil memasuki 10 besar, yakni film pendek berjudul “Ero” karya mahasiswa LSPR Jakarta, dan Juhendi asal Serang, Banten dengan judul film “JALU”. Karya-karya tersebut merupakan dua perwakilan konten kreator dari Indonesia yang menerima apresiasi Top 10 Konten Kreator Huawei Film Awards, dengan JALU menjadi film terbaik untuk tingkat Indonesia.

Baca juga: Huawei Gelar Penghargaan Film Smartphone Pertama, Huawei Film Awards di Asia Pasifik

Penganugerahan Huawei Film Awards 2020

Huawei Film Awards
(Kiri – kanan): Sesi obrolan bersama Lo Khing Seng (Deputy Country Director, Huawei Consumer Business Group), Dr. Andre Ikhsano M.Si (Rektor LSPR Communication and Business Institute), Hanung Bramantyo (sutradara film & Drg. Romy Fibri (Komisioner LSF) yang dimoderasi oleh Prita Laura.

Acara dibuka oleh Syaifullah selaku Direktur Industri Film, Televisi dan Animasi, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ia menyampaikan sambutannya dengan memberikan apresiasi penuh atas acara ini. “Dengan perkembangan digital, tentunya kebutuhan untuk membuat konten semakin meningkat, terutama dengan adanya 5G nanti.” Dia menambahkan, pemerintah sangat mendukung kegiatan yang dilakukan seperti Huawei Film Awards. “Kalau bisa, tidak hanya talent di Jakarta, karena keragaman budaya tersebar di Indonesia. Contohnya seperti horror, tiap daerah punya horror sendiri yang bisa diangkat, mengingat hampir 10 besar film terbaik lokal selalu ada (film) horror.”

Bagi Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Business Group, storytelling sangat penting dalam proses membuat konten video, memungkinkan orang untuk membagikan cerita mereka. “Huawei membantu dengan konektivitas 5G dan AI. Kalau dulu perlu dilakukan rekayasa foto secara digital, kini dengan bantuan AI dari Huawei, rekayasa hasil video sudah bisa dihadirkan ke ponsel. Huawei Mate 30 Pro punya kemampuan slow-motion sampai 7680fps, saat kebanyakan ponsel lain hanya terbatas di 960fps. Huawei ingin men-trigger orang-orang supaya bisa terus membuat story story yang bagus. Kami fokus dalam teknologi dan membawa inovasi-inovasi baru, dengan harapan bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk negara.”

Kembali ke dua film pendek terbaik hasil karya tim dari Indonesia. Hanung Bramantyo sebagai salah satu sutradara film ternama Indonesia pun turut menyampaikan pendapatnya. “Kedua film pendek ini mampu mengangkat dengan baik kearifan lokal di Indonesia dengan caranya masing-masing, dan menunjukkan bahwa inspirasi dapat hadir dari lingkungan sekitar kita. Ini menjadi bukti juga kalau menciptakan karya tidak perlu lagi menunggu sampai punya budget besar dan banyak peralatan, mulai saja dengan kamera smartphone.”

Huawei Film Awards Melawan Hegemoni Perfilman Holywood

Drg. Rommy Fibri, Prita Laura, Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR (Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute) Lo Khing Seng, Syaifullah, S.E., M.Ec., Ph.D (Direktur Industri Film, Televisi dan Animasi, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Hanung Bramantyo sert Dr. Andre Ihsano M.Si sesaat setelah penanda tanganan buku “Melawan Hegemoni Perfilman Holywood”.

Pada kesempatan yang sama, diluncurkan sebuah buku dari Dr. Andre Ikhsano, Rektor LSPR Communication & Business Institute. Buku berjudul “Melawan Hegemoni Perfilman Holywood” membahas tentang bagaimana proses pembuatan film lokal Indonesia mulai produksi, distribusi hingga bagaimana film dikonsumsi oleh penonton, serta perkembangannya dari masa ke masa. “Dimulai dari film-film pendek sederhana ini, siapa tahu nantinya mereka dapat membuat karya yang mampu bersaing di bioskop.”

Menutup kesempatan diskusi, Khing Seng menyampaikan, “Kami berharap perhelatan HFA tahun ini dapat menginspirasi lebih banyak lagi talenta muda untuk berani berkarya, karena terbukti bahwa dengan perangkat yang kita gunakan sehari-hari dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Huawei sebagai perusahaan penyedia teknologi akan terus berinovasi dan memberikan produk yang mampu mendukung kreatifitas para sineas Indonesia. Sampai jumpa di Huawei Film Awards berikutnya.”