Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

BSA Rilis Panduan Atasi Ancaman Siber Selama Wabah Covid-19

0 375

Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, tak hanya kondisi kesehatan tubuh saja yang perlu kita perhatikan. Dengan diberlakukannya PSBB atau physical distancing, banyak dari masyarakat dituntut untuk bekerja dari rumah secara daring (online), dari yang mungkin sebelumnya tidak. Hal tersebut membuat kita lebih banyak mengakses data serta mengirim data pribadi untuk beragam keperluan.

Dengan begitu, ada risiko ancaman yang lebih besar dari sebelumnya untuk terjadinya kejahatan siber di era pandemi saat ini. Menurut buku elektronik yang disusun oleh BSA, The Software Alliance, lebih banyak perusahaan telah mengalami serangan kriminal siber yang mengambil keuntungan dari kondisi sekarang. Buku tersebut hadir sebagai panduan untuk menjawab tantangan keamanan siber.

BSA adalah badan pendukung terkemuka untuk industri perangkat lunak global diatas pemerintahan dan di pasar internasional. Beroperasi di lebih dari 60 negara, BSA memelopori program kepatuhan yang meningkatkan penggunaan perangkat lunak legal serta mengadvokasi kebijakan publik, mendorong inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital.
Baca: Inilah Risiko Perusahaan yang Pakai Software Bajakan

Panduan Digital Untuk Amankan Data Dari Ancaman Daring

buku digital bsa the software alliance

Dengan judul “COVID-19 dan Ancaman Siber di Asia Tenggara”, buku ini menjelaskan tantangan yang muncul di kawasan ASEAN sejak krisis virus korona dimulai, serta menawarkan saran tentang cara menghadapinya. Banyak bisnis di kawasan tersebut yang menjadi lebih rentan ancaman daring, tentunya dengan bertambahnya jumlah karyawan yang bekerja di luar jaringan perusahaan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk mencari celah, melalui metode seperti phising surat elektronik, malware, aplikasi yang disamarkan dan sejenisnya.

Tarun Sawney, Senior Director BSA mengatakan bahwa penting sekali bagi para eksekutif perusahaan untuk lebih memperhatikan keamanan siber, mengingat dampak masif yang ditimbulkan oleh kejahatan siber. “Sekarang ini ancaman meningkat, dan kawasan ASEAN sangat rentan untuk bertahan melawan, karena serangan-serangan yang tidak terlaporkan dan meluasnya penggunaan perangkat lunak tanpa izin di sini.” Ia berharap dokumen yang dirilis oleh BSA dapat digunakan sebagai panduan untuk mengarahkan bisnis serta staf yang bekerja jarak jauh ke arah yang lebih aman.

Baca juga: Tokopedia Dibobol, Data 91 Juta Pengguna Dijual di Darkweb

Buku elektronik tersebut menyajikan informasi lengkap, mulai dari taktik kejahatan siber dan saran bagi para eksekutif untuk melindungi karyawan mereka, sampai statistik terperinci yang dikumpulkan dari berbagai penelitian, termasuk dari anggota BSA seperti IBM dan McAfree. Statistik terdiri dari dampat kejahatan siber, pelanggaran data, sampai contoh beberapa kasus berat yang baru saja terjadi di kawasan ASEAN.

Buku “COVID-19 dan Ancaman Siber di Asia Tenggara” yang dirilis oleh BSA ini dapat diunduh secara gratis di situs cyberfraudprevention-bsa.com, tersedia dalam tiga bahasa; Inggris, Vietnam serta Bahasa Indonesia. Selain tips, buku elektronik ini juga mencakup pesan dari toko pemerintah terkait di Filipina, Thailand, Indonesia dan Vietnam, yang mengkonfirmasi tingginya ancaman kejahatan siber di masing-masing wilayah, serta tindakan yang direkomendasikan.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Henri Subiakto juga menyebutkan jika perusahaan dan masyarakat harus memastikan untuk memliki kesadaran terhadap cyber security. “Aktivitas yang semakin banyak dilakukan secara online harus diimbangi dengan upaya mempertahankan keamanan informasi yang menjadi semakin penting. Kami berharap perusahaan-perusahaan mengambil sebanyak mungkin langkah pencegahan untuk melindungi bisnis mereka dari serangan siber yang sangat berbahaya dan merugikan,” tutup Henri.