OpenAI resmi menghadirkan ChatGPT untuk Remaja, layanan khusus dirancang untuk pengguna yang masih berusia di bawah 18 tahun. Versi ini membawa sejumlah perlindungan tambahan, fitur pembelajaran, serta kontrol memungkinkan orang tua ikut mendampingi penggunaan AI di rumah.
Peluncuran tersebut dilakukan di tengah meningkatnya penggunaan AI oleh kalangan anak muda. Data OpenAI mengungkap, sembilan dari sepuluh pengguna remaja memakai ChatGPT setiap minggu.
Baca Juga: CEO Baru Apple John Ternus Dikabarkan Siapkan Perombakan Besar
Adapun anak muda memakai ChatGPT untuk berbagai keperluan, mulai dari membantu proses belajar hingga mendukung produktivitas sehari-hari. Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, mengatakan perusahaan ingin memastikan remaja tetap bisa memanfaatkan AI untuk belajar tanpa mengabaikan aspek keamanan.
“Kami baru saja meluncurkan ChatGPT untuk Remaja, yaitu versi ChatGPT yang memiliki perlindungan dan pengaturan keamanan yang aktif secara otomatis,” dalam sesi acara bersama media di Jakarta, (30/9/2026).
Menurut Sandy, OpenAI secara khusus merancang pengalaman tersebut agar sesuai dengan kebutuhan pengguna yang masih remaja.
“Kami percaya, desain produk harus mempertimbangkan kebutuhan remaja secara khusus, sehingga mereka tetap bisa memperoleh manfaat AI untuk belajar, mengembangkan keterampilan baru, mengeksplorasi berbagai konsep, hingga mempersiapkan diri masuk universitas atau dunia kerja.”
Mode Belajar Jadi Fitur Utama ChatGPT untuk Remaja

Salah satu fitur yang menjadi fokus OpenAI adalah Mode Belajar (Study Mode). Fitur ini dirancang untuk membantu pengguna memahami materi pelajaran, bukan sekadar memberikan jawaban instan.
“Study Mode dirancang agar ChatGPT tidak hanya memberikan jawaban secara langsung. Jika sistem mengenali bahwa seseorang sedang belajar, ChatGPT akan membantu pengguna memahami proses berpikir di balik sebuah jawaban, bukan sekadar memberikan hasil akhir,” jelas Sandy.
Dalam sesi peluncuran, Sandy menjelaskan bahwa ChatGPT akan berupaya mengarahkan pengguna untuk memahami proses berpikir di balik suatu jawaban.
Pendekatan serupa juga dijelaskan OpenAI dalam peluncuran global ChatGPT untuk Remaja. Perusahaan menyebut fitur tersebut dirancang untuk membantu remaja berpikir kritis, memperdalam pemahaman, dan tetap terlibat dalam proses belajar aktif.
ChatGPT untuk Remaja Ada Pengingat Istirahat hingga Jam Tenang

Selain Mode Belajar, ChatGPT untuk Remaja juga dibekali sejumlah fitur tambahan yang mendukung penggunaan AI secara lebih sehat dan terarah.
Fitur tersebut meliputi:
- Pengingat Istirahat (Break Reminders)
- Jam Tenang (Quiet Hours)
- Pengawasan Orang Tua (Parental Controls)
- Perlindungan konten sesuai usia
Melalui fitur Pengawasan Orang Tua, orang tua dapat menghubungkan akun mereka dengan akun remaja untuk mengelola sejumlah pengaturan tertentu. Namun OpenAI menegaskan bahwa orang tua tidak dapat membaca isi percakapan anak.
Kebijakan tersebut juga dijelaskan dalam dokumentasi resmi OpenAI yang menyebut pengawasan orang tua tidak memberikan akses ke riwayat percakapan maupun aktivitas real-time remaja.
Perlindungan Aktif Secara Otomatis

OpenAI menyebut perlindungan tambahan akan aktif secara otomatis bagi pengguna yang teridentifikasi berusia di bawah 18 tahun. Sistem juga menerapkan pembatasan pada sejumlah kategori konten sensitif dan menghadirkan pendekatan yang lebih hati-hati untuk topik tertentu.
Menurut Sandy, mayoritas remaja menggunakan AI untuk tujuan yang positif.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh remaja yang menggunakan ChatGPT memanfaatkannya untuk belajar. Hal yang sama juga terjadi pada banyak pengguna dewasa,” ucap Sandy.
Karena itu, OpenAI menilai pengembang teknologi, orang tua, dan pendidik perlu bekerja bersama agar AI dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi generasi muda.
OpenAI Akui 53 Foto Pengguna ChatGPT Bocor ke Situs Hosting

Di sisi lain, OpenAI mengungkap insiden baru melibatkan agen AI di lingkungan riset internal perusahaan, di mana 53 gambar milik pengguna ChatGPT sempat terkirim ke layanan hosting gambar pihak ketiga tanpa sepengetahuan tim OpenAI.
Kasus ini terungkap saat raksasa kecerdasan buatan (AI) tersebut melakukan investigasi lanjutan pasca kasus serupa yang melibatkan Hugging Face pada Juli 2026.
Perusahaan mengungkap telah mengidentifikasi 53 kasus melibatkan gambar pengguna ChatGTP tersebut, dan hingga kini masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk memahami penyebab serta dampaknya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Sabtu (26/9/2026).
Raksasa itu juga menyebut AI agent di lingkungan riset mengirim data training dan evaluasi ke layanan pihak ketiga, padahal seharusnya data tersebut tidak dibagikan ke luar sistem.
Gambar-gambar terdampak berasal dari akun pengguna sebelumnya mengizinkan datanya dipakai untuk peningkatan model, di mana data tersebut sudah dilepaskan dari identitas akun dan melewati filter privasi sebelum dikirim, namun tetap berakhir di situs hosting publik sebagai tautan yang tidak terdaftar secara publik.
Meski tidak terdaftar, tautan tersebut tetap bisa ditemukan siapa pun yang mengaksesnya. Perusahaan menyebut praktik ini sebagai penggunaan data tidak pantas, dan menyatakan insiden terjadi sebelum perusahaan menerapkan sejumlah pengamanan tambahan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

