Cisco: Utang Infrastruktur AI Jadi Ancaman Nyata bagi Perusahaan Indonesia

3 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Temuan terbaru Cisco lewat AI Readiness Index 2025 menunjukkan bahwa adopsi AI yang agresif tanpa fondasi infrastruktur yang memadai justru berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang. Cisco menyebut kondisi ini sebagai AI Infrastructure Debt, atau utang infrastruktur AI, yang bisa menggerus nilai bisnis alih-alih menciptakannya.

Kecerdasan buatan semakin cepat diadopsi oleh berbagai sektor di Indonesia. Dari layanan publik hingga korporasi besar, AI kini dianggap sebagai motor baru efisiensi dan pertumbuhan. Namun, di balik euforia tersebut, muncul persoalan fundamental yang kerap luput dari perhatian yaitu kesiapan infrastruktur.

Dalam konteks Indonesia, risikonya tidak kecil. Sekitar 40 persen organisasi disebut berpotensi kehilangan value karena keputusan infrastruktur yang kurang tepat. Isu ini menjadi sorotan utama dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026, yang mempertemukan pelaku industri, regulator, dan praktisi teknologi.

Baca Juga: Registrasi Kartu SIM Berbasis Biometrik Diresmikan, Cegah Kejahatan Digital

Kesenjangan Kesiapan Infrastruktur AI di Indonesia

Cisco membagi organisasi global ke dalam beberapa kategori, dengan AI Pacesetters berada di level teratas. Kelompok ini dinilai berhasil karena membangun fondasi infrastruktur sejak awal, mulai dari jaringan, daya, hingga keamanan. Sebaliknya, banyak organisasi lain, termasuk di Indonesia, masih tertinggal di area krusial tersebut.

Data menunjukkan hanya 29 persen organisasi di Indonesia yang merasa jaringannya sudah optimal untuk beban kerja AI. Di sisi lain, hampir separuh perusahaan memprediksi lonjakan beban kerja AI lebih dari 50 persen dalam beberapa tahun ke depan. Ketimpangan ini berisiko menciptakan bottleneck, peningkatan biaya operasional, hingga celah keamanan.

Masalah lain muncul dari implementasi agen AI yang lebih cepat dibandingkan kesiapan pengamanannya. Meski 97 persen organisasi di Indonesia sudah menggunakan agen AI, hanya sebagian kecil yang mampu mengamankannya secara menyeluruh.

Strategi Cisco dan Tantangan Implementasi di Lapangan

Cisco mendorong pendekatan yang menempatkan jaringan dan keamanan sebagai fondasi utama AI, bukan sekadar pelengkap. Optimalisasi berkelanjutan dan perencanaan daya juga disebut sebagai pembeda utama antara pemimpin AI dan pengikut.

Namun, pendekatan ini tentu menuntut investasi besar, perencanaan matang, dan kesiapan sumber daya manusia. Bagi banyak organisasi, terutama di luar perusahaan besar, tantangan biaya dan kompleksitas implementasi masih menjadi penghambat nyata.

Pada akhirnya, AI bukan sekadar soal seberapa cepat diadopsi, melainkan seberapa siap infrastrukturnya menopang pertumbuhan jangka panjang. Tanpa itu, AI berisiko menjadi beban baru, bukan keunggulan kompetitif.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version